Kemenpar Bidik Sport Tourism sebagai Penggerak Pariwisata Berkualitas
Kementerian Pariwisata menilai Gen Z dan milenial mendorong tren wisata tematik. Sport tourism diproyeksi tumbuh 17,5 persen per tahun hingga 2030 dan menjadi peluang besar bagi Indonesia.
Jakarta – Cara wisatawan menikmati perjalanan sedang berubah. Jika sebelumnya liburan identik dengan rekreasi dan hiburan, kini semakin banyak pelancong, terutama dari kalangan milenial dan Generasi Z (Gen Z), mencari pengalaman yang lebih personal, sehat, autentik, dan berkelanjutan.
Perubahan perilaku tersebut membuka peluang besar bagi pengembangan sport tourism atau wisata olahraga yang kini menjadi salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat di industri pariwisata global.
Juru Bicara Kementerian Pariwisata, Nia Niscaya, mengatakan transformasi preferensi wisatawan telah melahirkan berbagai tren baru, mulai dari wisata berbasis lingkungan, wisata kebugaran, wisata olahraga, hingga Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).
"Generasi milenial dan Gen Z sebagai wisatawan digital-native mendorong munculnya tren baru seperti pariwisata berbasis lingkungan, wisata kebugaran, wisata olahraga, dan MICE," ujar Nia di Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Sport Tourism Tumbuh Paling Cepat
Menurut Nia, wisata olahraga menjadi salah satu sektor yang paling menjanjikan dalam beberapa tahun ke depan.
Mengacu pada data UN Tourism (UNWTO), sektor ini saat ini menyumbang sekitar 10 persen dari total belanja wisatawan global dan diproyeksikan tumbuh rata-rata 17,5 persen per tahun hingga 2030.
"Pertumbuhan ini didorong oleh kecenderungan wisatawan yang mencari pengalaman yang berkesan sekaligus menyehatkan, bukan sekadar hiburan," katanya.
Tren tersebut dinilai menjadi peluang strategis bagi Indonesia yang memiliki kekayaan destinasi alam, budaya, dan potensi penyelenggaraan berbagai ajang olahraga bertaraf nasional maupun internasional.
Indonesia Perkuat Ekosistem Wisata Olahraga
Melihat peluang tersebut, Kementerian Pariwisata terus memperkuat pengembangan sport tourism melalui berbagai strategi.
Langkah yang dilakukan meliputi penguatan destinasi olahraga, peningkatan kapasitas pelaku industri, promosi terpadu, hingga fasilitasi penyelenggaraan berbagai event yang mampu menarik wisatawan.
Sebagai bentuk penguatan sinergi, Kementerian Pariwisata juga telah menandatangani nota kesepahaman dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Kerja sama tersebut mencakup pemetaan potensi event olahraga, standardisasi penyelenggaraan, pengembangan venue yang ramah wisatawan, hingga promosi bersama untuk berbagai ajang olahraga nasional maupun internasional.
Selain itu, berbagai agenda unggulan juga terus didorong masuk dalam program Karisma Event Nusantara (KEN) yang setiap tahun dikurasi sebagai kalender event nasional.
Kontribusi Masih Perlu Ditingkatkan
Meski memiliki prospek cerah, kontribusi wisata olahraga terhadap kunjungan wisatawan mancanegara di Indonesia masih relatif terbatas.
Berdasarkan laporan International Visitor Arrivals by Tourism Activities Undertaken While in Indonesia 2024, wisata olahraga menyumbang 9,74 persen dari aktivitas wisatawan asing.
Angka tersebut masih berada di bawah wisata petualangan yang mencapai 41,45 persen, wisata kebugaran sebesar 13,35 persen, serta wisata pengalaman (integrated area tourism) yang berkontribusi 10,9 persen.
Data ini menunjukkan bahwa sport tourism masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar apabila dikembangkan secara terpadu dengan atraksi pendukung lainnya.
Teknologi Percepat Perubahan Tren Wisata
Kementerian Pariwisata juga menilai perkembangan teknologi menjadi faktor penting dalam mengubah perilaku wisatawan.
Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), serta Augmented Reality/Virtual Reality (AR/VR) memungkinkan wisatawan memperoleh pengalaman perjalanan yang lebih personal, efisien, dan imersif.
Teknologi tersebut sekaligus memperkuat posisi wisatawan sebagai pusat ekosistem digital pariwisata modern.
Wisatawan Cari Pengalaman Bermakna
Nia menjelaskan bahwa baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara kini sama-sama mengutamakan pengalaman yang lebih autentik, meski memiliki prioritas berbeda.
Wisatawan asing cenderung memilih wisata budaya yang mendalam, destinasi ramah lingkungan, serta wisata alam dan petualangan. Sementara wisatawan domestik lebih banyak mencari pengalaman kuliner, gastronomi, dan eksplorasi budaya lokal.
Kesamaan keduanya terletak pada perubahan orientasi perjalanan, yakni tidak lagi sekadar mengunjungi destinasi, tetapi mencari pengalaman yang memiliki nilai, memberikan kesan mendalam, dan mendukung gaya hidup sehat serta berkelanjutan.
Dengan tren tersebut, Kementerian Pariwisata melihat sport tourism berpotensi menjadi salah satu motor baru pertumbuhan industri pariwisata Indonesia, sekaligus menarik wisatawan berkualitas yang memiliki lama tinggal lebih panjang, pengeluaran lebih besar, dan kepedulian tinggi terhadap keberlanjutan destinasi.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


