Advertisement
Pemerintahan

Kementerian PUPR RI Kembangkan Teknologi Mortar Busa, Ini Manfaatnya

Kementerian PUPR RI (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) tengah mengembangkan Teknologi Mortar Busa untuk mengatasi tanah lunak pada daerah dataran pantai agar bisa menyokong struktur bangunan di atas

TIMES Indonesia,
Kementerian PUPR RI Kembangkan Teknologi Mortar Busa, Ini Manfaatnya
Jalan layang yang menggunakan Teknologi Mortar Busa. (FOTO: KemenPUPR)
A-AA+

JAKARTA Kementerian PUPR RI (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) tengah mengembangkan Teknologi Mortar Busa untuk mengatasi tanah lunak pada daerah dataran pantai agar bisa menyokong struktur bangunan di atasnya dengan baik.

Sekitar 20 juta hektar atau sekitar 10 persen dari luas total daratan Indonesia adalah tanah lunak yang penyebarannya di daerah dataran pantai di pantai utara Pulau Jawa, pantai timur Sumatera, pantai selatan dan timur Pulau Kalimantan, pantai selatan Pulau Sulawesi, dan lantai barat - selatan Pulau Papua.

Advertisement

Kondisi ini membuat daya dukung tanah rendah sehingga tidak dapat menyokong struktur bangunan di atasnya dengan baik, seperti menyebabkan jalan amblas dan keretakan gedung.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono juga terus mendorong para peneliti untuk menghasilkan karya yang memberikan dampak positif bagi penyediaan infrastruktur bidang pekerjaan umum dan perumahan rakyat dengan tetap memperhatikan kriteria murah, mudah, cepat dan berkelanjutan.

Edisi-Selasa-Inggris-25-Februari-2020-PUPR.jpg

Mortar busa merupakan optimalisasi penggunaan busa (foam) dengan mortar (pasir, semen dan air) berkekuatan tinggi sehingga ideal menjadi dasar atau perkerasan jalan pada tanah lunak yang dikembangkan oleh Pusat Jalan dan Jembatan (Pusjatan).

“Hasil-hasil Litbang sangat penting untuk mempercepat pencapaian target pembangunan infrastruktur melalui inovasi-inovasi yang lebih murah, lebih cepat dan lebih baik," kata Menteri Basuki.

Advertisement

Mortar busa ini ringan. Massa jenis maksimum 0,8 ton/m3 untuk lapis base dengan UCS minimum 2.000 kilogram/cm2, serta massa jenis maksimum 0,6 ton/m3 untuk lapis sub-base dengan UCS minimum 800 kilogram/cm2. Seperti mortar beton, mortar busa juga memiliki sifat memadat sendiri.

Keunggulan dari teknologi ini antara lain bisa menghemat dana hingga 60-70 persen serta menghemat waktu pengerjaan hingga 50 persen jika dibandingkan dengan konstruksi konvensional. Selain itu juga ramah lingkungan karena menggunakan lebih sedikit material konstruksi terutama bahan alam.

Salah satu pemanfaatan teknologi mortar busa ini diterapkan untuk pembuatan Jalan Layang Antapani di Bandung, Jawa Barat dan Fly-over Klonengan di Tegal dan Flyover Manahan di Solo, Jawa Tengah.

Jalan Layang Antapani merupakan pilot project teknologi Corrugated Mortar Busa Pusjatan (CMP) yang baru pertama kali diterapkan di Indonesia.

CMP adalah pengembangan teknologi mortar busa yang dikombinasikan dengan struktur baja bergelombang.

Teknologi mortar busa ini digunakan sebagai pengganti timbunan tanah, atau sub base yang biasanya dipakai tanpa memerlukan lahan yang lebar karena dapat dibangun tegak dan tidak memerlukan dinding penahan serta tidak perlu alat pemadat karena dapat memadat dengan sendirinya.

Penggunaan baja bergelombang, selain mempercepat waktu pelaksanaan pembangunan jalan layang juga lebih efisien secara pembiayaan.

Kementerian PUPR RI (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) kini tengah mengembangkan Teknologi Mortar Busa untuk mengatasi tanah lunak pada daerah dataran pantai agar bisa menyokong struktur bangunan di atasnya dengan baik. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Widodo Irianto
PenulisWidodo IriantoPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2015. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia