Ditahan Cape Verde, Pelatih Spanyol Akui Timnya Kehilangan Ketajaman
Pelatih Spanyol Luis de la Fuente mengakui timnya kurang tajam saat ditahan imbang 0-0 oleh Cape Verde pada laga Grup H Piala Dunia 2026. Debutan Cape Verde tampil disiplin dan meraih satu poin bersejarah.
JAKARTA – Debutan Piala Dunia, timnas Cape Verde (Tanjung Verde), menciptakan salah satu kejutan terbesar pada fase grup Piala Dunia 2026 setelah berhasil menahan imbang juara Eropa, Spanyol, dengan skor 0-0 dalam laga Grup H yang berlangsung di Atlanta Stadium, Amerika Serikat, Senin waktu setempat atau Selasa dini hari.
Spanyol sejatinya mendominasi jalannya pertandingan, namun gagal mengubah sejumlah peluang menjadi gol. Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, mengakui timnya seharusnya mampu meraih kemenangan, namun kurang memiliki ketajaman di depan gawang.
"Dalam pikiran kami ada optimisme dan keinginan untuk terus berkembang. Kami seharusnya memenangkan pertandingan ini dengan semua yang terjadi dan peluang-peluang yang kami ciptakan, tetapi kami kurang segar dan kurang klinis dalam penyelesaian akhir," ujar De la Fuente.
Menurutnya, Spanyol masih membutuhkan waktu untuk menemukan ritme permainan terbaik selama turnamen berlangsung.
"Kami harus terus berkembang dan menemukan ritme permainan. Itulah tujuan utama kami hingga pertandingan berikutnya," lanjutnya.
De la Fuente juga memberikan apresiasi terhadap permainan disiplin yang diperagakan Cape Verde sepanjang laga. Ia menilai lawannya tampil sangat kuat secara fisik dan mampu menjalankan strategi bertahan dengan baik.
"Lawan adalah tim yang sangat kuat secara fisik. Kami tahu mereka akan bermain dengan blok pertahanan yang sangat rendah dan memiliki pemain-pemain yang bertenaga. Ketika itu ditambah dengan kondisi kami yang kurang segar, maka hasil seperti ini bisa terjadi. Dalam sepak bola tidak ada lawan yang kecil di sini," tegasnya.
La Roja sebenarnya memperoleh beberapa peluang emas. Pada babak pertama, Ferran Torres nyaris membuka keunggulan saat tembakannya membentur mistar gawang. Bola pantul kemudian disambut sundulan Mikel Oyarzabal, tetapi berhasil ditepis secara gemilang oleh penjaga gawang Cape Verde, Vozinha.
Kiper berusia 40 tahun itu kembali menjadi penyelamat timnya menjelang turun minum ketika menggagalkan sundulan Aymeric Laporte dari jarak dekat.
Pada babak kedua, Spanyol tetap menguasai pertandingan. Masuknya wonderkid Lamine Yamal pada menit ke-71 membuat serangan La Roja lebih hidup. Namun, Cape Verde tetap disiplin menjaga area pertahanan sehingga peluang bersih tetap sulit didapat.
Gelandang Spanyol, Rodri, juga menyoroti masalah efektivitas yang dialami timnya.
"Tim sudah berusaha. Saya pikir kami memiliki aliran permainan yang baik. Ini hanya soal memaksimalkan peluang yang kami ciptakan, karena melawan tim yang bertahan sangat dalam, kesempatan tidak akan banyak. Ketika peluang itu datang, Anda harus memanfaatkannya. Sesederhana itu," kata Rodri.
Di sisi lain, hasil imbang ini menjadi pencapaian bersejarah bagi Cape Verde. Negara berpenduduk sekitar 500 ribu jiwa itu berhasil mengamankan satu poin dalam pertandingan Piala Dunia pertama mereka sekaligus menjaga reputasi lini belakang yang menjadi kekuatan utama sejak babak kualifikasi.
Penampilan luar biasa Vozinha membuatnya dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan. Berkat sederet penyelamatan krusial sang kiper veteran, Cape Verde mampu menahan salah satu favorit juara dan mencatat hasil yang akan dikenang dalam sejarah sepak bola negara tersebut. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


