Debut MotoGP di Bulan Ramadan, Toprak Razgatlioglu Atur Ulang Ritme Fisik
Toprak Razgatlioglu menjalani debut MotoGP 2026 di Thailand saat Ramadan. Ia berbagi cara berpuasa di tengah tuntutan fisik balap.

JAKARTA – Debut Toprak Razgatlioglu di MotoGP 2026 bukan sekadar transisi teknis dari Superbike ke kelas utama balap motor dunia. Ada dimensi spiritual yang menyertainya. Pembalap asal Turki itu memulai akhir pekan balapan perdananya di Thailand 1 Maret nanti bertepatan dengan bulan suci Ramadan, situasi yang menghadirkan tantangan fisik sekaligus religius.
Sebagai satu-satunya pembalap Muslim di grid musim ini, Razgatlioglu menghadapi dinamika unik: menjaga komitmen ibadah puasa di tengah tuntutan fisik ekstrem MotoGP.
Adaptasi Ganda: Motor dan Momentum Spiritual
Bergabung dengan tim Pramac Racing bermitra dengan Yamaha, Razgatlioglu datang ke MotoGP dengan reputasi besar. Tiga gelar juara dunia World Superbike membuat namanya masuk radar sebagai rookie paling dinanti musim 2026.
Namun, tantangan teknis langsung menyambutnya. Adaptasi terhadap motor prototipe MotoGP dan karakter ban Michelin menjadi pekerjaan rumah utama. Dalam tes pramusim di Buriram, ia mengaku masih kesulitan membangun kepercayaan terhadap grip ban depan.
“Saya harus lebih sering memahami batasnya, mungkin dengan lebih banyak merasakan limitnya,” ujarnya dalam wawancara resmi MotoGP.
Di luar aspek teknis, Ramadan menambah lapisan kompleksitas tersendiri.
Strategi Puasa di Tengah Balapan
Dalam Islam, puasa Ramadan merupakan salah satu rukun utama yang dijalankan sejak fajar hingga matahari terbenam. Bagi atlet elite seperti Razgatlioglu, ini berarti pengaturan ulang strategi nutrisi dan energi.
Ia mengungkapkan sempat menjalankan puasa di awal Ramadan, termasuk saat sesi tes. Namun menjelang Grand Prix Thailand, ia memutuskan untuk kembali makan dan minum demi menjaga performa.
“Hari pertama saya menjalani Ramadan. Tapi setelah kami mengendarai motor, saya butuh energi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa setelah akhir pekan balapan usai, ia akan kembali ke Turki dan melanjutkan puasanya.
Dalam praktiknya, Islam memang memberikan keringanan bagi musafir atau mereka yang menghadapi kondisi berat, termasuk atlet profesional. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia olahraga global juga menunjukkan inklusivitas lebih besar terhadap atlet Muslim. Liga sepak bola seperti Premier League bahkan menyediakan jeda khusus bagi pemain untuk berbuka puasa.
Debut MotoGP: “Mimpi yang Jadi Nyata”
Terlepas dari ekspektasi hasil yang realistis, Razgatlioglu menyebut momen ini sebagai pencapaian personal terbesar dalam kariernya.
“Saya sangat bersemangat. Setelah Superbike, perbedaannya sangat besar di sini. Tapi saya sangat bahagia karena ini mimpi yang jadi nyata,” ujarnya.
MotoGP memang menghadirkan tekanan eksposur media dan tuntutan teknis jauh lebih tinggi dibandingkan Superbike. Ia mengakui masih fokus pada proses belajar, bukan target podium instan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


