Advertisement
Olahraga

Lima Keputusan VAR Paling Kontroversial pada Fase Grup Piala Dunia 2026

Lima keputusan VAR paling kontroversial mewarnai fase grup Piala Dunia 2026, mulai dari gol Iran yang dianulir hingga penalti Ghana yang tak diberikan, memicu perdebatan di dunia sepak bola.

TIMES Indonesia,
Lima Keputusan VAR Paling Kontroversial pada Fase Grup Piala Dunia 2026
VAR memperlihatkan pemain Kolombia Davinson Sánchez offside pada ujung sepatu sebelum mencetak gol saat laga kontra Portugal yang berakhir 0-0. (foto: X)
A-AA+

JAKARTA Fase grup Piala Dunia 2026 diwarnai sejumlah keputusan kontroversial yang melibatkan Video Assistant Referee (VAR). Dalam beberapa kasus, keputusan tersebut berdampak langsung terhadap peluang tim lolos ke babak 32 besar atau meraih kemenangan penting.

Berikut lima momen VAR yang paling diperdebatkan selama fase grup:

Advertisement

1. Gol Dramatis Iran Dianulir, Mimpi ke Fase Gugur Pupus

VAR Iran
Video VAR memperlihatkan Shoja Khalilzadeh (nomor punggung 4) dari Iran berada dalam posisi offside saat mencetak gol kedua—yang kemudian dianulir saat dalam pertandingan yang berakhir imbang 1-1 melawan Mesir. (Getty Images)

Salah satu kontroversi terbesar terjadi saat Iran bermain imbang 1-1 melawan Egypt.

Pada menit ke-93, pemain pengganti Shoja Khalilzadeh mencetak gol yang sempat memicu selebrasi besar karena diyakini membawa Iran lolos ke fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Namun, setelah peninjauan VAR, gol tersebut dianulir karena Khalilzadeh dinilai berada dalam posisi offside pada awal proses gol. Tayangan ulang memperlihatkan selisihnya sangat tipis—hanya sekitar beberapa milimeter—sehingga keputusan itu memicu perdebatan luas.

2. Kolombia Kehilangan Kemenangan karena Offside Setipis Ujung Sepatu

Laga Kolombia kontra Portugal juga menghasilkan keputusan yang menuai kontroversi.

Bek Davinson Sánchez sempat mencetak gol kemenangan pada masa injury time melalui sundulan memanfaatkan umpan Juan Quintero.

Advertisement

Namun, asisten wasit langsung mengangkat bendera offside. Tayangan ulang menunjukkan Sánchez hanya berada di depan garis pertahanan lawan sekitar ujung sepatunya. Banyak pendukung Kolombia menilai keputusan itu terlalu ketat dan membuat tim mereka kehilangan kemenangan serta rekor sempurna di fase grup.

3. Ghana Tidak Mendapat Penalti saat Melawan Inggris

Dalam hasil imbang tanpa gol melawan England, Ghana merasa dirugikan oleh keputusan wasit.

Pada menit ke-79, bek Inggris Ezri Konsa melakukan tekel terhadap Prince Kwabena Adu di dalam kotak penalti. Tayangan memperlihatkan Konsa tidak menyentuh bola dan mengenai lutut sang penyerang.

Meski demikian, wasit tidak memberikan penalti, sementara VAR juga tidak meminta peninjauan ulang. Seusai pertandingan, pelatih Ghana, Carlos Queiroz, menyindir keputusan tersebut dengan mengatakan, "VAR sedang pergi minum kopi."

4. Gol Vinicius Jr Dianulir dalam Kemenangan Brasil

Pada pertandingan Brasil melawan Skotlandia, Vinícius Júnior sempat menggandakan keunggulan Brasil setelah merebut bola dari bek Jack Hendry.

VAR kemudian meminta wasit melakukan on-field review. Setelah melihat monitor, gol dianulir karena Vinicius dianggap melakukan pelanggaran terhadap Hendry sebelum mencetak gol.

Keputusan tersebut dianggap terlalu keras karena kontak yang terjadi dinilai sangat ringan. Meski Brasil akhirnya tetap menang 3-0, Presiden Confederação Brasileira de Futebol, Samir Xaud, mengirim surat kepada FIFA agar standar intervensi VAR diterapkan secara lebih konsisten.

5. Gol Jerman Tetap Disahkan Meski Diduga Diawali Pelanggaran

Kontroversi lainnya muncul saat Germany kalah 1-2 dari Ecuador.

Gol cepat Leroy Sané pada menit kedua menjadi sorotan karena sebelumnya Aleksandar Pavlović diduga melakukan pelanggaran dengan mengangkat kaki terlalu tinggi hingga mengenai kepala Pedro Vite.

Meski para pemain Ekuador memprotes keras, VAR tidak melakukan intervensi dan gol tetap disahkan.

Fase grup Piala Dunia 2026 kembali memperlihatkan bahwa meskipun VAR dirancang untuk meningkatkan akurasi keputusan wasit, penerapannya masih memunculkan perdebatan. Offside yang ditentukan hingga hitungan milimeter, dugaan pelanggaran yang dianggap terlalu ringan, hingga insiden yang tidak ditinjau VAR menjadi bukti bahwa interpretasi terhadap teknologi tersebut masih menjadi salah satu isu paling kontroversial dalam sepak bola modern. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Wahyu Nurdiyanto
PenulisWahyu NurdiyantoWartawan Sertifikasi Madya, lulusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016 sebagai editor.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia