Drama Final Copa del Rey: Sociedad Kalahkan Atletico Madrid via Penalti
Real Sociedad juara Copa del Rey 2026 usai menaklukkan Atletico Madrid lewat adu penalti. Matarazzo raih trofi pertama dalam kariernya.
JAKARTA – Real Sociedad menutup musim dengan lonjakan performa yang tak terduga. Dari tim yang sempat berada di batas zona degradasi, klub asal Basque itu kini resmi menyandang status juara Copa del Rey 2026 setelah menaklukkan Atletico Madrid melalui drama adu penalti, Sabtu waktu setempat atau Minggu (19/4/2026) dini hari.
Keberhasilan Real Sociedad juara Copa del Rey menjadi representasi transformasi cepat yang terjadi di bawah kendali pelatih asal Amerika Serikat, Pellegrino Matarazzo. Baru empat bulan menangani tim sejak Desember, Matarazzo langsung mempersembahkan trofi perdana dalam karier kepelatihannya.
“Ini perjalanan yang luar biasa, dan perasaan saya ini bisa menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar,” ujar Matarazzo. Ia menambahkan, “Anda bisa membayangkan kesuksesan dan percaya pada pemain, tetapi sampai Anda benar-benar melewati garis akhir, Anda belum merasakannya.”
Laga final berlangsung ketat sejak awal. Sociedad bahkan mencetak gol tercepat dalam sejarah final Copa del Rey hanya dalam 14 detik melalui sundulan Ander Barrenetxea. Skema sederhana—bola panjang dari lini belakang ke sisi kanan yang disambut umpan silang Gonçalo Guedes—menjadi titik awal tekanan terhadap lini pertahanan Atletico.
Namun, Atletico Madrid merespons cepat. Ademola Lookman menyamakan skor pada menit ke-19, melanjutkan kontribusi impresifnya sejak bergabung di paruh musim. Gol tersebut menjadi yang ketujuh bagi pemain asal Nigeria itu bersama Atletico.
Sociedad kembali unggul jelang turun minum lewat penalti Mikel Oyarzabal, setelah kiper Atletico, Juan Musso, melakukan pelanggaran di kotak terlarang. Oyarzabal menunjukkan reputasinya sebagai algojo penalti yang klinis, mengulang ketenangan yang pernah ia tunjukkan pada final 2020.
Memasuki babak kedua, Atletico meningkatkan intensitas serangan. Julián Álvarez akhirnya memaksa laga berlanjut dengan gol penyeimbang pada menit ke-83, memanfaatkan celah di pertahanan Sociedad.
Momentum Penalti dan Peran Kiper
Setelah skor bertahan 2-2 hingga extra time, pertandingan ditentukan lewat adu penalti. Di fase inilah kiper Sociedad, Unai Marrero, menjadi pembeda. Ia sukses menggagalkan dua eksekutor Atletico—Alexander Sorloth dan Julián Álvarez—sebelum Pablo Marín memastikan kemenangan 4-3.
Marrero menyebut momen tersebut sebagai puncak dari kepercayaan diri tim. Ia menegaskan bahwa keyakinan kolektif menjadi faktor utama keberhasilan Sociedad menahan tekanan di fase krusial.
Di sisi lain, Juan Musso sempat menebus kesalahan dengan beberapa penyelamatan penting di babak tambahan waktu. Namun, kegagalan Atletico memaksimalkan peluang, termasuk tembakan Álvarez yang membentur tiang di menit ke-100, menjadi titik balik kegagalan mereka.
Pelatih Atletico, Diego Simeone, mengakui timnya kalah efektif di momen-momen kunci. Ia menilai Sociedad tampil lebih tajam dalam memanfaatkan peluang, meski Atletico sempat dua kali bangkit dari ketertinggalan.
“Kami bangkit dari 1-0 dan 2-1, serta punya peluang untuk menang. Kami hanya bisa memberi selamat kepada lawan yang lebih klinis di momen penting,” ujarnya.
Dari Zona Degradasi ke Juara
Transformasi Sociedad menjadi cerita utama dalam keberhasilan ini. Saat Matarazzo datang pada Desember, tim hanya unggul dua poin dari zona degradasi La Liga. Kini, selain meraih trofi, mereka juga berhasil menembus papan atas klasemen sementara.
Matarazzo menggambarkan perjalanan tersebut sebagai sesuatu yang “tidak masuk akal, tetapi mungkin menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar.” Ia menekankan pentingnya kepercayaan terhadap pemain sebagai fondasi utama perubahan.
Sementara itu, Atletico Madrid kini harus segera mengalihkan fokus ke semifinal Liga Champions menghadapi Arsenal. Kapten Koke Resurrección menyebut kekalahan ini sebagai pukulan berat, namun menegaskan ambisi tim untuk tetap memburu gelar Eropa.
“Kami ingin memenangkan Liga Champions. Tapi malam ini adalah malam yang berat. Kami butuh waktu untuk memikirkan kembali semuanya,” ujarnya.
Kekalahan di final Copa del Rey memperpanjang catatan inkonsistensi Atletico dalam laga-laga krusial musim ini—sebuah ironi bagi tim dengan reputasi pertahanan solid di bawah Simeone. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


