Lionel Scaloni: Dari Pelatih yang Diremehkan hingga Membawa Argentina Kembali ke Puncak Dunia
Lionel Scaloni menjadi sosok penting di balik kebangkitan Timnas Argentina. Datang ketika Albiceleste berada dalam tekanan besar, Scaloni perlahan membangun tim dengan karakter baru.
JAKARTA – Ada masa ketika Timnas Argentina selalu hidup dalam bayang-bayang kejayaan masa lalu.
Negara yang melahirkan Diego Maradona dan Lionel Messi itu memiliki segudang talenta, tetapi bertahun-tahun gagal mengangkat trofi besar. Tekanan semakin besar setelah Argentina mengalami kegagalan demi kegagalan di final Copa America dan Piala Dunia.
Ketika Lionel Scaloni datang pada 2018, banyak yang meragukan kemampuannya.
Ia bukan pelatih dengan daftar prestasi panjang. Ia bukan nama besar yang sudah terbukti di klub elite Eropa. Bahkan sebelum menjadi pelatih utama Argentina, Scaloni lebih dikenal sebagai asisten Jorge Sampaoli dalam Piala Dunia 2018.
Namun, justru dari posisi yang tidak diperhitungkan itu, Scaloni membangun sesuatu yang berbeda.
Ia tidak hanya mencari cara memenangkan pertandingan.
Ia membangun kembali kepercayaan diri sebuah bangsa sepak bola.
Dari Pemain Pekerja Keras hingga Pelatih Juara Dunia
Sebelum dikenal sebagai sosok yang membawa Argentina kembali ke puncak dunia, Lionel Scaloni lebih dulu menjalani perjalanan panjang sebagai pemain.
Lahir di Pujato, Santa Fe, Argentina, pada 16 Mei 1978, Scaloni bukanlah pemain dengan gaya glamor seperti banyak bintang Argentina lainnya. Ia dikenal sebagai pemain pekerja keras yang mengandalkan kecerdasan membaca permainan, disiplin, dan kemampuan bertahan.
Posisi utama Scaloni adalah bek kanan, meski ia juga mampu bermain sebagai gelandang kanan. Fleksibilitas tersebut menjadi salah satu karakter yang melekat sepanjang kariernya.
Scaloni mengawali karier profesional bersama klub Argentina, Newell's Old Boys, pada pertengahan 1990-an. Setelah tampil menjanjikan, ia pindah ke Estudiantes de La Plata sebelum kemudian menarik perhatian klub Spanyol.
Pada 1998, Scaloni bergabung dengan Deportivo La Coruna. Di klub inilah namanya mulai dikenal di Eropa.
Bersama Deportivo, ia menjadi bagian dari salah satu periode terbaik klub tersebut. Scaloni ikut merasakan atmosfer sepak bola level tertinggi Eropa dan tampil di kompetisi seperti Liga Champions. Ia juga menjadi bagian dari skuad Deportivo yang memenangkan La Liga musim 1999/2000, Copa del Rey 2002, serta Piala Super Spanyol.
Meski bukan pemain utama yang selalu menjadi sorotan, Scaloni memiliki peran penting sebagai pemain yang bisa diandalkan dalam berbagai situasi.
Setelah bertahun-tahun bersama Deportivo, ia sempat menjalani masa peminjaman ke West Ham United di Liga Inggris pada 2006. Setelah itu, ia kembali ke Spanyol dan memperkuat Racing Santander.
Kariernya kemudian berlanjut bersama beberapa klub Italia. Scaloni bermain untuk Lazio, lalu sempat kembali ke Deportivo La Coruna sebelum mengakhiri karier profesionalnya di klub Italia tersebut pada 2015.
Secara keseluruhan, perjalanan klub Scaloni mencakup beberapa kompetisi besar Eropa. Ia pernah bermain di:
- Newell's Old Boys (Argentina)
- Estudiantes de La Plata (Argentina)
- Deportivo La Coruna (Spanyol)
- West Ham United (Inggris)
- Racing Santander (Spanyol)
- Lazio (Italia)
- Atalanta (Italia)
Di level internasional, Scaloni juga pernah memperkuat Timnas Argentina. Ia menjadi bagian dari skuad Argentina pada Piala Dunia 2006 di Jerman dan mencatat beberapa penampilan untuk negaranya.
Menariknya, pengalaman Scaloni sebagai pemain bukanlah tentang menjadi superstar. Justru dari perjalanan sebagai pemain pelapis, pekerja keras, dan pemain serba bisa, ia kemudian membawa karakter tersebut ke dalam gaya kepelatihannya.
Datang Saat Argentina Kehilangan Arah
Argentina memasuki periode setelah Piala Dunia 2018 dengan banyak pertanyaan.
Skuad lama mulai kehilangan energi. Ketergantungan terhadap Lionel Messi masih sangat besar. Sementara generasi baru belum sepenuhnya mendapatkan tempat.
Scaloni memilih melakukan perubahan.
Ia mulai memberikan kesempatan kepada pemain muda seperti Rodrigo De Paul, Lautaro Martinez, dan beberapa nama baru yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan Argentina.
Keputusan tersebut tidak selalu berjalan mulus.
Banyak yang mempertanyakan mengapa Scaloni berani meninggalkan beberapa nama besar. Namun ia percaya bahwa tim nasional membutuhkan keseimbangan baru.
Bukan hanya pemain terbaik secara individu.
Tetapi pemain yang cocok dengan visi permainan.
Mengubah Argentina dari Kumpulan Bintang Menjadi Sebuah Tim
Salah satu keberhasilan terbesar Scaloni adalah menghilangkan ketergantungan Argentina terhadap satu pemain.
Lionel Messi tetap menjadi pusat permainan. Namun Scaloni membangun lingkungan yang membuat sang kapten tidak harus memikul seluruh beban sendirian.
Argentina mulai memiliki pemain yang siap bekerja untuk Messi.
Ada Rodrigo De Paul yang menjadi mesin di lini tengah. Ada Lautaro Martinez yang memberi ancaman di depan. Ada Emiliano Martinez yang menghadirkan rasa aman di bawah mistar.
Semua pemain memiliki fungsi.
Inilah yang membuat Argentina berbeda.
Scaloni tidak membangun tim berdasarkan ego individu, tetapi berdasarkan kebutuhan kolektif.
Filosofi tersebut menjadi fondasi ketika Argentina mengakhiri puasa gelar dengan memenangkan Copa America 2021, lalu meraih Finalissima dan Piala Dunia 2022.
Perjalanan Karier Kepelatihan Scaloni
Sebelum menjadi pelatih kepala Argentina, Scaloni lebih dulu mengawali dunia kepelatihan dari level usia muda.
Setelah pensiun sebagai pemain pada 2015, ia mulai bekerja di lingkungan kepelatihan Timnas Argentina.
Ia bergabung sebagai bagian dari staf Jorge Sampaoli dan menjadi salah satu asisten dalam Piala Dunia 2018 Rusia.
Setelah kegagalan Argentina di turnamen tersebut, Scaloni dipercaya sebagai pelatih sementara. Banyak pihak menganggap keputusan itu hanya solusi jangka pendek.
Namun performanya membuat federasi Argentina akhirnya memberikan kepercayaan penuh.
Karier kepelatihan Scaloni:
- Timnas Argentina U-20 (2018) – membawa Argentina tampil di Turnamen Toulon.
- Timnas Argentina senior (2018-sekarang) – membangun era kejayaan baru Albiceleste.
Di bawah kepemimpinannya, Argentina meraih:
- Copa America 2021
- Finalissima 2022
- Piala Dunia 2022
- Copa America 2024
Prestasi tersebut membuat Scaloni masuk dalam jajaran pelatih paling sukses dalam sejarah sepak bola Argentina.
Gaya Scaloni: Fleksibel, Tenang, dan Adaptif
Di lapangan, Argentina versi Scaloni memiliki identitas yang jelas.
Mereka mampu bermain dengan penguasaan bola, tetapi juga tidak ragu bermain lebih pragmatis ketika menghadapi lawan sulit.
Scaloni bukan tipe pelatih yang terpaku pada satu sistem.
Ia dikenal sebagai pelatih yang berani mengubah pendekatan berdasarkan situasi pertandingan.
Melawan tim dengan pressing tinggi, Argentina bisa bermain lebih sabar.
Saat membutuhkan gol, mereka mampu meningkatkan intensitas serangan.
Fleksibilitas menjadi salah satu kekuatan terbesar Albiceleste.
Rahasia Utama Scaloni: Hubungan dengan Pemain
Selain strategi, ada satu hal yang sering disebut sebagai kekuatan terbesar Scaloni: hubungan manusia.
Ia dikenal sebagai pelatih yang dekat dengan pemain.
Pengalaman panjang sebagai pemain membuatnya memahami bagaimana membangun ruang ganti yang sehat.
Scaloni bukan sosok yang hanya melihat pemain dari status atau nama besar.
Ia memberikan rasa penting kepada seluruh anggota skuad.
Pemain inti maupun pemain cadangan tetap merasa memiliki peran.
Pendekatan itu menciptakan atmosfer positif dalam tubuh Argentina.
Dari Keraguan Menuju Sejarah
Ketika Scaloni pertama kali mengambil alih Argentina, banyak yang menganggapnya sebagai pilihan sementara.
Kini, namanya sejajar dengan pelatih legendaris Albiceleste seperti César Luis Menotti dan Carlos Bilardo yang pernah membawa Argentina menjadi juara dunia.
Perjalanan Scaloni membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari nama besar.
Kadang, sebuah era baru justru dimulai dari seseorang yang datang tanpa banyak sorotan.
Ia membangun perlahan.
Ia memperbaiki satu per satu.
Dan akhirnya, ia mengubah Argentina menjadi tim yang kembali ditakuti dunia.
Tantangan Berikutnya: Mempertahankan Warisan
Menjadi juara adalah satu hal.
Mempertahankan kejayaan adalah tantangan yang jauh lebih berat.
Di Piala Dunia 2026, Scaloni membawa Argentina dengan status berbeda. Mereka bukan lagi tim yang mengejar pengakuan, melainkan juara bertahan yang menjadi target banyak lawan.
Namun, kekuatan terbesar Argentina bukan hanya pada trofi.
Melainkan pada budaya yang telah dibangun Scaloni.
Sebuah tim yang percaya satu sama lain.
Sebuah tim yang tidak lagi bergantung pada satu nama.
Dan sebuah generasi yang ingin menjaga warisan kejayaan Albiceleste tetap hidup.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


