Presiden Jerman Sepakati Kerja Sama Dagang, Investasi, dan Transisi Energi
Pemerintah Jerman dan Indonesia resmi memperkuat kemitraan strategis di bidang perdagangan, investasi, dan transisi energi berkelanjutan melalui sejumlah perjanjian finansial.
JAKARTA – Pemerintah Jerman dan Indonesia resmi memperkuat kemitraan strategis di bidang perdagangan, investasi, serta transisi energi yang berkelanjutan. Penguatan hubungan bilateral ini ditandai dengan kunjungan resmi Presiden Republik Federal Jerman, Frank-Walter Steinmeier, di Jakarta, Senin (15/6/2026).
“Ada alasan sangat kuat yang membuat saya kembali lagi ke sini hari ini, di mana dunia tampaknya sedang terpecah belah dan ketidakpercayaan, politik kekuasaan dan kekerasan sedang meningkat di banyak tempat,” kata Steinmeier dalam sebuah pernyataan yang dikutip Kedutaan Besar Jerman di Jakarta, Selasa (16/6/2026).
Steinmeier menegaskan bahwa kemitraan yang dapat dipercaya antara kedua negara memegang peranan yang sangat krusial di tengah situasi global saat ini. Oleh karena itu, ia menyambut baik kesepakatan penguatan kerja sama ini, yang tidak hanya menyentuh level politik, melainkan juga merambah sektor ekonomi, tenaga kerja ahli, iklim, sains, hingga kebudayaan.
Di sisi lain, Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, menyatakan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk adaptasi di tengah perubahan pesat tatanan dunia. Melalui Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (I-EU CEPA), ia memproyeksikan bakal terjadi lonjakan ekspor dan investasi dua arah antara Jerman dan Indonesia.
“Lonjakan harga minyak dan gas global yang terbaru juga menunjukkan bahwa kita memerlukan transisi ke energi terbarukan tidak hanya untuk melindungi iklim, tetapi juga untuk menjamin ketahanan energi” katanya.
Menurut Beste, skema Kemitraan Transisi Energi Berkeadilan (Just Energy Transition Partnership/JETP) yang dipimpin bersama oleh kedua negara turut memberikan kontribusi besar terhadap penguatan hubungan bilateral tersebut.
Sebagai langkah konkret, baru-baru ini kedua belah pihak telah menyepakati dua perjanjian keuangan. Kerja sama ini ditujukan untuk memperbaiki iklim investasi, meningkatkan volume perdagangan, serta mempercepat transisi energi terbarukan secara adil di Indonesia.
Perjanjian pertama berfokus pada perbaikan kondisi pertumbuhan ekonomi dan investasi dengan nilai mencapai 400 juta euro (sekitar Rp8,2 triliun). Kerja sama ini ditandatangani oleh Bank Pembangunan Jerman (KfW) bersama Kementerian Keuangan Indonesia di bawah naungan Program Daya Saing, Modernisasi Industri, dan Percepatan Perdagangan (CITA). Program ini dirancang untuk menyokong reformasi ekonomi nasional menuju pembangunan yang berkelanjutan, inklusif, dan sesuai dengan standar internasional.
Sementara itu, perjanjian kedua ditujukan untuk mendukung pembangunan pembangkit listrik terbarukan serta penguatan infrastruktur jaringan listrik senilai 302 juta dolar AS (sekitar Rp5,35 triliun). Perjanjian ini ditandatangani oleh KfW dan PT PLN (Persero) di bawah Program Mempercepat Transisi Energi Bersih Indonesia. Proyek ini akan mendorong integrasi pengembangan energi hijau lewat ekspansi tenaga surya dan angin, sekaligus memastikan jaminan lingkungan yang adil bagi semua pemangku kepentingan.
Program tersebut sekaligus menjadi bukti kontribusi nyata Jerman terhadap JETP di Indonesia. Terlebih, Jerman telah mengambil alih kepemimpinan bersama Kelompok Mitra Internasional (IPG) mendampingi Jepang sejak awal 2025.
Berdasarkan keterangan resmi, Jerman berkomitmen mengalokasikan dana sekitar 1 miliar euro (sekitar Rp20,5 triliun) untuk kerja sama pembangunan pada tahun anggaran 2026.
Sebelumnya pada Februari 2026, dua perjanjian keuangan lainnya juga telah disetujui. Prosesi tersebut disaksikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Direktur Jenderal untuk Asia, Eropa Tenggara dan Timur, Timur Tengah, dan Amerika Latin dari Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (BMZ), Christine Toetzke.
Kerja sama awal tahun ini berkaitan dengan proyek Green Energy Corridors Sulawesi (GECS) dan Green Bond Development Facility (GBDF) dengan total nilai kontrak mencapai 308 juta euro (sekitar Rp6,33 triliun).
Melalui proyek GECS, akan dibangun saluran transmisi 275kV melintasi Sulawesi Selatan guna membuka potensi energi terbarukan secara luas di wilayah tersebut. Di saat yang sama, instrumen GBDF akan memperkuat pasar obligasi hijau domestik demi menarik arus investasi berkelanjutan.
Secara akumulatif, rangkaian inisiatif ini menandai pencapaian penting dalam implementasi skema JETP di tanah air. Kerja sama ini mengubah komitmen di atas kertas menjadi tindakan konkret dan kemajuan yang terukur guna mewujudkan masa depan energi bersih di Indonesia. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


