Otomotif

Pakar Mesin UMM Tanggapi Kecelakaan Bus Masuk Jurang karena Hand Rem

Kamis, 11 Mei 2023 - 15:55 | 533.98k
pakar Mesin UMM Iis Siti Aisyah, ST. MT. PhD. IPM, yang juga sebagai dosen Teknik Mesin. (Foto: Humas UMM for TIMES Indonesia)
pakar Mesin UMM Iis Siti Aisyah, ST. MT. PhD. IPM, yang juga sebagai dosen Teknik Mesin. (Foto: Humas UMM for TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Beberapa hari lalu, jagat media sosial sempat dihebohkan dengan peristiwa jatuhnya bus ke dalam jurang sedalam 15 meter. Bus yang semula berada pada posisi terparkir, meluncur ke jalanan menurun hingga akhirnya jatuh tanpa adanya pengemudi. Sontak kejadian tersebut menjadi viral. Bus yang membawa rombongan peziarah itu jatuh di kawasan wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pada Minggu (7/5/2023) lalu. 

Peristiwa tersebut diduga karena terjadi kegagalan fungsi hand rem pada bus. Peristiwa itu pun mendapat perhatian dari pakar Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Iis Siti Aisyah, ST. MT. PhD. IPM, yang juga sebagai dosen teknik mesin. 

Dia mengatakan, seharusnya sopir bus tidak meninggalkan bus dalam keadaan menyala walaupun sudah di-handrem. Apalagi di kondisi jalan yang curam atau adanya kemiringan.

“Dalam keadaan parkir, seharusnya mesin mobil dimatikan. Meskipun tidak ada aturan yang melarang hal ini di Indonesia, meninggalkan kendaraan terlalu lama dalam keadaan parkir akan sangat membahayakan. Mesin kendaraan sangat panas dan selalu ada di buku petunjuk untuk tidak memanaskan kendaraan terlalu lama. Jika terlalu lama, hal itu bisa menyebabkan terbakarnya kendaraan. Karena kendaraan berhenti, proses pendinginan yang biasa didapat dari aliran udara yang mengalir (bergerak) tidak tersedia. Sehingga mesin dan saluran buang cenderung lebih cepat panas,” jelasnya, Kamis (11/5/2023).

Lebih lanjut, Lis mengatakan, hand rem tidaklah sekuat rem utama sehingga ada batas maksimum berat muatan dan kemiringan yang bisa diatasi olehnya. Jika tidak diawaki, maka kejadian-kejadian diluar kebiasaan bisa menyebabkan terjadinya kendaraan bergerak.

“Handrem itu tidak pernah pakem. Karena dia sistemnya mekanik dan dibagi keempat roda tarikannya. Sebagai ilustrasi, Kalau rem tangan (handrem) terpasang dan kendaraan digas, maka rem tidak cukup kuat untuk mengatasi daya mesin,” tegas Iis.

Ketua Prodi Teknik Mesin UMM itu menambahkan, posisi jalanan menurun tentu menambah gaya gravitasi, apalagi dengan kapasitas penumpang yang terisi penuh. Sehingga beban yg ditanggung tidak mampu ditahan oleh hand rem. Kemiringan akan membuat gaya resultan bergeser. Berbeda jika kendaraan parkir di permukaan rata. Gaya resultan akibat berat kendaraan akan tegak lurus dengan sumbu sejajar kendaraan. 

“Jika parkir di permukaan miring, maka resultan gayanya menjadi tidak tegak lurus tetapi membentuk sudut sesuai kemiringan. Semakin besar kemiringan, semakin besar pula sudut resultannya. Hal itu memberikan tarikan akibat resultan gaya dikarenakan berat kendaraan ke depan atau belakang kendaraan (tergantung posisi kemiringan kendaraan dan posisi titik beratnya),” kata Iis.

Terakhir, dosen asal Sukoharjo, Jawa Tengah itu menyampaikan, perlu adanya pengetahuan khusus bagi pengemudi atau sopir kendaraan-kendaraan besar. Selain itu, regulasi juga perlu diperketat karena kecelakaan seringkali terjadi berkat kelalaian pengemudi dan kondisi kendaraan yang tidak sesuai. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES