Menagih Heroisme Blambangan di Tubuh Persewangi Banyuwangi
Nama Persewangi Banyuwangi bukan sekadar identitas klub sepak bola. Di balik warna jersey dan riuh tribun stadion, terdapat sejarah panjang tentang semangat perlawanan, kebanggaan daerah, dan heroisme masyarakat Blambangan.
Banyuwangi – Nama Persewangi Banyuwangi bukan sekadar identitas klub sepak bola. Di balik warna jersey dan riuh tribun stadion, terdapat sejarah panjang tentang semangat perlawanan, kebanggaan daerah, dan heroisme masyarakat Blambangan yang pernah begitu melekat dalam tubuh Laskar Blambangan.
Namun kini, semangat itu dinilai mulai memudar. Hal tersebut mengemuka dalam diskusi sepak bola bertajuk 90 Menit Banyuwangi yang digelar di Cafe Galgok, pada 6 Mei 2026.
Mengusung tema ‘Persewangi Milik Siapa?’, forum itu menghadirkan mantan Ketua Suporter Laros Jenggirat Ahmad Mustain dan mantan Manajer Persewangi periode 2001–2007 Iwan Rudiyanto.
Dalam forum tersebut, keduanya menyoroti arah pengelolaan Persewangi yang dinilai mulai menjauh dari akar sejarah dan identitas masyarakat Banyuwangi.
Absennya pihak manajemen Persewangi dalam diskusi itu pun menjadi perhatian tersendiri. Padahal, berbagai kritik dan pertanyaan mengenai pola pengelolaan klub diarahkan langsung kepada manajemen saat ini.
Ketidakhadiran tersebut dinilai memperlihatkan renggangnya komunikasi antara klub dengan publik sepak bola Banyuwangi.
Iwan Rudiyanto menilai, Persewangi tidak bisa dibangun hanya dengan pendekatan bisnis dan administratif semata. Menurutnya, klub sepak bola membutuhkan keterlibatan seluruh elemen, mulai suporter, komunitas sepak bola, hingga pembina pemain muda.
“Stakeholder harus dilibatkan dalam setiap agenda. Kalau tidak, rasa memiliki terhadap klub tidak akan tumbuh,” kata Iwan, Jumat, (8/5/2026).
Dia juga menyoroti perubahan identitas visual klub, terutama warna jersey Persewangi yang selama ini identik dengan merah dan hitam. Bagi Iwan, warna tersebut bukan sekadar simbol estetika, tetapi representasi keberanian dan semangat perlawanan masyarakat Blambangan.
“Ada heroisme di warna itu. Itu identitas Banyuwangi,” cetusnya.
Selain persoalan identitas, lemahnya pembinaan pemain lokal juga menjadi kritik utama dalam diskusi tersebut. Banyak pemain muda asal Banyuwangi, kata Iwan, justru berkembang di luar daerah karena minimnya kesempatan di klub sendiri.
Kondisi itu dinilai menjadi pertanda bahwa sistem pembinaan sepak bola lokal belum berjalan optimal. Padahal selama ini, Persewangi dikenal sebagai klub yang lahir dari kekuatan talenta daerah.
Pandangan serupa disampaikan Ahmad Mustain. Dia mengingatkan bahwa Persewangi pernah tumbuh dengan dukungan anggaran publik melalui APBD. Karena itu, menurutnya, secara moral Persewangi merupakan milik masyarakat Banyuwangi.
Mustain menilai hubungan emosional antara klub dan masyarakat kini mulai melemah. Salah satu indikatornya terlihat dari menurunnya militansi suporter di stadion.
“Dulu pemain dari Wongsorejo sampai Kalibaru ikut seleksi Persewangi. Sekarang pemain lokal justru makin sedikit. Kalau ambil pemain luar tapi kualitasnya biasa saja, untuk apa? Persewangi harus kembali menjadi milik masyarakat Banyuwangi,” ujar Mustain. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


