Mereka yang Menjaga Piala Dunia
Dunia mengenal Messi, Mbappe, atau Bellingham. Kamera televisi menyorot para pemain dan tribun yang penuh warna. Namun turnamen sebesar Piala Dunia tidak hanya berlangsung di atas lapangan.

SEMARANG – Pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, Eunice Doehring belum terlalu mengenal sepakbola. Namun perempuan asal Dallas itu mendaftarkan diri menjadi relawan. Tugasnya membantu para tamu dan memastikan semuanya berjalan dengan baik.
Tiga puluh dua tahun kemudian, Doehring kembali mengenakan seragam relawan. Amerika Serikat kembali menjadi tuan rumah. Kali ini Doehring bertugas di bandara Dallas, menyambut orang-orang yang datang dari berbagai penjuru dunia. Ia bahkan dipercaya menjadi salah satu koordinator relawan. Kepada NBC Dallas, ia mengaku ingin membantu mereka yang baru pertama kali menjalani pengalaman seperti yang pernah ia rasakan tiga puluh dua tahun lalu.
Pada Piala Dunia 2026, Doehring bukan satu-satunya relawan yang bekerja. Di berbagai kota tuan rumah, puluhan ribu orang menjalani pekerjaan yang hampir sama. Bertugas di stadion, bandara, hingga di pusat transportasi.
Beberapa jam sebelum pertandingan Jerman melawan Curacao dimulai di Houston, misalnya, antrean penonton sudah mengular di sekitar stadion. Cuaca musim panas Texas yang menyengat membuat sejumlah orang harus mendapatkan perawatan medis. Sementara sebagian besar penonton sibuk menunggu peluit pertama dibunyikan, para petugas keamanan, relawan, pekerja transportasi, dan petugas medis sudah lebih dahulu bekerja. Piala Dunia sesungguhnya sudah dimulai jauh sebelum pertandingan pertama hari itu dimainkan.
Dunia mengenal Lionel Messi, Kylian Mbappe, Jude Bellingham, atau Vinicius Junior. Kamera televisi menyorot para pemain dan tribun yang penuh warna. Namun turnamen sebesar Piala Dunia tidak hanya berlangsung di atas lapangan. Di bandara, hotel, pusat transportasi, dan stadion, ribuan orang menjalani hari-hari yang lebih sibuk dari biasanya.
Houston saja memilih sekitar 4.100 relawan dari 35 ribu pelamar. Mereka melayani para penggemar bola lebih dari 130 bahasa. Total di tiga negara tuan rumah, sekitar 65 ribu relawan dilibatkan dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Mereka bertugas di stadion, bandara, pusat latihan, hotel, dan tempat lainnya.
Selama satu bulan, ritme kehidupan kota-kota tuan rumah ikut berubah. Hotel-hotel penuh, bandara lebih sibuk dari biasanya, kereta dan bus bekerja lebih padat, sementara restoran memperpanjang jam operasionalnya. Dari Dallas, Houston, Toronto, hingga Mexico City, jutaan orang datang dan pergi. Piala Dunia seperti membangun sebuah kota sementara yang hidup tanpa henti.
Seusai pertandingan, perhatian orang kembali tertuju pada hasil akhir, gol-gol yang tercipta, dan peluang tim favorit pada laga berikutnya. Sementara itu, para relawan mulai membersihkan tribun, memeriksa peralatan, dan bersiap menyambut pertandingan berikutnya.
Beberapa tahun dari sekarang, orang mungkin masih mengingat siapa yang menjadi juara Piala Dunia 2026, gol-gol indah selama turnamen, atau aksi pemain- pemain bintang.
Namun bagi Eunice Doehring, kenangan yang tersisa jauh lebih sederhana. Berdiri di bandara Dallas, menyambut orang-orang yang datang dari berbagai penjuru dunia, lalu sekali lagi menjadi bagian dari peristiwa yang pernah ia jumpai tiga puluh dua tahun sebelumnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

