Advertisement
Olahraga

Kevin De Bruyne, Otak Permainan Belgia di Piala Dunia 2026

Kevin De Bruyne menjadi maestro lini tengah Belgia lewat visi, assist, dan kepemimpinan.

TIMES Indonesia,
Kevin De Bruyne, Otak Permainan Belgia di Piala Dunia 2026
De Bruyne menjadi motor permainan Timnas Belgia.
A-AA+

JAKARTA Di tengah generasi emas Belgia yang perlahan menua, satu nama tetap berdiri sebagai pusat gravitasi permainan: Kevin De Bruyne. Bukan sekadar gelandang kreatif, ia adalah “arsitek” yang mengatur tempo, membaca ruang, dan menghidupkan ritme permainan.

Menjelang Piala Dunia 2026, De Bruyne kembali menemukan bentuk terbaiknya setelah pulih dari cedera, memberi harapan baru bagi ambisi Belgia di panggung global.

Advertisement

Peran De Bruyne tak pernah sederhana. Ia bukan hanya penyedia assist, tetapi juga ancaman nyata lewat tembakan jarak jauh dan kemampuan mencetak gol di momen krusial. Dalam sistem permainan modern, pemain seperti De Bruyne menjadi langka: gelandang komplet dengan visi, presisi umpan, dan kecerdasan taktis di atas rata-rata.

Dari Genk ke Panggung Dunia

Karier De Bruyne tidak dibangun dalam semalam. Ia memulai dari akademi Genk sebelum sempat “tersesat” di Chelsea, klub yang gagal memaksimalkan potensinya. Namun, justru dari fase itu, De Bruyne menempa diri. Di Wolfsburg, ia menjelma menjadi salah satu kreator terbaik Eropa, bahkan sempat memimpin daftar assist di lima liga top Eropa—mengungguli nama-nama besar seperti Lionel Messi dan Cesc Fabregas.

Momentum itu menjadi titik balik. Kepindahannya ke Manchester City membuka era keemasan. Bersama Pep Guardiola, De Bruyne berkembang menjadi motor permainan yang nyaris sempurna. Ia menjadi bagian penting dari dominasi City di Premier League, termasuk enam gelar liga dalam tujuh musim, serta pencapaian puncak berupa trofi Liga Champions 2023.

Setelah satu dekade di Inggris, De Bruyne melanjutkan petualangan ke Napoli. Meski sempat terganggu cedera hamstring, ia kembali menunjukkan kualitasnya—bahwa kelas pemain sepertinya tidak lekang oleh waktu.

“Otak Sepak Bola” yang Diakui Dunia

Kemampuan De Bruyne bukan sekadar statistik. Banyak pelatih dan legenda sepak bola mengakui kecerdasannya di lapangan.

Advertisement

Thierry Henry pernah menyebut De Bruyne sebagai pemain dengan “otak sepak bola terbaik” yang pernah ia lihat. Sementara Pep Guardiola menilai De Bruyne sebagai pemain yang “bisa melakukan segalanya.” Bahkan Xavi menyandingkannya dengan Lionel Messi sebagai sosok pembeda dalam tim besar.

Pengakuan tersebut tidak berlebihan. Dalam banyak situasi, De Bruyne adalah pemain yang mampu mengubah jalannya pertandingan hanya dengan satu sentuhan atau satu keputusan.

Pilar Belgia Menuju Piala Dunia 2026

Di level tim nasional, De Bruyne telah menjadi tulang punggung Belgia sejak 2012. Dengan lebih dari 100 caps dan puluhan gol, ia menjadi bagian penting dari perjalanan Belgia di berbagai turnamen besar.

Catatan terbaiknya di Piala Dunia datang pada 2018, saat Belgia finis di posisi ketiga. Gol spektakulernya ke gawang Brasil di perempat final menjadi salah satu momen ikonik turnamen tersebut. Namun, kegagalan di Qatar 2022 menjadi pengingat bahwa generasi ini membutuhkan pembaruan.

Kini, di usia yang tak lagi muda, De Bruyne mengambil peran berbeda: bukan hanya playmaker, tetapi juga pemimpin. Ia menjadi figur sentral yang menghubungkan pengalaman dengan energi pemain muda Belgia.

Data kualifikasi menunjukkan Belgia masih kompetitif. Mereka lolos tanpa kekalahan, mencetak 29 gol dan hanya kebobolan tujuh kali. Angka ini menegaskan bahwa fondasi tim masih kuat—dan De Bruyne tetap menjadi pusatnya.

Lebih dari Sekadar Pemain

Di luar lapangan, De Bruyne juga dikenal aktif dalam kegiatan sosial. Ia pernah meluncurkan lini pakaian dengan sebagian hasilnya disumbangkan untuk Special Olympics, organisasi yang mendukung atlet dengan disabilitas intelektual.

Sisi ini memperlihatkan bahwa De Bruyne bukan hanya sosok penting di lapangan, tetapi juga figur publik dengan kepedulian sosial.

Menuju Nada Terakhir di Panggung Dunia?

Piala Dunia 2026 kemungkinan menjadi salah satu panggung terakhir De Bruyne di level tertinggi. Namun, alih-alih meredup, ia justru terlihat siap memainkan “simfoni” terbaiknya.

Bagi Belgia, harapan itu masih ada—selama Kevin De Bruyne tetap menjadi dirigen di lini tengah. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Wahyu Nurdiyanto
PenulisWahyu NurdiyantoWartawan Sertifikasi Madya, lulusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016 sebagai editor.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia