Kebutuhan Sayur Nusantara di Pasok dari Pasar Sayur Kota Batu
Sebutan Raksasa Agribisnis untuk Pasar Sayur Kota Batu tidak berlebihan. Dimana kebutuhan sayur di Nusantara di era 1980 hingga tahun 1990 -an dipasok dari Pasar Sayur Kota Batu.

BATU – Sebutan Raksasa Agribisnis untuk Pasar Sayur Kota Batu tidak berlebihan. Dimana kebutuhan sayur di Nusantara di era 1980 hingga tahun 1990 -an dipasok dari Pasar Sayur Kota Batu.
Pasar Sayur Kota Batu ini dibangun tahun 1984 seiring dengan pembangunan Pasar Besar Kota Batu yang saat itu terbakar. Pasar Besar Kota Batu pun dipindah dilokasi yang baru, dari di dekat Alun-Alun Kota Batu dipindah ke Jalan Dewi Sartika.
Ditempat yang baru ini, pemasaran sayuran di Kota Batu semakin Berjaya, hampir setiap hari truk-truk Fuso mengambil sayur dari Pasar Sayur Kota Batu ini. Saat itu jam operasional Pasar Sayur pun bukan hanya dalam hitungan 12 jam, namun 24 jam kendaraan pengangkut sayur lalu lalang.

“Jaya-jayanya Pasar Sayur Kota Batu itu di era tahun 1990, hampir semua daerah di Nusantara ini mengambil sayur dari Pasar Sayur Kota Batu,” ujar pedagang sayur Kota Batu, Kardono. Setiap hari lapak-lapak di Pasar Sayur Kota Batu ini bersinar, penuh dengan orang berkerumun, bertransaksi jual beli sayuran.
Bahkan saat itu, untuk memenuhi kebutuhan pasar sayur, pedagang di Kota Batu sampai mengambil sayuran dari daerah-daerah disekitar Kota Batu yang berada di wilayah Kabupaten Malang. Melejitnya pasar sayur di Kota Batu ternyata mengusik Kabupaten Malang yang saat itu merupakan Kabupaten Induk dari Kota Batu.
Mereka khawatir, wilayah ini akan kehilangan omzet pendapatan asli daerah dari perdagangan sayuran ini. Hingga akhirnya Pemkab Malang dan DPRD Kabupaten Malang saat itu merencanakan pasar sayur tandingan di wilayah Kabupaten Malang.
Dari arah Barat dibangun Pasar Sayur Mantung yang berada di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang dari arah Utara dibangun Pasar Sayur Karangploso dan Pasar Sayur Lawang. “Ternyata blokade sayuran berhasil sekitar tahun 2001 seiring berdirinya Pasar Mantung dan Karangploso, Pasar Sayur Kota Batu semakin ditinggal pembeli,” ujar Kardono.
Pedagang sayur dari Jakarta, Magetan, Madiun, Solo, Jember, Banyuwangi, Pasuruan hingga Kalimantan yang dahulu selalu datang dan membeli sayuran dalam jumlah besar tidak pernah datang lagi ke Pasar Sayur Kota Batu.

Para pedagang besar ini selalu memarkir truk besarnya di Mantung, Pujon kemudian membeli sayuran di Kecamatan Pujon ini. Jika ada kekurangan dagangan sayur, baru mereka masuk ke Pasar Sayur Kota Batu.
Kondisi mulai ditinggal pembeli ini semakin diperparah dengan tidak kompaknya pedagang. Beberapa pedagang memilih pindah berjualan di Pasar Karangploso dan banyak yang memilih mengemas sayuran di rumah masing-masing untuk menekan biaya operasional terutama pengangkutan dan timbang.
Hal ini membuat kondisi Pasar Sayur Kota Batu semakin sepi dari aktivitas dan pembeli pun semakin jarang datang dan membeli sayuran ditempat ini. “Tantangan yang kita rasakan tahun 2000 itu masih ada sampai saat ini, karena itu butuh perubahan konsep dan kebersamaan pedagang, sehingga pasar ini tetap hidup,” ujar Kardono.
Hal senada dikemukakan oleh pedagang yang lain, jika masih menggunakan konsep lama dikhawatirkan Pasar Sayur Kota Batu akan bernasib sama seperti sebelum dibangun, yakni sepi. Data yang ada saat ini, jumlah pedagang yang memiliki lapak di Pasar Sayur Kota Batu berkisar 260 pedagang, dari jumlah tersebut hanya 58 pedagang saja yang aktif.
“Harus ada perubahan konsep, kalau tetap mengandalkan cara lama, saya rasa kondisinya akan tetap seperti dahulu,” ujar Kardono berharap Pasar Sayur Kota Batu berjaya kembali memenuhi kebutuhan sayur di Nusantara seperti di era 1980 hingga tahun 1990 -an. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


