Advertisement
Olahraga

Bidik Juara, Intip Ambisi Para Atlet Muda Sepatu Roda Banyuwangi Menuju Jatim Open 2026

25 atlet BARA (Banyuwangi Roller Skate Academy) siap ke Jatim Open 2026, latihan 3-5x/minggu. Septian: Porserosi minim support, tidak ada transparansi anggaran. Fasilitas terbatas.

TIMES Indonesia,
Bidik Juara, Intip Ambisi Para Atlet Muda Sepatu Roda Banyuwangi Menuju Jatim Open 2026
Foto bersama atlet muda pesepatu roda klub BARA bersama coach di Boom Marina. (FOTO : Anggara Cahya/TIMES Indonesia)
A-AA+

BANYUWANGI BANYUWANGI - Sorot mata tajam penuh ambisi menyelimuti puluhan atlet muda sepatu roda Banyuwangi. Ya, rupanya mereka tengah membidik target juara pada kompetisi Jawa Timur (Jatim) Open 2026 di Stadion Kanjuruan Malang.

Asal tahu saja, kejuaraan yang berlangsung pada 10-12 Juli 2026 ini memang bukan kompetisi kaleng-kaleng. Levelnya yang prestisius kerap memikat para peserta tak hanya dari Jawa saja, melainkan juga menyeberang hingga dari Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Advertisement

Alasan itulah yang membakar semangat para atlet muda sepatu roda dari Banyuwangi Roller Skate Academy (BARA). Mereka rela jatuh bangun dan tancap gas mengucurkan darah serta keringat di setiap sesi latihan, demi bisa bersaing di kasta tertinggi dan membawa pulang trofi juara Jatim Open 2026.

Suasana saat atlet muda sepatu roda BARA berlatih. (FOTO : Anggara Cahya/TIMES Indonesia)
Suasana saat atlet muda sepatu roda BARA berlatih. (FOTO : Anggara Cahya/TIMES Indonesia)

Kali ini, pada Sabtu (27/6/2026), kawasan Boom Marina menjadi saksi bisu ambisi para atlet klub BARA. Sebanyak 60 pesepatu roda muda tampak serius melahap menu latihan dari Coach Hery Surya Andika.

Pengalaman sang pelatih, yang merupakan mantan atlet top asal Lumajang dan kini jadi warga Banyuwangi itu, menjadi jaminan kualitas gemblengan para atlet muda klub BARA.

"Porsi latihan kami sebanyak 3 hingga 5 kali dalam seminggu, yang biasa dilakukan di Gor Tawangalun, atau di Boom Marina dan di Banyuwangi Park," jelas Ketua Komite BARA, Septian Bagus saat mengenalkan klub BARA.

Advertisement

Usut punya usut, mereka harus berpindah-pindah tempat latihan karena GOR Tawangalun kerap dipakai bergantian dengan cabang olahraga lain. Hal ini sekaligus menyiasati keterbatasan infrastruktur, mengingat Banyuwangi belum memiliki tempat latihan khusus yang memadai untuk olahraga ini.

"Tak seperti didaerah lain, sepatu roda menjadi cabang olahraga yang terus diperhatikan," ungkapnya.

Klub Roller Skate BARA sendiri sudah ada sejak akhir 2022. Selama tiga tahun berdiri, tangan dingin Coach Hery sendiri sukses memoles bakat-bakat muda, mulai dari usia 3 tahun hingga atlet senior yang duduk di bangku SMA, bahkan telah melahirkan atlet Porprov dari BARA pada 2023.

Soal prestasi klub BARA pun tak perlu diragukan lagi. Sebagai salah satu akademi sepatu roda pertama dan terbesar di Banyuwangi, mereka sudah melalang buana di berbagai kompetisi bergengsi. Mulai dari rutin menjajal ketatnya persaingan di Surabaya RX Series sejak 2024 hingga 2026, hingga sukses mengukir berjuang di ajang Malang Open alias Piala Walikota Malang pada 2025 lalu.

Kondisi jam terbang itulah, sebanyak 25 atlet pesepatu roda klub BARA siap All Out menuju Jatim Open 2026. 

Namun sayang, ambisi juara, serta cucuran keringat dan darah yang telah dikeluarkan para atlet muda sepatu roda, seakan berjalan sendiri. Perjuangan keras mereka di lintasan tampak tidak ada respon, bahkan tak sebanding dengan kontribusi dari induk cabang olahraga mereka, Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Porserosi) Banyuwangi.

Septian menyayangkan sikap Porserosi Banyuwangi yang dinilai menutup mata terhadap keberadaan klub sepatu roda di wilayahnya. Menurutnya, jangankan pembangunan fasilitas, sekadar hadir untuk memberikan suntikan semangat saat atlet latihan rutin saja belum pernah terjadi.

"Support terhadap pembinaan cabor sepatu roda ini sangat minim. Padahal atlet muda ini hanya butuh wadah kompetisi untuk mengukur serta menguji mental para atlet, bukan meminta sepatu atau helm," paparnya.

Bukan hanya itu saja, sejauh Septian menjadi Komite di Klub BARA, pihaknya tidak pernah mengetahui terkait pengelolaan anggaran didalam Porserosi. Padahal menurutnya selalu ada kucuran dana yang mengalir ke Porserosi, meskipun jumlahnya tidak besar.

Hal itulah yang menjadi pertanyaan besar Septian. Baginya pembinaan berkelanjutan dan dukungan mental adalah kunci utama dalam mengembangkan olahraga. Lewat sinergi inilah, Septian berharap olahraga sepatu roda bisa berkembang pesat sekaligus menyumbang prestasi yang mengharumkan nama Banyuwangi.

"Sehingga saya bertanya, jika tidak ada wadah pembinaan berupa event atau hal lainya yang mendukung kemajuan cabor sepatu roda harusnya ada transparasi soal anggaran itu dimana?" tutur Septian.

Meski demikian, atlet sepatu roda dari Klub BARA akan tetap melesat dengan target juara pada kompetisi Jatim Open 2026. Sehingga banyak pihak yang mengetahui keberadaan cabor sepatu roda yang mengharumkan nama Bumi Blambangan. (*)

Pewarta : Anggara Cahya

Editor : 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Syamsul Arifin
PenulisSyamsul ArifinPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2016. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia