Sportivitas Sepak Bola
Dalam teori sosial dianjurkan bahwa setiap kelompok atau beberapa individu yang melakukan perjalanan, maka harus ada yang menjadi pemimpin atau komando bagi kelompoknya.
JAKARTA – TAHUN 2010 lalu saya berkesempatan mengikuti reseach fellow di Jerman selama satu bulan. Pada hari Minggu saat free kegiatan, saya manfaatkan untuk menonton bola kesebelasan Red Bull Leipzig versus ZFC Meuselwitz (keduanya termasuk kesebelasan Jerman Timur). Kesempatan yang susah didapatkan bagi orang Indonesia yang berkunjung ke Eropa adalah bisa menonton pertandingan sepak bola di stadion bertaraf internasional.
Saya benar-benar merasakan kegembiraan dapat menonton langsung pertandingan sepak bola yang prestisius itu. Kebetulan tempat tinggal saya di kawasan Leipzig, sehingga oleh Dr. Toralf –yang memandu saya di sana—saya dianggap mewakili supporter R.B. Leipzig. Kebetulan juga kesebelasan R.B Leipzig saat itu dapat memenangkan kesebelasan ZFC Meuselwitz 3:0. Tepuk sorai mewarnai stadion itu. Kami pun seakan menjadi supporter mereka, turut yel-yel ketika R.B.Leipzig menang.
Stadion itu memuat kapasitas penonton kl. 12.000 orang. Jika selama ini saya menyaksikan pertandingan sepak bola Eropa melalui TV, maka kali ini benar-benar langsung di depan mata. Bagaimana seorang pemain sepak bola Eropa berlaga di lapangan, dan bagaimana pula para supporter gegap gempita, menabuh drum dan beryel-yel, persis seperti yang kita tonton di TV Indonesia. Bagaimana pula security bertugas, kami pun melihat langsung semua itu. Di sana semuanya serba rapi dan terkendali. Para penonton dilarang membawa minuman botol dan kita semua benar-benar diperiksa.
Kenapa kita dilarang membawa minuman botol dan segala macam benda bawaan? Karena menghindari terjadinya pelemparan-pelemparan dan segala kemungkinan yang tidak di inginkan dalam arena, sebagaimana yang sering terjadi pada penonton kita. Jika mereka kepingin makan jajanan dan minuman sudah disediakan mini resto (non botol) di dalam stadion dan bisa dibawa ke arena tribun. Tidak ada orang jualan makanan dan minuman yang berkeliling di arena stadion seperti umumnya di negeri kita. Tidak ada kerusuhan, baik yang dilakukan oleh pemain maupun penonton.
Semula saya ada perasaan khawatir juga, jangan-jangan ada kerusuhan yang terjadi di arena itu, karena saya melihat tampang mereka seram-seram. Apalagi di Indonesia (Malang) saya tidak pernah menonton pertandingan sepak bola di stadion, ya karena menghindari tawuran supporter dan kerusuhan. Ternyata situasi di arena stadion Jerman aman-aman saja, malah tertib dan terkendali. Gak ada tawuran sekecil apa pun. Saya sendiri kebetulan membawa sal singo edan (Aremania), sehingga seperti supporter beneran.
Sportivitas Sepak Bola
Sepak bola atau olah raga apapun jenis dan cabangnya adalah merupakan aktivitas yang harus dilakukan secara sportif. Sportivitas merupakan pola sikap yang mesti dimiliki oleh seorang olahragawan dan para supporternya. Prinsip yang dibangun adalah, bahwa “lawan bertanding” adalah “kawan bertanding” yang diikat oleh persahabatan. Sportivitas juga merupakan sikap mental yang menunjukkan ksatria seorang olahragawan.
Dalam setiap pertunjukan seperti halnya pertandingan sepak bola sudah barang tentu melibatkan kerumunan. Kerumunan (crowd) adalah suatu bentuk interaksi sosial yang bersifat temporer dan seringkali berdampak timbulnya rasa emosional, senang, sedih dan panik yang dialami oleh individu dan kelompok, serta memunculkan dampak pada lingkungan sosial di sekitarnya. Sehingga seorang individu dapat dipengaruhi ataupun mempengaruhi lingkungan sosialnya.
Dalam teori sosial dinyatakan, bahwa setiap kerumunan (crowd) mengandung unsur gesekan jika tidak dimenej dengan baik dan benar. Karena dalam setiap kerumunan ada kecenderungan seseorang memiliki sikap yang tidak terkontrol dan berani melakukan tindakan yang menyimpang. Orang yang sehari-harinya memiliki sikap pendiam sekalipun, jika tergabung dalam kerumunan --apalagi jika kerumunan tersebut tidak ada petugas keamanan yang dapat mengontrol tindakan individu dan kelompok-- maka sudah dapat dipastikan akan menimbulkan terjadinya konflik, minimal konflik verbal.
Maka, di sinilah perlunya keamanan dan security yang mengaturnya. Dalam teori sosial juga dianjurkan, bahwa setiap kelompok atau beberapa individu yang melakukan perjalanan, maka harus ada yang menjadi pemimpin atau komando bagi kelompoknya. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada individu yang berjalan sendiri-sendiri atau melakukan perbuatan yang menyimpang dari ketentuan dan aturan yang berlaku dalam kelompok tersebut, apalagi jika kelompok itu terdiri dari banyak individu.
Insiden Kerusuhan
Insiden kerusuhan dalam kerumunan (crowd) juga dipicu oleh psikologi massa. Dalam konteks pertandingan laga sepak bola, maka ada beberapa pemicu kerusuhan: pertama, oleh pemain itu sendiri, kedua, oleh wasit, dan ketiga oleh supporter. Pada umumnya pemicu kerusuhan dalam pertandingan sepak bola dipicu oleh supporter yang kalah. Kekalahan sendiri juga dapat dianggap karena wasit tidak adil dan tidak objektif. Maka di sini wasit mesti adil dan tidak punya conflict of interest.
Dalam konteks insiden kerusuhan di final Piala Dunia 2026 yang baru lalu, sebagaimana yang dilansir oleh CNN Indonesia, bahwa penyebab awal kersuhan yang terjadi antara pemain Spanyol dan Argentina setelah final Piala Dunia 2026 berakhir, karena dipicu oleh Bek kanan Argentina, Nahuel Molina.
Di saat final usai, para pemain Spanyol sedang meluapkan kegembiraannya. Mereka berlarian dan berpelukan satu sama lain sebagaimana yang lazim dilakukan oleh para pemenang. Sementara itu, di momen ini, para pemain Argentina masih terpaku meratapi kekalahan dan berdiam di lapangan. Dan pada momen ini pula Molina berulah meluapkan emosinya.
Jadi problemnya, dalam konteks kerusuhan antara pemain Spanyol dan Argentina setelah final Piala Dunia 2026 di sini, adalah karena pemain itu sendiri (Molina), bukan wasil dan supporter. Padahal olah raga adalah icon sportivitas, apalagi ini laga dunia, namun nyatanya diciderai oleh pemainnya sendiri. Dan tidak kalah pentingnya FIFA mesti adil dan objektif sebagai penyelenggara turnamen besar Piala Dunia. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

