Pemerintahan

Jelang World Water Forum ke-10, KLHK Soroti Isu Tata Kelola Air di Negara Kepulauan

Senin, 29 April 2024 - 15:02 | 15.91k
Direktur Perencanaan dan Pengawasan Pengelolaan DAS KLHK M. Saparis Soedarjanto (kedua kanan) dalam diskusi Hari Air Dunia di Kantor Kementerian PUPR RI Jakarta, Senin (29/4/2024) (FOTO: ANTARA/Prisca Triferna)
Direktur Perencanaan dan Pengawasan Pengelolaan DAS KLHK M. Saparis Soedarjanto (kedua kanan) dalam diskusi Hari Air Dunia di Kantor Kementerian PUPR RI Jakarta, Senin (29/4/2024) (FOTO: ANTARA/Prisca Triferna)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan pembahasan mengenai karakteristik dan strategi menjaga ketahanan air di negara-negara kepulauan menjadi salah satu fokus di World Water Forum ke-10 karena memiliki tingkat kerumitan yang berbeda.  

Saat menjadi pembicara diskusi dalam rangka Hari Air Dunia ke-32 di Kantor Kementerian PUPR RI Jakarta, Senin (29/4/2024), Direktur Perencanaan dan Pengawasan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) KLHK M. Saparis Soedarjanto mengatakan Indonesia sebagai salah satu negara dengan curah hujan yang cukup tinggi tapi masih menghadapi isu kelangkaan air.  

Dia menjelaskan konfigurasi lanskap menjadi isu karena terdapat perbedaan antara negara kepulauan seperti Indonesia dengan perbukitan dan pegunungan yang menyebabkan air akan berakhir di laut, berbeda dengan negara-negara kontinen dalam satu benua yang memungkinkan penampungan.

"Makanya kalau tidak salah di concept note untuk World Water Forum yang akan datang bicara mengenai small islands. Jadi ini harus kita angkat, harus kita tegaskan. Mengapa? Karena tata kelola air di small islands menjadi lebih rumit sebetulnya dan lebih berisiko juga terkait dengan ketahanan air," ujar Saparis.

Pengelolaan air juga harus mempertimbangkan lanskap, di mana pengelolaan hutan atau upaya secara alami menjadi salah satu unsur penting dalam meningkatkan retensi atau kemampuan penyimpanan air terutama di hulu. Selain itu, retensi air juga dilakukan dengan upaya buatan manusia seperti pembangunan waduk dan bendungan, jelasnya.

"Perpaduannya menjadi penting, man made dan natural, tadi menjadi penting karena ada kondisi tertentu yang natural tadi bisa menjadi solusi terhadap permasalahan kualitas air," katanya.

Pembangunan hutan mendorong regulasi air yang lebih baik, jelasnya, karena dapat meningkatkan kualitas air dan memastikan suplai air bagi danau serta bendungan yang menjadi sumber air bagi masyarakat. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES