Inggris vs Meksiko, Three Lions Dibayangi Tangan Tuhan Maradona di Azteca
Pelatih Inggris Thomas Tuchel mengenang kekalahan kontroversial dari Argentina di Estadio Azteca pada Piala Dunia 1986. Namun, ia menegaskan timnya kini fokus menulis sejarah baru saat menghadapi Meksiko.
JAKARTA – Estadio Azteca selalu menyimpan kenangan pahit bagi tim nasional Inggris. Stadion legendaris di Mexico City itu menjadi saksi salah satu pertandingan paling kontroversial dalam sejarah Piala Dunia, ketika Argentina menyingkirkan Inggris pada perempat final Piala Dunia 1986 melalui aksi ikonis Diego Maradona.
Empat dekade berselang, the Three Lions Inggris kembali menginjakkan kaki di stadion yang sama pada Piala Dunia 2026. Namun, kali ini lawan yang dihadapi bukan Argentina, melainkan tuan rumah Meksiko pada babak 16 besar, Senin (6/7/2026) dini hari nanti.
Pelatih Inggris, Thomas Tuchel, mengakui laga pada 22 Juni 1986 masih membekas dalam ingatan para pecinta sepak bola.
"Semuanya mengingat pertandingan itu. Ada dua gol yang menjadi ikon di stadion ini," ujar Tuchel.
Dalam pertandingan tersebut, Maradona mencetak dua gol yang hingga kini menjadi bagian penting sejarah sepak bola dunia.
Gol pertama lahir melalui aksi kontroversial yang kemudian dikenal sebagai "Hand of God" atau Tangan Tuhan, ketika Maradona menggunakan tangan kirinya untuk menaklukkan kiper Peter Shilton. Beberapa menit kemudian, legenda Argentina itu menciptakan "Goal of the Century" setelah menggiring bola dari wilayah pertahanan sendiri, melewati sejumlah pemain Inggris sebelum mencetak gol spektakuler.
Argentina akhirnya menang 2-1 dan melaju hingga menjadi juara dunia.
Untuk mengenang momen bersejarah tersebut, pengelola Estadio Azteca memasang sebuah plakat di salah satu lorong menuju lapangan. Plakat itu menjadi salah satu titik favorit wisatawan, khususnya pendukung Argentina, yang berkunjung ke stadion.
Meski mengakui kekalahan tersebut masih menyisakan luka, Tuchel menegaskan Inggris tidak datang ke Meksiko untuk membalas dendam.
"Itu memang masih menyakitkan. Lukanya masih ada, tetapi kami tidak datang ke sini untuk balas dendam," katanya.
Pelatih asal Jerman itu menilai situasi saat ini sudah sangat berbeda dibanding 1986.
Menurutnya, meski stadionnya sama, lawan yang dihadapi berbeda, begitu pula para pemain dan generasi yang terlibat.
"Ini stadion yang sama, tetapi bukan lawan yang sama. Bahkan jika lawannya Argentina sekalipun, mencari balas dendam tidak masuk akal. Kami datang ke sini untuk menulis babak baru," tegas Tuchel.
Empat puluh tahun setelah malam yang dikenang karena dua gol legendaris Maradona, Inggris kini memiliki kesempatan menciptakan kisah baru di Estadio Azteca. Bukan lagi dibayangi masa lalu, melainkan fokus mengejar langkah berikutnya di Piala Dunia 2026. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


