Pemerintahan

Bupati Banyuwangi Terus Optimalkan Potensi Pertanian

Kamis, 09 Mei 2024 - 11:38 | 17.26k
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, saat melaksanakan program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa), di Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru. (Foto : Humas Pemkab Banyuwangi for TIMES Indonesia)
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, saat melaksanakan program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa), di Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru. (Foto : Humas Pemkab Banyuwangi for TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Bupati Banyuwangi, Jawa Timur, Ipuk Fiestiandani, terus melakukan optimalisasi potensi pertanian. Kebijakan tersebut ditegaskan saat dia melaksanakan program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa), di Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, Rabu kemarin (8/5/2024).

Di desa ini Ipuk menggali berbagai potensi untuk didukung dan dikembangkan lebih lanjut. Terutama potensi sektor pertanian yang menjadi potensi utama di desa lereng gunung Raung tersebut.

Desa Banyuanyar, memiliki hawa yang sejuk, sehingga sangat cocok untuk pengembangan berbagai komoditas pertanian. Seperti kopi, sayur mayur, buah-buahan, hingga hewan ternak khususnya domba, serta beragam potensi lainnya.

Ipuk bertemu dan berdialog dengan kelompok peternak domba. Desa ini dikenal sebagai salah satu sentra domba di Banyuwangi. Terdapat total populasi domba sekitar 5.000 ekor. Ada domba Sopas, Dormas, juga ras ekor gemuk.

"Ini bagus. Kami akan minta dinas pertanian untuk mendampingi terus, dan memberikan pelatihan-pelatihan bagi para peternak. Misalnya pelatihan pembuatan kompos ataupun pembuatan pakan ternak," ujar Ipuk, Kamis (9/5/2024).

Banyuanyar juga dikenal sebagai daerah penghasil kopi. Luasan kebun kopi rakyat di desa ini 50,82 hektar dengan produksi antara 3 kwintal hingga 1,5 ton. Di desa ini memiliki kopi andalan yakni kopi Yellow dan Orange Bourbound.

Biji kopi ini berwarna kuning dan oranye yang merupakan biji kopi peninggalan zaman Belanda.

"Untuk kopi Dinas Koperasi dan UMKM bisa membantu untuk branding dan packaging, agar pasarnya lebih luas. Kopi ini bisa menjadi khas Kalibaru," kata Ipuk.

Ipuk juga mengunjungi sentra pertanian, yang berada di Dusun Lekap Pekarangan. Warga di dusun ini mayoritas menanam sayur mayur di lereng gunung Raung, secara tumpangsari di kebun tanaman kopi. Sayur mayur yang dihasilkan, dipasok ke berbagai pasar di Banyuwangi.

Selain itu, bunga desa ini dimanfaatkan Ipuk untuk belanja masalah, mengetahui permasalahan desa setempat untuk dicarikan solusinya. Seperti meninjau program jemput bola layanan kesehatan bagi lansia.

"Kami ingin memastikan bahwa warga lansia terutama yang sebatang kara rutin dijenguk dan diperiksa petugas kesehatan. Karena mereka tidak memungkinkan berobat ke puakesmas," cetusnya.

Ipuk juga bertemu dengan insan kesehatan dan pendidik di desa setempat untuk sharing terkait masalah pendidikan dan kesehatan.

Selama berkantor di desa, dia juga menyelenggarakan layanan public. Seperti administrasi kependudukan, perizinan usaha mikro berbasis OSS, perpajakan hingga tes kesehatan, konseling, pelatihan UMKM dan lainnya. 

Saat Bunga Desa di Banyusnyar, Ipuk juga melakukan sholat berjamaah bersama warga setempat. Momentum ini dimanfaatkan Ipuk sebagai ajang silaturahmi dengan tokoh agama dan masyarakat.  (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES