Tanpa Gol dan Terpuruk, Chelsea Pecat Liam Rosenior
Chelsea memecat Liam Rosenior usai lima kekalahan beruntun tanpa gol. Krisis performa mengancam peluang Liga Champions musim depan.
JAKARTA – Langkah drastis diambil Chelsea setelah grafik performa tim merosot tajam di LIga Inggris. Klub London itu memecat Liam Rosenior hanya dalam waktu kurang dari empat bulan sejak penunjukannya sebagai manajer.
Keputusan ini diumumkan Rabu (23/4/2026), di tengah situasi krisis yang ditandai lima kekalahan beruntun tanpa mencetak satu gol pun di Premier League. Catatan tersebut menjadi yang terburuk bagi klub sejak 1912—sebuah periode historis yang kini kembali menghantui identitas klub elite tersebut.
Asisten pelatih Calum McFarlane ditunjuk sebagai pelatih interim hingga akhir musim sekaligus menyiapkan tim menghadapi semifinal Piala FA melawan Leeds United, sembari manajemen mencari sosok baru untuk mengisi kursi kepelatihan secara permanen.
Dalam pernyataan resminya, Chelsea menegaskan bahwa keputusan ini tidak diambil secara gegabah. Namun, hasil dan performa tim dinilai “jauh di bawah standar” di saat musim masih menyisakan target krusial.
Secara data, Chelsea hanya meraih satu kemenangan dalam sembilan laga liga terakhir. Posisi mereka tertahan di peringkat ketujuh, terpaut tujuh poin dari zona lima besar, batas minimal untuk lolos ke Liga Champions musim depan.
Kondisi ini berimplikasi besar secara finansial. Di bawah kepemilikan Clearlake Capital dan Todd Boehly, Chelsea telah menggelontorkan investasi miliaran dolar. Gagal tampil di Liga Champions berarti potensi kerugian signifikan dari sisi pendapatan komersial dan hak siar.
Titik Balik: Kekalahan dari Brighton
Kekalahan telak 0-3 dari Brighton & Hove Albion menjadi titik akhir masa jabatan Rosenior. Hasil itu sekaligus menjadi kekalahan ketujuh dalam delapan pertandingan di semua kompetisi.
Ironisnya, Rosenior sendiri mengakui performa timnya “tidak dapat dibela” dan menegaskan perlunya perubahan drastis. Pernyataan itu mencerminkan tekanan internal yang juga dirasakan oleh manajemen klub.
Padahal, pelatih berusia 41 tahun tersebut sempat membuka awal kariernya dengan impresif, dengan membukukan enam kemenangan dari tujuh laga awal. Namun, tren positif itu runtuh cepat, termasuk tersingkirnya Chelsea dari Liga Champions oleh Paris Saint-Germain.
Sejak diakuisisi pada 2022, Chelsea kini telah mengganti lima manajer permanen. Rosenior sendiri menggantikan Enzo Maresca yang sebelumnya membawa klub menjuarai Piala Dunia Antarklub..
Bayang-Bayang Era Keemasan Chelsea
Perbandingan dengan era Roman Abramovich menjadi kontras yang sulit dihindari. Di bawah kepemimpinan lama, Chelsea dikenal sebagai salah satu kekuatan dominan Eropa, dengan koleksi dua gelar Liga Champions dan lima trofi Premier League.
Kini, klub justru menghadapi risiko gagal lolos ke Liga Champions untuk ketiga kalinya dalam empat musim terakhir. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

