SBM ITB Usulkan Integrasi Sistem Transportasi Daring dan Umum
Center of Policy and Public Management SBM ITB menggelar seminar berjudul Multimodal Commuter Journey and the Role of Ride Hailing. Seminar itu mendiskusikan hasil riset oleh tim peneliti SBM ITB mengenai peran transportasi daring

BANDUNG – Center of Policy and Public Management SBM ITB menggelar seminar berjudul Multimodal Commuter Journey and the Role of Ride Hailing. Seminar itu mendiskusikan hasil riset oleh tim peneliti SBM ITB mengenai peran transportasi daring dalam penggunaan transportasi umum massal.
Sebagai peneliti dalam riset tersebut, Dr Yos Sunitiyoso merekomendasikan kolaborasi yang lebih kuat antara regulator, layanan transportasi massal dan layanan transportasi daring, untuk mendorong peningkatan jumlah penumpang transportasi massal, agar kemacetan dan polusi udara dapat berkurang.
Hal ini didasari oleh hasil risetnya yang menemukan bahwa 48% komuter menggunakan layanan transportasi daring sebagai salah satu moda transportasi dalam perjalanan multimoda harian mereka. Riset menunjukkan layanan transportasi daring memainkan peran dalam mendukung sistem transportasi massal.
“Pembuat kebijakan disarankan untuk mengarahkan berbagi informasi antara operator transportasi massal dan layanan transportasi daring guna meningkatkan kualitas integrasi multimoda dan menciptakan pelanggan baru”, ujar Dr Yos, dirilis Humas SBM ITB, Kamis (30/7/2020).
Platform transportasi daring juga dapat mendorong penumpang untuk menggunakan transportasi massal dengan memberikan informasi yang relevan terkait dengan layanan transportasi massal, seperti halte angkutan umum terdekat, serta saran untuk opsi transportasi umum termurah dan rute transportasi daring.
“Keterbatasan tempat parkir di perkotaan, pembuat kebijakan hendaknya dapat mempertimbangkan untuk mengembangkan kebijakan drop-and-ride dalam rangka mendorong para penumpang untuk menggunakan layanan transportasi daring saat mencapai stasiun/pemberhentian,” tambahnya.
Menanggapi hasil riset yang dirilis pada seminar tersebut, praktisi transportasi dan dosen di SBM ITB Dr Agung Wicaksono menegaskan pula pentingnya melakukan kolaborasi, bukan kompetisi, antara penyelenggara transportasi umum massal dan penyedia layanan transportasi daring.
“Ada tiga area kolaborasi, yang pertama dari aspek integrasi sistem pembayaran antara transportasi massal dan transportasi daring. Yang kedua, bagaimana transportasi daring dapat berkolaborasi dengan angkot, dan yang ketiga bagaimana transportasi daring berintegrasi dengan JakLingko,” jelas Agung.
Menguatkan hal tersebut, Dr Yos menyampaikan bahwa sistem pembayaran terintegrasi dapat menjadi nilai tambah bagi komuter.”Layanan terintegrasi untuk para pengguna ini, seperti ongkos bundling akan mampu menciptakan pengalaman tanpa batas antara segmen jarak jauh dan first mile/last mile, akan bermanfaat bagi pengguna,” ungkap Yos.
Penelitian oleh SBM ITB mengenai “Peran Transportasi Daring dalam Penggunaan Transportasi Umum Massal” menggunakan survei wawancara terhadap 5.064 responden yang merupakan komuter yang tinggal di wilayah Jabodetabek pada bulan Desember 2019 sampai dengan awal Maret 2020 (sebelum masa pandemi Covid-19). (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

