Advertisement
Olahraga

Kisah Michel Nkuka, Patung Hidup Lumumba Vea yang Akhirnya Tampil di Tribun Piala Dunia

Michel Nkuka Mboladinga, suporter ikonik Kongo yang dikenal sebagai "patung hidup", akhirnya hadir di Piala Dunia 2026 setelah absen karena karantina Ebola. Ia kembali berpose menghormati Patrice Lumumba.

TIMES Indonesia,
Kisah Michel Nkuka, Patung Hidup Lumumba Vea yang Akhirnya Tampil di Tribun Piala Dunia
Sang Patung Hidup Michel Nkuka Mboladinga, suporter ikonik Kongo saat mendukung negaranya melawan Kolombia di fase grup Piala Dunia 2026. (foto: thesun)
A-AA+

JAKARTA Salah satu suporter paling unik di Piala Dunia 2026 akhirnya mencuri perhatian dunia. Michel Nkuka Mboladinga, pendukung fanatik Republik Demokratik Kongo yang dikenal sebagai "patung hidup", untuk pertama kalinya hadir langsung di ajang Piala Dunia saat negaranya menghadapi Kolombia di Stadion Akron, Guadalajara, Meksiko.

Kehadiran Michel Nkuka menjadi momen spesial setelah ia terpaksa melewatkan laga pembuka Kongo melawan Portugal akibat kewajiban menjalani karantina terkait wabah Ebola yang tengah melanda negaranya.

Advertisement

Sekitar satu jam sebelum pertandingan dimulai, Nkuka sudah berada di stadion. Mengenakan jas merah terang, kemeja kuning, dasi merah, dan celana biru yang merepresentasikan warna bendera Kongo, ia langsung menarik perhatian para penonton.

Seperti yang telah menjadi ciri khasnya, pria yang juga dikenal dengan julukan "Lumumba Vea" itu berdiri di atas podium kecil di belakang bangku cadangan Kongo. Dengan tangan kanan terangkat ke udara, ia tetap diam tanpa bergerak sepanjang pertandingan berlangsung.

Meski enggan memberikan wawancara, Nkuka sempat tersenyum dan mengangguk ketika ditanya mengenai kebahagiaannya bisa akhirnya hadir di Piala Dunia setelah sekian lama menantikan momen tersebut.

Sosok Michel Nkuka sebenarnya sudah dikenal luas sejak gelaran Piala Afrika 2025-2026. Aksinya berdiri tanpa bergerak selama 90 menit penuh membuatnya menjadi sensasi media sosial dan salah satu suporter sepak bola paling terkenal di Afrika.

Gaya tersebut bukan tanpa alasan. Pose yang diperagakannya merupakan tiruan dari patung Patrice Lumumba yang berada di Kinshasa, ibu kota Republik Demokratik Kongo.

Advertisement

Patrice Lumumba merupakan tokoh penting dalam sejarah Kongo. Ia berperan besar mengakhiri kolonialisme Belgia dan menjadi perdana menteri pertama negara itu setelah merdeka pada 1960. Namun, karier politiknya berakhir tragis setelah ia dibunuh kurang dari setahun kemudian di tengah konflik politik dan gerakan separatis yang didukung Belgia di wilayah Katanga.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap Lumumba, Nkuka sejak 2013 mulai menghadiri pertandingan tim nasional Kongo dengan berdiri tegak layaknya patung sang pahlawan kemerdekaan.

Perjalanan Nkuka menuju Piala Dunia 2026 sendiri tidak mudah. Sebelumnya, ia juga gagal menghadiri laga playoff Piala Dunia melawan Jamaika yang memastikan Kongo kembali ke putaran final setelah penantian selama 52 tahun. Saat itu, ia tidak berhasil memperoleh visa tepat waktu meskipun telah melakukan perjalanan ke Kenya dan Ethiopia untuk mengurus dokumen keberangkatan.

Kini, setelah berbagai rintangan berhasil dilalui, kehadiran Michel Nkuka di tribun Piala Dunia menjadi simbol semangat para pendukung Kongo yang tetap setia mendukung tim nasional mereka.

Meski Kongo harus menelan kekalahan tipis 0-1 dari Kolombia, banyak sorotan justru tertuju kepada sosok "patung hidup" yang berdiri membeku selama pertandingan. Aksinya kembali menjadi pembicaraan di media sosial dan menegaskan statusnya sebagai salah satu suporter paling ikonik di Piala Dunia 2026.

Bagi masyarakat Kongo, Michel Nkuka bukan sekadar penggemar sepak bola. Ia telah menjadi simbol kebanggaan nasional yang menggabungkan kecintaan terhadap sepak bola dengan penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa mereka. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Wahyu Nurdiyanto
PenulisWahyu NurdiyantoWartawan Sertifikasi Madya, lulusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016 sebagai editor.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia