Wujudkan Jakarta Kota Global dan Berbudaya, Pemprov DKI Siap Sinergi dengan LDII
Kita ingin Jakarta menjadi kota terbuka, tapi jangan sampai budaya Betawi justru tergeser. Justru budaya itu harus diangkat, dikenalkan, bahkan go internasional.

JAKARTA – Di tengah arus modernitas yang semakin deras, Jakarta mencoba menjaga keseimbangan antara kemajuan dan akar budaya. Itulah semangat yang terasa kuat dalam Musyawarah Wilayah X LDII DKI Jakarta yang digelar di Grand Ballroom Minhaajurrosyidin, Jakarta, Kamis (9/10/2025).
Acara lima tahunan itu bukan sekadar ajang memilih kepengurusan baru. Ia menjadi ruang refleksi: bagaimana LDII dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melangkah bersama menjaga harmoni kota metropolitan yang terus tumbuh menjadi kota global.
Sinergi yang Kian Kuat
Mewakili Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekda DKI, Ali Maulana Hakim, membuka acara dengan nada optimistis. Ia menyebut LDII telah menjadi mitra strategis pemerintah daerah, terutama dalam membangun sumber daya manusia yang profesional, religius, dan berkarakter.
“Program LDII sejalan dengan arah pembangunan Jakarta. Kita hidup di kota yang sangat dinamis dan beragam, tapi juga menantang. Karena itu, kolaborasi adalah kunci,” ujar Ali dalam sambutannya.
Jakarta, kata Ali, kini berorientasi menjadi kota global yang inklusif. Artinya, semua warga — tanpa terkecuali — harus merasakan pelayanan yang adil dan merata.
“Kita ingin Jakarta menjadi kota terbuka, tapi jangan sampai budaya Betawi justru tergeser. Justru budaya itu harus diangkat, dikenalkan, bahkan go internasional,” tambahnya.
Menjaga Jakarta, Menjaga Rumah Bersama
Ali juga menyinggung berbagai tantangan sosial perkotaan — mulai dari konflik warga, tawuran, hingga gesekan sosial yang sesekali muncul di tengah kepadatan penduduk.
“Tantangan ini tidak bisa ditangani pemerintah sendiri. Kita butuh perpanjangan tangan: ormas Islam, pesantren, akademisi, media, hingga masyarakat sipil,” ujarnya.
Pemprov DKI kini mendorong gerakan bersama bertajuk “Jaga Jakarta.” Filosofinya sederhana: siapa yang ikut menjaga, akan merasa memiliki. “LDII punya posisi penting dalam hal ini, terutama melalui dakwah, pendidikan, dan penguatan karakter umat,” tambah Ali.
Ia juga berharap kepengurusan LDII yang baru mampu melahirkan sosok-sosok inspiratif dan inovatif. “Kita butuh pemimpin ormas yang bisa menggerakkan, bukan sekadar memimpin,” ucapnya.
Muswil kali ini menjadi tonggak regenerasi kepemimpinan LDII DKI Jakarta. Dari hasil musyawarah, H. Imam Basori terpilih sebagai Ketua DPW LDII DKI Jakarta periode 2025–2030, menggantikan kepengurusan sebelumnya.
Dalam pidatonya, Imam menegaskan tekad untuk melanjutkan semangat pengabdian para senior LDII.
“Dua dekade terakhir, LDII telah bertransformasi menjadi organisasi modern dan terbuka. Tugas kami sekarang adalah menjaga warisan kebaikan itu, memperkuat kontribusi bagi umat dan bangsa,” ujarnya dengan nada penuh syukur.
Sementara itu, Ketua Umum DPP LDII, Chriswanto Santoso, menegaskan bahwa perubahan kepengurusan bukan sekadar formalitas, tapi kebutuhan organisasi agar tetap adaptif terhadap zaman.
“Organisasi yang tidak berubah adalah organisasi yang gagal. Regenerasi adalah tanda kehidupan,” ujarnya tegas.
Menurut Chriswanto, LDII harus menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat. “Karena LDII adalah organisasi pembelajar — selalu belajar dari lingkungan strategisnya,” tandasnya.
Penghargaan untuk yang Berprestasi
Di sela acara, LDII Jakarta juga memberikan penghargaan kepada tokoh dan warga yang berkontribusi di berbagai bidang: pendidikan, seni, olahraga, dan sosial budaya.
Di antaranya, atlet peraih medali emas sepak bola dan pencak silat, atlet peraih perak SEA Games Fajar Budi Pratama, budayawan Betawi Benyamin Sueb, seniman Sofiadi pemegang rekor MURI dalam karya seni limbah kertas, serta pejuang hak profesi guru PAUD Prof. Netti Herawati.
Dari forum musyawarah yang khidmat itu, satu pesan kuat mengemuka: Jakarta boleh berubah menjadi kota global, tapi tidak boleh kehilangan jiwanya.
Dan di tengah pusaran perubahan itu, LDII tetap hadir menjadi jangkar moral, jembatan sosial, dan mitra pemerintah dalam menjaga wajah Jakarta agar tetap manusiawi, religius, dan berbudaya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

