Advertisement
Olahraga

Luka Modric dan Ambisi Terakhir di Piala Dunia 2026

Luka Modric bersiap tampil di Piala Dunia 2026 bersama Kroasia. Pengalaman, statistik, dan ambisinya jadi kunci mengejar sejarah.

TIMES Indonesia,
Luka Modric dan Ambisi Terakhir di Piala Dunia 2026
Luka Modric akan memimpin Timnas Kroasia di Piala Dunia 2026.
A-AA+

JAKARTA Di tengah dominasi pemain muda dalam sepak bola modern, nama Luka Modric justru tetap relevan sebagai simbol konsistensi dan kelas. Menjelang Piala Dunia 2026, gelandang veteran Kroasia itu kembali menjadi tumpuan, membawa pengalaman panjang dan visi permainan yang masih sulit ditandingi.

Turnamen di Amerika Utara berpotensi menjadi panggung terakhir Modric di level global. Namun, alih-alih sekadar “perpisahan”, kapten Kroasia itu justru datang dengan ambisi yang belum tuntas: mengangkat trofi Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah negaranya.

Advertisement

Konsistensi Kroasia dan Peran Sentral Modric

Dalam dua edisi terakhir Piala Dunia, Kroasia menunjukkan konsistensi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Runner-up pada 2018 dan peringkat ketiga pada 2022 menjadi bukti bahwa generasi emas mereka mampu bersaing di level tertinggi.

Di balik capaian itu, peran Modric tidak tergantikan. Dengan hampir 200 caps bersama tim nasional, ia bukan hanya pengatur ritme permainan, tetapi juga motor kepemimpinan di lapangan.

Luka Modric

Pelatih Kroasia, Zlatko Dalic, menegaskan pentingnya sosok Modric dalam tim. Ia menyebut sang kapten sebagai “mesin tim” yang tetap menunjukkan energi luar biasa meski usia tak lagi muda, sekaligus menjadi teladan profesionalisme bagi pemain lain.

Dari Zagreb ke Puncak Eropa

Karier Modric dibangun melalui proses panjang. Ia memulai dari Dinamo Zagreb sebelum menembus panggung Premier League bersama Tottenham Hotspur. Puncaknya terjadi saat memperkuat Real Madrid, di mana ia menjelma menjadi jantung permainan tim selama lebih dari satu dekade.

Advertisement

Selama periode tersebut, Modric mengoleksi enam gelar Liga Champions dan berbagai trofi domestik maupun internasional. Ia bahkan tercatat sebagai salah satu pemain paling berprestasi dalam sejarah klub.

Legenda sepak bola Kroasia, Zvonimir Boban, pernah menggambarkan Modric sebagai pemain dengan kemampuan teknis dan taktis luar biasa, yang mampu membaca situasi permainan lebih cepat dibanding pemain lain.

Hal senada juga diungkapkan Zinedine Zidane. Mantan pelatih Real Madrid itu menyebut Modric sebagai “denyut nadi tim”, sosok yang membuat permainan menjadi lebih sederhana bagi rekan-rekannya.

Evolusi di Serie A dan Daya Tahan Karier

Memasuki fase akhir karier, Modric memilih tantangan baru di Italia bersama AC Milan. Keputusan itu bukan sekadar transisi, tetapi juga pembuktian bahwa kualitasnya masih relevan di level kompetitif.

Carlo Ancelotti bahkan menilai Modric sebagai gelandang modern yang komplet dan bisa bermain di berbagai posisi. Profesionalisme dan kecintaannya terhadap sepak bola disebut menjadi faktor utama yang menjaga performanya tetap stabil.

Statistik memperkuat narasi tersebut. Selain menjadi pemain dengan caps terbanyak dalam sejarah Kroasia, Modric juga telah mengoleksi 28 trofi bersama Real Madrid—terbanyak dalam sejarah klub—serta meraih penghargaan pemain terbaik Kroasia sebanyak 12 kali.

Piala Dunia 2018: Puncak Karier Individual

Jika ada satu momen yang mendefinisikan Modric, maka itu adalah Piala Dunia 2018 di Rusia. Ia memimpin Kroasia hingga final, mencetak gol penting, dan tampil konsisten sepanjang turnamen.

Meski kalah dari Prancis di partai puncak, Modric tetap dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen (Golden Ball). Penghargaan tersebut menegaskan statusnya sebagai salah satu gelandang terbaik dalam sejarah sepak bola.

Tantangan di Piala Dunia 2026

Di Piala Dunia 2026, Kroasia tergabung di Grup L bersama Inggris, Ghana, dan Panama. Secara komposisi, grup ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi Kroasia untuk kembali melangkah jauh.

Dengan pengalaman dua turnamen terakhir, Modric dan rekan-rekannya diyakini masih memiliki kapasitas untuk menciptakan kejutan. Target mereka jelas: melampaui capaian 2018 dan membawa pulang trofi.

Lebih dari Sekadar Pemain

Bagi banyak pihak, Modric bukan sekadar pesepak bola. Sergio Ramos bahkan menyebutnya sebagai “genius yang mengubah sepak bola menjadi seni”, sosok yang akan selalu dikenang dalam sejarah Real Madrid.

Warisan Modric tidak hanya diukur dari trofi, tetapi juga dari cara ia bermain—mengandalkan kecerdasan, teknik, dan ketenangan dalam mengontrol permainan.

Kini, dengan satu kesempatan terakhir di panggung terbesar, Luka Modric berdiri di persimpangan antara sejarah dan perpisahan. Jika Piala Dunia 2026 benar menjadi bab penutup, maka ia berpeluang menutup karier internasionalnya dengan kisah yang nyaris sempurna. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Wahyu Nurdiyanto
PenulisWahyu NurdiyantoWartawan Sertifikasi Madya, lulusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016 sebagai editor.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia