Advertisement
Olahraga

FIFA Tolak Permintaan Iran dan Mesir, Bendera LGBTQ+ Tetap Diizinkan di Stadion

FIFA menolak permintaan Iran dan Mesir untuk melarang bendera LGBTQ+ di stadion Piala Dunia 2026. FIFA menegaskan turnamen tetap mengusung prinsip inklusivitas.

TIMES Indonesia,
FIFA Tolak Permintaan Iran dan Mesir, Bendera LGBTQ+ Tetap Diizinkan di Stadion
Federasi sepak bola dunia itu menyebut turnamen harus menjadi ruang yang inklusif bagi seluruh suporter. (Alexander Spatari/Getty Images)
A-AA+

JAKARTA FIFA menolak permintaan Iran dan Mesir yang meminta larangan terhadap bendera LGBTQ+ di dalam stadion saat kedua tim bertanding di Seattle pada ajang Piala Dunia 2026. Federasi sepak bola dunia itu menegaskan bahwa kebijakan inklusivitas tetap berlaku dan seluruh suporter berhak mengekspresikan dukungannya selama mematuhi aturan yang berlaku.

Permintaan tersebut muncul karena Iran dan Mesir, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, memiliki aturan dan pandangan yang tidak mengizinkan praktik LGBTQ+. Kedua negara juga disebut tidak ingin terlibat dalam seremoni maupun kampanye yang berkaitan dengan isu tersebut sebelum pertandingan berlangsung.

Advertisement

FIFA Tegaskan Piala Dunia untuk Semua Kalangan

Meski mendapat keberatan dari kedua federasi, FIFA memastikan tidak akan melarang penonton membawa bendera pelangi atau simbol LGBTQ+ ke dalam stadion di Seattle.

Dalam pernyataannya, FIFA menegaskan bahwa Piala Dunia 2026 merupakan ajang yang terbuka bagi semua orang tanpa memandang latar belakang, identitas, maupun orientasi seksual.

“Piala Dunia merupakan event yang inklusif. Fans dari semua kalangan, termasuk orientasi seksual, gender, dan identitas, diperbolehkan hadir ke dalam event,” tulis FIFA.

Kebijakan tersebut sejalan dengan komitmen FIFA untuk menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi seluruh suporter selama turnamen berlangsung.

Infantino Bantah Ada Kampanye Khusus LGBTQ+

Presiden FIFA, Gianni Infantino, menegaskan bahwa izin membawa bendera pelangi tidak berarti Piala Dunia 2026 digunakan sebagai sarana promosi LGBTQ+.

Advertisement

Menurutnya, kehadiran simbol tersebut semata-mata menunjukkan bahwa turnamen sepak bola terbesar di dunia itu terbuka bagi semua pihak.

“Tidak ada yang namanya ‘Pride Match’. Yang ada hanya pertandingan Piala Dunia di Seattle,” kata Infantino seperti dikutip talkSPORT.

Ia menambahkan bahwa kebijakan tersebut tidak memiliki kaitan langsung dengan pertandingan antara Iran dan Mesir, melainkan merupakan aturan umum yang berlaku di seluruh kompetisi FIFA.

Perbedaan Budaya Jadi Sorotan

Perdebatan mengenai simbol LGBTQ+ di stadion juga mendapat perhatian dari pejabat setempat. Senator Seattle, Jamie Pedersen, meminta kontingen Iran dan Mesir memahami perbedaan budaya yang berlaku di kota tersebut.

Menurut Pedersen, Seattle dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi keberagaman dan menerima berbagai kelompok masyarakat.

Ia menilai kebijakan yang berlaku di Seattle tentu berbeda dengan aturan sosial maupun budaya yang diterapkan di Iran dan Mesir.

Kontroversi ini kembali menunjukkan tantangan yang dihadapi penyelenggara event olahraga global dalam menyeimbangkan nilai inklusivitas dengan perbedaan budaya dan keyakinan yang dimiliki negara peserta.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rizal Dani P
PenulisRizal Dani PSarjana Ekonomi Manajemen Universitas Merdeka Malang (2022). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia