Pemerintahan

Eko-Tren: Inovasi Dinas Koperasi UKM Jatim untuk Santri dan Pesantren

Kamis, 14 Desember 2023 - 08:34 | 28.22k
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jatim, Dr Andromeda Qomariah MM. (Foto: Dokumen TI)
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jatim, Dr Andromeda Qomariah MM. (Foto: Dokumen TI)

TIMESINDONESIA, SURABAYA – dir="ltr">Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur sukses melakukan inovasi Pengembangan Ekonomi Pesantren. Program bernama "Eko-Tren" ini, dibuat untuk mendorong perekonomian inklusif dengan mendekatkan pesantren, santri, alumni, dan masyarakat lokal dalam kerangka ekonomi yang lebih luas.

Menurut Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jatim, Dr Andromeda Qomariah MM, langkah-langkah pengembangan ekonomi pesantren sangat komprehensif. "Kami memulai dengan pemetaan potensi unggulan dari setiap pondok pesantren. Langkah ini penting untuk mengidentifikasi kekuatan dan peluang yang bisa dikembangkan. Setelah itu, kami fokus pada pendampingan untuk pengembangan produk unggulan, termasuk aspek legalitas, manajemen bisnis, keuangan, serta peningkatan kualitas produk yang mencakup branding, sertifikasi halal, packaging, dan standarisasi," jelasnya.

Program Eko-Tren tidak hanya terbatas pada produk-produk yang dihasilkan oleh pesantren, tetapi juga mengintegrasikan produk dari alumni dan mengembangkan kewirausahaan di kalangan santri. "Kami tidak hanya mengembangkan produk-produk pesantren, tetapi juga produk dari alumni serta mendorong kewirausahaan di kalangan santri melalui pengembangan ide bisnis yang kami kompetisikan," tambah perempuan sederhana ini.

Kolaborasi dan Sinergi Jadi Kunci

Kolaborasi menjadi kunci dalam upaya ini, melibatkan berbagai pihak seperti OPD, perguruan tinggi, swasta, perbankan, dan media. Program kolaborasi ini sangat beragam, mulai dari Santri OPOP Camp dengan Dinas Pariwisata, kerjasama dengan Bank Indonesia untuk sertifikasi kompetensi. Lalu kerjasama dengan Bank Jatim Syariah, pelatihan branding, dan desain kemasan oleh ITS, dan banyak lagi.

"Ini semua tentang sinergi dan kolaborasi," ungkap Andromeda.

"Kami bekerja dengan perguruan tinggi untuk pelatihan branding dan digital marketing, dengan perbankan untuk produk keuangan syariah, dan dengan perusahaan seperti Grab dan Tokopedia untuk membuka akses pasar yang lebih luas," sambungnya.

Salah satu aspek penting dari program ini adalah pemberdayaan santri. "Kami memberdayakan santri melalui peningkatan ketrampilan usaha dan pembekalan kewirausahaan. Ini dilakukan melalui usaha-usaha yang ada di pondok pesantren, dengan harapan menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan santri," katanya.

Program ini telah membina sekitar 361.243 santri, dengan Pesantren Preneur mencapai target 1.000 pesantren dan Sosio Preneur 1.500 alumni pesantren.

Eko-Tren juga memfasilitasi integrasi pesantren dalam kegiatan perdagangan dan ekspor. Dinas juga telah berhasil melibatkan pesantren dalam berbagai forum kegiatan perdagangan. Sebagai contoh, produk kopi dari Annur 2 Bululawang telah diekspor ke Malaysia, Australia, India, dan Selandia Baru.

"Kami juga melihat peningkatan signifikan dalam produksi kopi, seperti Kopi Bikla yang telah menembus pasar Timur Tengah dan Amerika," terang kepala dinas.

Tujuan utama dari Eko-Tren adalah menciptakan ekonomi inklusif berbasis pondok pesantren. "Tujuan kami adalah membentuk ekosistem di mana pondok pesantren tidak hanya sebagai pusat pengembangan ilmu dan dakwah, tetapi juga sebagai pendorong ekonomi masyarakat lokal. Kami ingin menciptakan kemandirian pesantren yang dapat memberikan nilai tambah pada masyarakat sekitar dan pada akhirnya membuka lapangan pekerjaan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujar kepala dinas.

Eko-Tren Masuk Top Inovasi Pelayanan Publik

Sebagai bukti keberhasilan, pada tahun 2022, program Eko-Tren OPOP telah mendapatkan apresiasi dari KemenPAN RB sebagai Top 45 Inovasi Pelayanan Publik terpuji dan Innovative Government Award (IGA) 2022 dari Kementerian Dalam Negeri. Inisiatif ini telah menciptakan lebih dari 1000 produk unggulan pondok pesantren sejak pertama kali didirikan pada tahun 2019. Selain itu, telah tercipta 361.243 santri yang terlibat dalam program OPOP, membentuk generasi baru entrepreneur muda.

Upaya pemberdayaan ekonomi pesantren juga telah merambah ke daerah-daerah di Jawa Timur. Sebanyak 15 kabupaten/kota telah berkomitmen mendukung Eko-Tren OPOP, termasuk Kabupaten Trenggalek, Blitar, Gresik, Ngawi, Magetan, Lamongan, Jombang, Jember, dan Kota Mojokerto, Madiun, Probolinggo, Malang, Bangkalan, dan Kota Pasuruan. Kolaborasi ini tidak hanya menguatkan jaringan antar pesantren tetapi juga memperkuat hubungan antara pesantren dan pemerintah daerah.

Lebih lanjut, Eko-Tren OPOP Jawa Timur juga telah diadopsi oleh Provinsi Kalimantan Selatan, menunjukkan potensi replikasi model ini di berbagai wilayah Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa model pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren yang dikembangkan di Jawa Timur memiliki daya tarik dan aplikasi yang luas.

"Kami berharap melalui program Eko-Tren ini, kami dapat terus menginspirasi dan memotivasi pesantren lain di seluruh Indonesia untuk mengembangkan potensi ekonomi mereka. Ini adalah langkah maju bagi pemberdayaan ekonomi pesantren dan masyarakat sekitar," pungkas kepala Dinas Koperasi UKM Jatim.

Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan, Eko-Tren OPOP telah membuktikan dirinya sebagai program inovatif yang tidak hanya meningkatkan kapasitas ekonomi pesantren tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat luas. Program ini merupakan contoh nyata dari sinergi pemerintah dan lembaga pendidikan dalam mewujudkan pembangunan ekonomi inklusif dan berkelanjutan. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rifky Rezfany

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES