Jejak Emas Sepak Bola Suriname dan Mimpi Lolos Piala Dunia 2026
Suriname memburu tiket Piala Dunia 2026. Di balik ambisi itu, tersimpan sejarah kejayaan klub-klub Suriname pada era 1970–1980-an di kompetisi Concacaf.
JAKARTA – Ambisi Suriname menembus panggung Piala Dunia 2026 masih terbuka. Meski kalah 1-3 dari Guatemala pada laga terakhir kualifikasi zona CONCACAF, negara kecil di Amerika Selatan itu masih memiliki peluang melalui FIFA Play-off Tournament.
Jika mampu melewati dua pertandingan krusial di Monterrey pada akhir Maret, Suriname berpeluang mencatat sejarah: tampil untuk pertama kalinya di panggung Piala Dunia.
Namun perjalanan menuju mimpi tersebut tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang sepak bola negara itu, terutama kejayaan klub-klubnya pada era 1970-an hingga awal 1980-an.
Jalan Terakhir Menuju Piala Dunia
Suriname, yang dikenal dengan julukan Natio, akan memulai babak play-off dengan menghadapi Bolivia pada 26 Maret di Estadio BBVA.
Jika menang, mereka akan bertemu Iraq pada 31 Maret untuk memperebutkan satu tiket menuju turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Bagi Suriname, keberhasilan lolos ke Piala Dunia akan menjadi tonggak penting bagi perkembangan sepak bola nasional yang dalam satu dekade terakhir menunjukkan kemajuan signifikan.
Era Keemasan Klub Suriname
Perkembangan sepak bola Suriname sebenarnya pernah mencapai masa gemilang pada dekade 1970-an hingga awal 1980-an. Klub-klub dari negara ini bahkan mampu bersaing di level regional.
Pada 1972, klub SV Robinhood mencatat sejarah sebagai tim Suriname pertama yang menembus final CONCACAF Champions' Cup, meski akhirnya kalah tipis 0-1 dari klub Honduras, Club Olimpia.
Setahun kemudian, klub SV Transvaal justru mencetak sejarah lebih besar dengan menjuarai kompetisi tersebut. Transvaal kembali mencapai final pada 1974 dan 1975, meskipun harus mengakui keunggulan CSD Municipal dari Guatemala dan Atlético Español dari Meksiko.
Sementara itu, Robinhood kembali merasakan pahitnya final ketika kalah dari CD Águila pada 1976 dan Club América pada 1977.
Puncak kejayaan Suriname di level klub terjadi pada 1981 ketika Transvaal kembali menjadi juara setelah mengalahkan Atlético Marte dari El Salvador dengan skor 2-1.
Secara keseluruhan, dalam kurun waktu 1972 hingga 1983, klub-klub Suriname tampil di sembilan final kompetisi klub terbesar Concacaf—sebuah pencapaian yang bahkan jarang terjadi di kawasan tersebut.
Kisah Generasi Legendaris
Mantan pelatih Suriname, Dean Gorre, menyebut para pemain Suriname era tersebut memiliki kualitas yang mampu bersaing dengan klub-klub top Belanda.
Menurutnya, ketika klub-klub Suriname melakukan laga persahabatan di Belanda, mereka mampu bermain seimbang dengan tim-tim besar seperti AFC Ajax dan Feyenoord.
Gorre bahkan mengisahkan pengalaman ayahnya yang pernah membela Suriname melawan Belanda dalam ajang Koninkrijksspelen, turnamen yang mempertemukan tim dari Belanda, Suriname, dan Curaçao.
Dalam salah satu pertemuan, Suriname bahkan mampu menahan imbang dan mengalahkan Belanda. Pada turnamen itu pula ayah Gorre pernah berhadapan dengan Dick Advocaat, yang kemudian dikenal sebagai pelatih sepak bola ternama.
Perjuangan di Kualifikasi Piala Dunia
Di level tim nasional, prestasi terbaik Suriname sebelum era modern terjadi dalam kualifikasi menuju Piala Dunia 1978 .
Kala itu, Suriname berhasil melewati zona Karibia setelah menyingkirkan Guyana national football team dan Trinidad and Tobago national football team.
Namun perjalanan mereka terhenti di CONCACAF Championship 1977 setelah mengalami beberapa kekalahan tipis dari Guatemala, Kanada, El Salvador, dan Haiti, serta kalah telak dari Meksiko.
Turnamen tersebut dihuni sejumlah pemain legendaris, seperti striker Meksiko Hugo Sánchez, playmaker El Salvador Jorge , serta ikon Haiti Emmanuel Sanon.
Membangun Fondasi Baru Sepak Bola
Kini, sebagian besar pemain tim nasional Suriname berasal dari diaspora yang lahir di Eropa namun memiliki darah Suriname.
Di sisi lain, upaya membangun fondasi domestik mulai dilakukan melalui kompetisi profesional Suriname Major League, yang resmi dimulai pada 2024 dengan dukungan program FIFA melalui skema FIFA Forward.
Liga profesional ini diharapkan mampu melahirkan generasi baru pemain lokal yang bisa mengulang kejayaan klub-klub seperti Robinhood dan Transvaal.
Menurut Gorre, langkah menuju profesionalisme memang tidak mudah bagi negara kecil seperti Suriname. Namun keberadaan liga tersebut menjadi fondasi penting bagi masa depan sepak bola nasional.
Jika tim nasional mampu meraih dua kemenangan di Monterrey pada Maret ini, momentum itu bisa menjadi titik balik kebangkitan sepak bola Suriname—sekaligus membuka kembali lembaran kejayaan yang pernah ditulis klub-klub mereka setengah abad lalu. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


