Advertisement
Olahraga

Kisah Yassine Bounou, Lahir di Kanada tetapi Memilih Mengabdi untuk Maroko

Yassine Bounou menjadi salah satu kiper terbaik dunia. Lahir di Kanada, ia memilih membela Maroko dan mengantar Atlas Lions mencetak sejarah di Piala Dunia.

TIMES Indonesia,
Kisah Yassine Bounou, Lahir di Kanada tetapi Memilih Mengabdi untuk Maroko
Yassine Bounou, sosok penting Timnas Maroko menembus perempat final Piala Dunia 2026. (foto: fifa)
A-AA+

JAKARTA Di balik kokohnya pertahanan Maroko dalam beberapa edisi Piala Dunia, ada sosok Yassine Bounou. Penjaga gawang yang akrab disapa Bono itu bukan hanya dikenal karena refleks luar biasanya di bawah mistar, tetapi juga karena perjalanan hidupnya yang unik. Meski lahir di Kanada, ia memilih membela negara asal keluarganya, Maroko, hingga menjadi salah satu legenda hidup Atlas Lions.

Pada Piala Dunia 2026, Bounou kembali menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu kiper terbaik dunia. Penyelamatannya saat adu penalti melawan Belanda di babak 32 besar menjadi salah satu momen penting yang membawa Maroko melaju ke fase berikutnya. Penampilan tersebut juga menandai laga internasionalnya yang ke-94, menjadikannya salah satu pemain dengan jumlah penampilan terbanyak dalam sejarah tim nasional Maroko.

Advertisement

Saat ini, Bounou membawa Maroko ke babak perempatfinal Piala Dunia 2026 usai menang 3-0 atas Kanada, Minggu (5/7/2026). Di perempatfinal, Maroko akan bertemu favorit kuat, Prancis pada 10 Juli mendatang.

Namun, kisah Bounou jauh lebih menarik daripada sekadar catatan statistik.

Lahir di Kanada, Besar di Maroko

Disadur dari fifa.com, Bounou lahir di Montreal, Kanada, ketika ayahnya, Mehmed, bekerja sebagai dosen fisika di sebuah universitas. Sang ibu, Maica, saat itu berprofesi sebagai penata rambut.

Saat usianya baru tiga tahun, keluarganya memutuskan kembali ke Casablanca, Maroko. Di kota itulah Bounou tumbuh besar, mengenal sepak bola, dan mulai memupuk impiannya menjadi pemain profesional.

Meski hanya menghabiskan masa kecil yang singkat di Kanada, ia mengaku negara tersebut tetap memiliki tempat tersendiri di hatinya. Bahkan Federasi Sepak Bola Kanada pernah berusaha membujuknya membela negara kelahirannya.

Advertisement

Namun, Bounou memilih jalan yang berbeda.

"Saya tumbuh besar di Maroko dan impian saya sejak kecil adalah bermain untuk tim nasional Maroko," ungkapnya.

Pernah Bermimpi Menjadi Penyerang

Tak banyak yang tahu, Bounou kecil sebenarnya tidak bercita-cita menjadi penjaga gawang.

Ia menghabiskan masa kecil bermain sepak bola di jalanan Casablanca bersama teman-temannya. Gawang dibuat dari dua tempat sampah dan tembok sebagai sasaran, sementara pertandingan berlangsung di jalan menanjak yang memaksa anak-anak berimprovisasi dengan berbagai aturan unik.

Saat itu, Bounou lebih senang bermain sebagai penyerang atau gelandang serang.

Idolanya bukan kiper legendaris, melainkan para bintang seperti Ronaldo Nazário, Ronaldinho, Rivaldo, Sergio Agüero, Cristiano Ronaldo, hingga Ariel Ortega. Sebagai penggemar River Plate, ia sering meniru aksi Ortega saat bermain di jalanan.

Hadiah untuk Sang Ibu

Kesuksesan sebagai pesepak bola profesional tidak membuat Bounou melupakan keluarganya.

Ketika mulai menerima penghasilan dari sepak bola, ia membeli bangunan tempat sang ibu menjalankan usaha. Langkah itu dilakukan agar ibunya tidak lagi khawatir kehilangan tempat berusaha.

Baginya, hadiah tersebut merupakan bentuk terima kasih atas pengorbanan orang tua yang selalu mendukung kariernya sejak kecil.

Menjadi Bintang di Eropa

Perjalanan profesional Bounou membawanya ke Spanyol. Ia sempat memperkuat Atlético Madrid, kemudian berkembang bersama Real Zaragoza dan Girona, sebelum mencapai puncak karier bersama Sevilla.

Di klub asal Andalusia itu, Bounou memenangkan dua gelar Liga Europa pada 2020 dan 2023. Ia juga meraih Trofeo Zamora musim 2021/2022 sebagai kiper terbaik Liga Spanyol setelah hanya kebobolan 24 gol dan mencatatkan 13 clean sheet dalam 31 pertandingan.

Pada 2023, ia melanjutkan karier bersama klub Arab Saudi, Al Hilal, dan tetap menjadi andalan tim nasional Maroko.

Penjaga Sejarah Maroko

Nama Bounou melejit di panggung dunia saat membawa Maroko menembus semifinal Piala Dunia 2022 di Qatar, pencapaian terbaik sepanjang sejarah negara tersebut sekaligus yang pertama bagi wakil Afrika.

Kemampuannya membaca arah penalti, ketenangan saat menghadapi tekanan, serta konsistensinya menjaga gawang membuatnya dianggap sebagai salah satu penjaga gawang terbaik dalam sejarah sepak bola Maroko.

Kini, setiap kali mengenakan seragam Atlas Lions, Bounou bukan sekadar berdiri di bawah mistar gawang. Ia menjadi simbol bahwa mimpi besar bisa lahir dari jalanan sederhana di Casablanca, dibangun dengan kerja keras, dan diwujudkan di panggung sepak bola tertinggi dunia. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Wahyu Nurdiyanto
PenulisWahyu NurdiyantoWartawan Sertifikasi Madya, lulusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016 sebagai editor.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia