Tiga SMA di Kabupaten Sleman Jadi Perintis Gerakan Sekolah Menyenangkan
Tiga sekolah SMA di Kabupaten Sleman mulai menerapkan model pembelajaran yang menyenangkan. Hal itu merujuk pada program Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Yakni, SMA Negeri 1 Sleman, SMAN 1 Tempel dan SMA Kolombo Sleman.

YOGYAKARTA – Tiga sekolah SMA di Kabupaten Sleman mulai menerapkan model pembelajaran yang menyenangkan. Hal itu merujuk pada program Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Yakni, SMA Negeri 1 Sleman, SMAN 1 Tempel dan SMA Kolombo Sleman.
“Kami dari sekolah berinisiatif mengubah model pembelajaran siswa khususnya kelas X mulai tahun ajaran ini, dan ternyata diizinkan Dikpora DIY,” kata Kepala Sekolah SMAN 1 Sleman Fadmiati, Rabu (10/7/2019).
Fadmiati menambahkan, program pembelajaran GSM diterapkan agar pola pembelajaran di sekolah tak konvesional lagi, tapi lebih memanusiakan siswa dan membuat mereka senang belajar di sekolah. Sebab dalam pembelajaran ini siswa diajak mengenali potensi dirinya dan menjadi seorang problem solver melalui beragam kegiatan interdisipliner.
“Salah satu contoh bentuk program GSM, mengurangi beban siswa dari PR (pekerjaan rumah), karena rumah seharusnya menjadi tempat siswa mengolah emosi dan interaksi mereka dengan keluarganya,” papar Fadmiati.
Fadmiati menerangkan, penerapan program GSM ini berangkat dari kekhawatiran pihaknya selaku tenaga pendidik akan kebutuhan siswa mendapatkan model pembelajaran yang lebih adaptif sesuai zamannya.
Sebab nilai bagus siswa di mata pelajaran ternyata tak melulu jadi jaminan siswa itu kelak mampu mengembangkan minat bakatnya untuk masa depan dirinya. Yang terjadi sebernarnya, siswa mendapatkan nilai bagus karena orientasi pendidikan saat ini masih mendasarkan angka-angka. Padahal bukan hal itu yang diharapkan saat siswa bersekolah.
“Tidak bisa siswa sekarang diperlakukan seperti jaman dulu yakni teacher center, era kini mereka lebih mudah mengakses informasi, sehingga butuh pendekatan baru, mereka harus diberi ruang untuk bisa lebih mengeksplorasi kemampuan dirinya sesuai jamannya,” ujar Fadmiati.
Tujuan pola pembelajaran GSM itu, ujar Fadmiati, siswa saat lulus menjadi pribadi yang punya kemampuan survive. Siswa bisa memiliki ketrampilan yang fleksibel, bukan hafalan, dan mampu menghadapi tantangan jamannya.
“Jadi lewat GSM ini nanti pembelajaran di kelas dibuat tak lagi teacher center, tapi pada siswa pusatnya, mereka mau mengembangkan diri seperti apa dan sekolah serta guru menjadi fasilitatornya,” jelas Fadmiati.
Fadmiati menuturkan meski menerapkan pola pembelajaran GSM itu, bukan berarti menyingkirkan apa yang jadi poin pads kurikulum. Siswa tetap ikut ujian karena itu menjadi bagian ukuran kompetensi dasar siswa.
Gerakan GSM ini sendiri merupakan program yang pembelajaran bertujuan melakukan transformasi pola pendidikan formal menjadi lebih kolaboratif, inklusif, dan menarik guna mendorong kemampuan diri siswa. GSM merumuskan konsep sekolah masa depan yakni sekolah menyenangkan yang memberi ruang tumbuhnya keunikan potensi setiap anak.
Aktivis pendidikan program GSM, Muhammad Nur Rizal mengatakan, gerakan ini menjadi gerakan sosial menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih memanusiakan anak.
“Ini bukan gerakan profit yang memberi modul pada sekolah lalu selesai, ini gerakan mengajak guru dan sekolah untuk menciptakan atmosfer belajar menyenangkan bagi siswa,” terang Rizal.
Bahkan, ujar Rizal, dari Pemerintah Jawa Tengah akan melibatkan 13 koordinator kabupaten dengan total 26 SMA/SMK akan memulai program ini di tahun ajaran ini sebagai program percontohan.
Ada tiga aspek dasar keterampilan manusia era digital yang dicoba dibangun melalui program Gerakan Sekolah Menyenangkan ini yakni: pertama pola pikir terbuka, kedua kompetensi abad 21 berupa berpikir kritis. Kemudian, kreatif, komunikatif, kolaboratif dalam menemukan cara mengatasi masalah, serta ketiga karakter moral dan etos kerja. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


