Luis de la Fuente dan Seni Membangun Keluarga di Balik Kebangkitan Spanyol
Luis de la Fuente membawa pendekatan berbeda di Timnas Spanyol. Ia tak hanya mengandalkan talenta dan penguasaan bola, tetapi membangun kekuatan tim lewat kebersamaan, disiplin, dan kedekatan dengan pemain.
JAKARTA – Di tengah gemerlap sepak bola modern yang sering mengagungkan nama besar pemain, Luis de la Fuente memilih jalan berbeda.
Bagi pelatih Timnas Spanyol itu, sebuah tim tidak dibangun hanya dari kemampuan teknis, statistik, atau daftar pemain dengan harga pasar tinggi. Sebuah tim juara lahir dari hubungan antarpemain, rasa percaya, dan kesediaan setiap individu menempatkan kepentingan bersama di atas ego pribadi.
Filosofi itulah yang perlahan mengubah wajah La Roja.
Spanyol datang ke Piala Dunia 2026 bukan hanya dengan deretan pemain berbakat seperti Lamine Yamal, Pedri, atau Rodri. Mereka datang dengan identitas baru: tim yang bermain sebagai satu kesatuan.
De la Fuente memahami bahwa sepak bola internasional memiliki tantangan berbeda dibanding klub. Waktu bersama pemain sangat terbatas. Karena itu, membangun ikatan emosional menjadi bagian penting dari pekerjaannya.
"Sepak bola bukan hanya soal teknik dan taktik. Ada nilai manusia yang harus dibangun," menjadi gambaran pendekatan yang ia bawa bersama Spanyol.
Dari Pembina Pemain Muda hingga Pemimpin La Roja
Perjalanan De la Fuente menuju kursi pelatih utama Spanyol tidak datang secara tiba-tiba.
Sebelum menangani tim senior, ia menghabiskan bertahun-tahun bekerja dalam sistem pembinaan sepak bola Spanyol. Ia mengenal karakter pemain muda, memahami proses perkembangan mereka, dan terbiasa membangun fondasi sebelum mengejar hasil akhir.
Pengalaman itu menjadi modal besar ketika ia dipercaya menggantikan Luis Enrique sebagai pelatih Timnas Spanyol pada 2022.
Banyak yang melihat keputusan tersebut sebagai perjudian. Namun De la Fuente menjawab keraguan dengan cara sederhana: mempertahankan identitas sepak bola Spanyol, tetapi memberikan sentuhan baru.
Ia tidak berusaha menghapus masa lalu La Roja.
Sebaliknya, ia mengambil filosofi penguasaan bola yang menjadi ciri khas Spanyol, lalu menambahkan unsur agresivitas, fleksibilitas, dan keseimbangan.
Hasilnya mulai terlihat ketika Spanyol berhasil meraih gelar UEFA Euro 2024. Prestasi itu memperkuat keyakinan bahwa pendekatan De la Fuente mampu membawa Spanyol kembali menjadi kekuatan utama dunia.
Mengutamakan Tim di Atas Nama Besar
Salah satu ciri khas kepelatihan De la Fuente adalah keberaniannya mengambil keputusan sulit.
Ia tidak selalu memilih pemain berdasarkan reputasi. Baginya, kebutuhan sistem lebih penting dibanding popularitas seorang pemain.
Dalam beberapa pertandingan Piala Dunia 2026, keputusan rotasi pemain menjadi bukti bahwa De la Fuente percaya pada seluruh anggota skuad. Bahkan pemain yang masuk sebagai pengganti mampu memberikan dampak besar ketika dipercaya.
Pendekatan tersebut menciptakan atmosfer kompetitif yang sehat.
Pemain utama tidak merasa aman sepenuhnya. Pemain cadangan tetap merasa memiliki peran penting.
Semua bagian skuad merasa dibutuhkan.
"Yang paling penting adalah semua pemain memahami bahwa mereka punya peran," menjadi prinsip yang terlihat dari cara De la Fuente membangun ruang ganti Spanyol.
Taktik Modern dengan Sentuhan Sepak Bola Tradisional
Di lapangan, Spanyol tetap mempertahankan DNA permainan mereka.
Penguasaan bola, kombinasi cepat, dan kontrol lini tengah masih menjadi dasar permainan.
Namun De la Fuente memberikan perubahan besar dalam aspek lain.
Spanyol kini lebih fleksibel ketika kehilangan bola. Mereka lebih agresif melakukan tekanan dan lebih disiplin dalam bertahan.
Perubahan itu membuat La Roja tidak lagi hanya dikenal sebagai tim yang mendominasi penguasaan bola, tetapi juga sebagai tim yang mampu beradaptasi menghadapi berbagai gaya permainan.
Dalam kemenangan atas Prancis di semifinal Piala Dunia 2026, misalnya, Spanyol menunjukkan keseimbangan antara penguasaan bola dan organisasi pertahanan. Mereka mampu meredam serangan lawan sekaligus memanfaatkan peluang secara efektif.
Rahasia De la Fuente: Membangun Hubungan, Bukan Sekadar Strategi
Bagi De la Fuente, ruang ganti adalah tempat pertama sebuah kemenangan dibangun.
Ia melihat pemain bukan hanya sebagai aset olahraga, tetapi sebagai manusia dengan karakter, emosi, dan kebutuhan berbeda.
Pendekatan seperti seorang mentor membuat banyak pemain muda merasa nyaman berkembang di bawah arahannya. FIFA bahkan menggambarkan De la Fuente sebagai sosok figur ayah bagi skuad Spanyol karena kedekatannya dengan para pemain.
Namun kedekatan itu tidak berarti menghilangkan disiplin.
Justru sebaliknya, De la Fuente menuntut standar tinggi. Pemain harus bekerja keras, menghormati keputusan pelatih, dan memahami tanggung jawab mengenakan seragam Spanyol.
Spanyol dan Mimpi Mengangkat Trofi Dunia
Kini, filosofi De la Fuente diuji di panggung terbesar.
Piala Dunia tidak hanya membutuhkan pemain hebat. Turnamen ini membutuhkan mentalitas, konsistensi, dan kemampuan bertahan dalam tekanan.
Spanyol memiliki generasi emas baru. Namun De la Fuente tahu, talenta saja tidak cukup.
Sebuah tim juara harus memiliki jiwa.
Dan itulah warisan terbesar yang sedang ia bangun: menjadikan Spanyol bukan hanya kumpulan pemain berbakat, tetapi sebuah keluarga yang bergerak menuju tujuan yang sama.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


