Kisah Jens Castrop, Pemain Berdarah Jerman di Timnas Korea
Lahir dari ayah Jerman dan ibu Korea, Jens Castrop memilih membela Korea Selatan. Gelandang Borussia Monchengladbach ini menatap mimpi tampil di Piala Dunia.
JAKARTA – Jens Castrop menapaki jalan yang tidak biasa dalam sepak bola Korea Selatan. Lahir dari ayah Jerman dan ibu Korea, gelandang muda ini menjadi salah satu simbol perubahan wajah sepak bola Negeri Ginseng yang semakin terbuka pada keberagaman.
Castrop sebelumnya membela Jerman di berbagai kelompok usia. Namun pada 2025 ia mengambil keputusan besar: mengalihkan kewarganegaraan sepak bolanya untuk memperkuat tim nasional Korea Selatan. Debutnya terjadi pada tahun yang sama ketika ia masuk sebagai pemain pengganti dalam kemenangan 2-0 Korea atas Amerika Serikat.
Keputusan itu bukan sekadar langkah karier. Castrop juga menjadi salah satu dari sedikit pemain berdarah campuran yang pernah mengenakan seragam tim nasional Korea. Ia mengikuti jejak Jang Daeil yang tampil pada akhir 1990-an.
Perjalanan Castrop menuju tim nasional Korea sebenarnya sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Pada 2023, namanya mulai diperhatikan Federasi Sepak Bola Korea ketika tim masih ditangani Jurgen Klinsmann. Meski Klinsmann tidak lama bertugas, komunikasi dengan Castrop tetap berlanjut di era pelatih Hong Myung-bo.
Saat itu Castrop masih bermain untuk FC Nürnberg di kasta kedua Liga Jerman. Setelah pindah ke Borussia Monchengladbach dan menjalani debut di Bundesliga, ia akhirnya memberi kepastian kepada Hong Myung-bo bahwa dirinya siap memperkuat Korea Selatan.
Di klubnya, Castrop dikenal sebagai pemain serbabisa. Ia berposisi utama sebagai gelandang, tetapi juga kerap dimainkan sebagai wing-back di kedua sisi lapangan. Kemampuan membawa bola ke depan dan stamina yang kuat menjadi salah satu keunggulannya.
Menurut Castrop, gaya bermainnya memang sedikit berbeda dari kebanyakan gelandang. Ia senang melakukan progresi bola ke depan, membantu serangan, namun tetap mampu turun membantu pertahanan ketika tim membutuhkan.
Perkembangan Castrop di Borussia Monchengladbach juga tidak lepas dari peran pelatih Eugen Polanski. Ia menyebut sang pelatih memberi kepercayaan besar kepada pemain muda untuk berkembang.
“Pelatih memberi kami kepercayaan dan membiarkan pemain muda belajar, bahkan dari kesalahan. Itu sangat penting bagi perkembangan pemain,” ujarnya.
Di tim nasional Korea Selatan, Castrop mengaku mendapat dukungan penuh dari rekan-rekan setimnya. Banyak pemain yang fasih berbahasa Inggris, bahkan beberapa juga bisa berbahasa Jerman, sehingga membuat proses adaptasinya berjalan lebih mudah.
Ia juga sedang serius mempelajari bahasa Korea. Setiap pekan ia meluangkan waktu beberapa jam untuk belajar agar bisa lebih cepat menyatu dengan tim.
Bagi Castrop, identitas Korea bukan sesuatu yang baru. Sejak kecil ia sudah menyadari bahwa dirinya memiliki dua latar budaya.
“Saya selalu tahu bahwa saya bukan hanya orang Jerman. Setidaknya setengah dari diri saya adalah Korea,” katanya.
Karena itu, kesempatan membela Korea Selatan memiliki makna khusus baginya. Ia berharap kehadirannya bisa menjadi contoh bahwa sepak bola Korea juga terbuka bagi latar belakang yang beragam.
Kini Castrop menatap target berikutnya: menembus skuad Korea Selatan untuk Piala Dunia 2026. Baginya, mengenakan seragam Korea di panggung sepak bola terbesar dunia adalah mimpi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Untuk mencapainya, Castrop memilih fokus pada satu hal: terus tampil maksimal bersama Borussia Monchengladbach dan membuktikan dirinya layak mendapat tempat di tim nasional. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


