Advertisement
Olahraga

Aleksander Ceferin Boikot Final Piala Dunia 2026, Ketegangan UEFA dan FIFA Kian Terbuka

Presiden UEFA memilih absen dari final Piala Dunia 2026 sebagai bentuk protes terhadap kepemimpinan FIFA dan kehadiran Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Langkah itu memperlihatkan hubungan dua organisasi sepak bola terbesar dunia yang kembali memanas

TIMES Indonesia,
Aleksander Ceferin Boikot Final Piala Dunia 2026, Ketegangan UEFA dan FIFA Kian Terbuka
Aleksander Ceferin menjadi sorotan setelah absen pada final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, New Jersey. Keputusannya disebut berkaitan dengan protes terhadap sejumlah kebijakan FIFA. (Vitalii Vitleo / Shutterstock)
A-AA+

JAKARTA Hubungan antara UEFA dan FIFA kembali menjadi sorotan setelah Presiden UEFA Aleksander Ceferin tidak menghadiri final Piala Dunia 2026. Ketidakhadirannya pada laga puncak antara Spanyol melawan Argentina di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat, disebut bukan sekadar persoalan jadwal, melainkan bentuk protes terhadap Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA).

Dilansir dari Bola.com, keputusan Ceferin memboikot partai final menjadi sinyal terbaru memanasnya hubungan antara UEFA dan FIFA. Sikap tersebut juga dikaitkan dengan kehadiran Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang ikut menghadiri laga final dan menyerahkan trofi kepada tim juara.

Advertisement

Ketidakhadiran orang nomor satu UEFA itu langsung memicu perhatian publik sepak bola internasional. Pasalnya, final Piala Dunia merupakan agenda paling bergengsi dalam kalender sepak bola dunia dan biasanya dihadiri para petinggi federasi dari berbagai negara.

Ketegangan UEFA dan FIFA Kembali Muncul

Hubungan UEFA dan FIFA dalam beberapa tahun terakhir memang tidak selalu berjalan mulus.

Kedua organisasi beberapa kali memiliki pandangan berbeda mengenai arah perkembangan sepak bola internasional. Mulai dari perluasan jumlah peserta Piala Dunia, penambahan kalender pertandingan, hingga berbagai kebijakan komersial FIFA yang dinilai semakin padat.

Menurut sejumlah laporan media Eropa, absennya Ceferin merupakan bentuk ketidakpuasan terhadap sejumlah keputusan FIFA yang dianggap kurang melibatkan konfederasi dalam proses pengambilan kebijakan strategis.

Situasi tersebut diperburuk oleh meningkatnya dominasi FIFA dalam berbagai agenda sepak bola global yang dinilai membuat ruang gerak konfederasi menjadi semakin terbatas.

Advertisement

Kehadiran Donald Trump Jadi Sorotan

Selain persoalan hubungan antarlembaga, kehadiran Donald Trump dalam final Piala Dunia 2026 ikut memicu kontroversi.

Trump hadir di MetLife Stadium bersama Presiden FIFA Gianni Infantino dan ikut menyerahkan trofi kepada kapten Timnas Spanyol setelah pertandingan berakhir.

Momen tersebut menuai beragam respons, terutama di Eropa. Sebagian pihak menilai FIFA terlalu dekat dengan kepentingan politik, meski organisasi itu selama ini menegaskan prinsip netralitas dalam sepak bola.

Bagi UEFA, langkah tersebut dinilai semakin mempertegas perbedaan pendekatan antara kedua organisasi dalam mengelola sepak bola dunia.

Meski demikian, FIFA belum memberikan tanggapan resmi mengenai alasan ketidakhadiran Ceferin maupun berbagai spekulasi yang berkembang.

Final Piala Dunia Tetap Berjalan Meriah

Terlepas dari dinamika politik sepak bola, partai final tetap berlangsung spektakuler.

Spanyol berhasil mengalahkan Argentina dengan skor 1-0 melalui gol Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu. Kemenangan itu memastikan La Roja meraih gelar juara dunia untuk kedua kalinya setelah sukses pada edisi 2010.

Pertandingan disaksikan puluhan ribu penonton yang memadati MetLife Stadium. Jutaan pasang mata di berbagai negara juga mengikuti laga tersebut melalui siaran televisi dan platform digital.

Piala Dunia 2026 sendiri mencatat sejarah sebagai edisi pertama yang diikuti 48 negara dan digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, serta Meksiko.

Di sisi bisnis, turnamen ini juga memecahkan rekor pendapatan FIFA dengan nilai lebih dari US$15 miliar atau sekitar Rp268 triliun, menjadikannya Piala Dunia paling menguntungkan sepanjang sejarah.

Hubungan FIFA dan UEFA Jadi Perhatian

Boikot yang dilakukan Presiden UEFA diperkirakan akan memperpanjang daftar persoalan yang harus dihadapi FIFA setelah turnamen berakhir.

Sejumlah pengamat menilai hubungan harmonis antara FIFA dan UEFA sangat penting mengingat kedua organisasi memiliki pengaruh besar terhadap arah perkembangan sepak bola dunia.

UEFA merupakan konfederasi dengan kompetisi klub paling bergengsi dan menyumbang sebagian besar kekuatan sepak bola global. Sementara FIFA memiliki kewenangan penuh dalam penyelenggaraan Piala Dunia serta berbagai turnamen internasional.

Jika hubungan keduanya terus memanas, bukan tidak mungkin berbagai agenda sepak bola internasional ke depan akan diwarnai perbedaan kepentingan yang lebih terbuka.

Hingga kini, baik FIFA maupun UEFA belum mengeluarkan pernyataan resmi yang mengindikasikan adanya upaya rekonsiliasi. Namun, absennya Aleksander Ceferin di final Piala Dunia 2026 menjadi simbol bahwa ketegangan di level elite sepak bola dunia belum sepenuhnya mereda.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rizal Dani P
PenulisRizal Dani PSarjana Ekonomi Manajemen Universitas Merdeka Malang (2022). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia