Kylian Mbappe Bidik Rekor Baru, Irak Cari Cara Hentikan Mesin Gol Prancis
Prancis mengincar kemenangan kedua untuk memastikan langkah ke babak 32 besar saat menghadapi Irak di laga kedua Grup I Piala Dunia 2026.
JAKARTA – Menghentikan Kylian Mbappe mungkin menjadi pekerjaan paling sulit di Piala Dunia 2026 saat ini.
Bahkan pelatih Irak Graham Arnold sampai melontarkan candaan ketika ditanya bagaimana cara meredam bintang Prancis tersebut menjelang laga Grup I Piala Dunia 2026, Selasa (23/6/2026) dini hari pukul 04.00 WIB, di Philadelphia.
"Saya sempat bertanya apakah kami boleh memainkan tiga kiper sekaligus. Tapi mereka bilang tidak boleh," ujar Arnold sambil tertawa saat konferensi pers jelang duel Irak vs Prancis.
Candaan itu menggambarkan betapa besarnya ancaman yang dibawa Mbappe ke pertandingan ini.
Penyerang Real Madrid tersebut datang dengan status salah satu pemain paling bersinar di turnamen. Pada laga pembuka melawan Senegal, Mbappe mencetak dua gol yang membantu Prancis menang 3-1 sekaligus memecahkan rekor pencetak gol terbanyak sepanjang masa Timnas Prancis.
Dua gol itu juga membuat Mbappe melampaui legenda Brasil, Pele, dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.
Kini koleksi gol Mbappe di Piala Dunia telah mencapai 14 gol. Ia hanya terpaut satu gol dari Ronaldo Nazario dan dua gol dari rekor 16 gol milik Lionel Messi serta Miroslav Klose.
Yang membuat pencapaian itu semakin luar biasa, Mbappe baru berusia 27 tahun dan sedang menjalani Piala Dunia ketiganya.
Laga melawan Irak juga akan menjadi pertandingan internasional ke-100 Mbappe bersama Prancis.
"Selalu menjadi kebanggaan bisa bermain untuk tim nasional. Tidak ada yang lebih besar daripada tim nasional. Seratus pertandingan adalah sesuatu yang bersejarah, apalagi terjadi di Piala Dunia," kata Mbappe.
Meski berbagai rekor terus mendekat, sang kapten Prancis mengaku tidak terlalu memikirkannya.
Perdebatan mengenai apakah dirinya bisa menjadi pemain terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia mulai ramai dibicarakan. Namun Mbappe memilih fokus pada target yang lebih sederhana.
"Itu bahan diskusi untuk media, penggemar, dan semua orang. Bagi saya bukan itu yang ada di pikiran saya. Yang saya pikirkan adalah bagaimana membantu tim menang melawan Irak dan membawa pulang trofi pada Juli nanti," tegasnya.
Prancis memang datang ke pertandingan ini dengan kepercayaan diri tinggi. Les Bleus hanya membutuhkan satu kemenangan lagi untuk semakin dekat mengamankan tiket ke babak 32 besar dari Grup I yang dihuni Norwegia, Senegal, dan Irak.
Pelatih Didier Deschamps diperkirakan hanya melakukan sedikit perubahan dalam susunan pemain. Bradley Barcola yang mencetak gol dari bangku cadangan saat menghadapi Senegal berpeluang tampil sebagai starter.
Sementara itu Irak datang dalam situasi tertekan setelah kalah telak dari Norwegia pada laga pertama.
Arnold menyadari timnya bukan unggulan, tetapi ia ingin para pemainnya menunjukkan karakter terbaik mereka.
"Kami tidak bisa mengontrol bagaimana Prancis bermain. Tetapi kami bisa mengontrol performa kami sendiri. Yang terpenting adalah memastikan para pemain siap menunjukkan kepada dunia siapa mereka sebenarnya," ujarnya.
Menariknya, Irak mendapat pujian di luar lapangan setelah laga pertama. Para pemain membersihkan ruang ganti yang mereka gunakan dan meninggalkan pesan sederhana bertuliskan "Terima kasih, Boston".
"Mereka yang membuat ruangannya berantakan, jadi mereka membersihkannya kembali. Itu bentuk rasa hormat terhadap tempat yang kami gunakan. Saya pikir itu menunjukkan kepemimpinan yang luar biasa," kata Arnold.
Kini tantangan yang lebih besar menanti. Irak harus berhadapan dengan salah satu kandidat juara dunia dan seorang pemain yang sedang mengejar sejarah.
Dan kabar buruk bagi Irak, Mbappe tetap hanya perlu menghadapi satu kiper, bukan tiga. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


