Advertisement
Otomotif

Mercedes Terancam Aturan Baru AS, Sorotan Bergeser dari Nazi ke China

Mercedes-Benz berpotensi terdampak RUU baru Senat AS terkait kepemilikan China. Meski begitu, sejumlah senator memastikan merek asal Jerman itu tidak akan dilarang.

TIMES Indonesia,
Mercedes Terancam Aturan Baru AS, Sorotan Bergeser dari Nazi ke China
Mercedes-Benz C 400 4MATIC. [mercedes-benz]
A-AA+

JAKARTA Puluhan tahun setelah bayang-bayang sejarahnya dengan Nazi Jerman memicu kontroversi di Amerika Serikat (AS), Mercedes-Benz kini kembali menghadapi sorotan. Kali ini, bukan karena masa lalunya, melainkan karena keterkaitannya dengan investor asal China yang berpotensi menyeret produsen mobil mewah tersebut ke dalam pusaran regulasi baru di Negeri Paman Sam.

Senat AS tengah membahas rancangan undang-undang (RUU) yang bertujuan membatasi perusahaan otomotif dengan kepemilikan signifikan dari China. Regulasi tersebut merupakan bagian dari strategi Washington untuk mengurangi pengaruh Beijing dalam industri otomotif yang semakin bergantung pada teknologi digital dan kendaraan terkoneksi.

Advertisement

Kepemilikan Investor China Jadi Sorotan

Dalam rancangan aturan yang telah lolos dari Komite Perdagangan Senat, produsen mobil dengan kepemilikan investor China melebihi 15 persen berpotensi menghadapi pembatasan beroperasi di pasar Amerika Serikat.

Mercedes menjadi salah satu perusahaan yang ikut terdampak karena memiliki dua pemegang saham besar asal China, yakni BAIC, perusahaan otomotif milik pemerintah China, serta Li Shufu, pendiri Geely Group.

Jika digabungkan, kepemilikan saham keduanya mendekati 20 persen, melampaui ambang batas yang sedang dipertimbangkan dalam rancangan regulasi tersebut.

Senator Pastikan Mercedes Tidak Akan Dilarang

Meski demikian, sejumlah anggota parlemen AS menegaskan bahwa Mercedes bukan target utama kebijakan tersebut.

Senator Ted Cruz menyatakan dalam pembahasan di komite bahwa pihaknya tidak pernah berniat melarang Mercedes-Benz beroperasi di Amerika Serikat.

Advertisement

Senada dengan itu, Senator Bernie Moreno mengatakan Mercedes memiliki waktu hingga 2030 untuk menyelesaikan persoalan struktur kepemilikan sahamnya. Perusahaan juga masih memiliki peluang mengajukan pengecualian apabila memenuhi persyaratan yang ditetapkan pemerintah.

Pernyataan tersebut memberi sinyal bahwa regulasi lebih diarahkan untuk membatasi pengaruh strategis China di industri otomotif, bukan menghentikan operasi merek-merek global yang telah lama hadir di pasar AS.

AS Perketat Pengaruh China di Industri Otomotif

Kasus Mercedes mencerminkan semakin agresifnya langkah pemerintah Amerika Serikat dalam membatasi keterlibatan China pada sektor otomotif.

Sebelumnya, aturan mengenai connected car yang diperkenalkan pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden melarang penggunaan perangkat lunak konektivitas asal China pada kendaraan model tahun 2027, disusul larangan penggunaan perangkat keras asal China mulai model tahun 2030.

Kebijakan tersebut didasarkan pada kekhawatiran terhadap keamanan nasional, khususnya terkait potensi akses terhadap data kendaraan dan sistem komunikasi digital.

Salah satu dampaknya adalah Polestar, produsen kendaraan listrik yang mayoritas sahamnya dimiliki Geely, menghentikan operasinya di pasar Amerika Serikat tahun ini.

Industri Hadapi Biaya Produksi Lebih Tinggi

Regulasi baru juga memaksa industri otomotif global melakukan penyesuaian besar-besaran pada rantai pasok.

Sejumlah produsen kini mengaudit pemasok komponen, mengganti perangkat lunak dan perangkat keras yang berasal dari China, serta mengajukan berbagai permohonan pengecualian kepada pemerintah AS.

Namun, kalangan industri memperingatkan bahwa proses transisi tersebut tidak murah. Para eksekutif otomotif memperkirakan penggantian komponen konektivitas asal China dapat meningkatkan biaya produksi kendaraan hingga 15 persen.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa persaingan Amerika Serikat dan China tidak lagi terbatas pada perdagangan atau semikonduktor, tetapi telah merambah industri otomotif. Di era kendaraan pintar dan berbasis AI, kepemilikan saham, asal teknologi, hingga rantai pasok kini menjadi bagian penting dalam pertimbangan geopolitik dan keamanan nasional.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Imadudin Muhammad
PenulisImadudin MuhammadBergabung di TIMES Indonesia sejak 2015, menulis soal Olahraga, Pariwisata, Tekno, hingga Event Internasional. Bagian tim Pemeriksa Fakta, memastikan berita tetap berita akurat, relevan, dan terpercaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia