Advertisement
Pendidikan

Hari Guru Nasional, Coretan Kerinduan Guru TK di Surabaya Ini Bikin Haru 

Namanya Puspito Rahayuni, S.Pd. Sehari-hari ia menjadi Kepala TK Riverside, Jalan Kalijudan Surabaya. Bu Guru Pipit. Demikian sapaan akrab perempuan tersebut.

TIMES Indonesia,
Hari Guru Nasional, Coretan Kerinduan Guru TK di Surabaya Ini Bikin Haru 
Keceriaan Bu Guru Pipit bersama siswa sebelum pandemi. (Foto: Dok.Pribadi Pipit)
A-AA+

SURABAYA Namanya Puspito Rahayuni, S.Pd. Sehari-hari ia menjadi Kepala TK Riverside, Jalan Kalijudan Surabaya. Bu Guru Pipit. Demikian sapaan akrab perempuan tersebut. Setiap pagi ia selalu mempersiapkan diri mengajar daring. Tak ada yang berubah sejak sembilan bulan terakhir. Menyapa para siswa lalu memberikan tugas melalui WhatsApp Group. Namun hari ini adalah hari istimewa. Peringatan Hari Guru Nasional 2020. 

Dulu, sebelum pandemi melanda, momen ini adalah saat penuh kehangatan ucapan dan pelukan dari siswa-siswa kecilnya. Tahun ini cukup sapa dari maya. 

Advertisement

Bu-Guru-Pipit-2.jpg

Bu Guru Pipit tersenyum, ia mengambil buku catatan dan pulpen hitam. Sedikit coretan untuk hari ini. 

"Sembilan bulan sudah kami tak bersamamu, sembilan bulan sudah kami jauh darimu. Hanya dengan laptop dan handphone inilah kami bisa menyapamu setiap hari," tulisnya.

Bu Guru Pipit terdiam sejenak. Ada yang menari dalam ingatannya. Setiap hari mereka masuk jam 7 pagi. Berkumpul di depan kelas berbaris rapi dan senam pagi dahulu sebelum masuk kelas. 

Lalu guru memanggil satu persatu. Anak-anak masuk kelas. Setelah duduk manis di meja masing-masing, mereka berdoa dan bernyanyi bersama dengan riang gembira sebelum guru memberikan materi pembelajaran. Setelah pembelajaran inti adalah waktu istirahat bersama selama 30 menit. Dan sesi akhir mengikuti penutup pembelajaran. Bu Guru Pipit tersenyum. 

Advertisement

"Tetap semangat anak-anakku sayang, selalu sehat dan tetap berjuang menjadi anak yg hebat. Semoga kita semua dilindungi Allah SWT," tambahnya di atas kertas putih itu. 

Masih ada lagi yang ingin ia luapkan. Bu Guru Pipit kembali menulis. Tentang kerinduan pada anak-anak didiknya. Pengabdian sebagai pahlawan tanpa tanda jasa seolah telah menjadi panggilan hati. 

Bu-Guru-Pipit-3.jpg

"Tidak pernah terlintas dalam pikiranku akan terjadi kondisi pandemi saat ini. Belajar di rumah selama kurleb 9 bulan lamanya. Pembelajaran online setiap hari, tidak bisa 100% mengajari anak-anak. Fokus belajar anak menurun karena kebanyakan main game daripada mengerjakan tugas daring. Anak jadi pemalas karena bangunnya siang-siang terus. Komunikasi kurang lancar karena pembelajaran melalui internet (paket kuota). Pembengkakan biaya beli paketan internet. Mengerjakannya tergantung dari HP ortu yang masih bekerja. Iya kalau ortu bisa menyadari anaknya menguasai materi? kalau tidak bisa pasti juga tidak dikerjakan tugas-tugas daringnya. Bisa jadi apa nantinya anak didik kita? Kalau seandainya proses belajar daring ini masih menyelimuti dunia pendidikan," 

Saat dihubungi TIMES Indonesia, Bu Guru Pipit menuturkan tulisan tersebut memang bentuk kegelisahan hatinya akan kondisi dunia pendidikan saat ini. 

"Metode daring yang dipakai pembelajaran saat ini saya rasa kurang maksimal. Karena anak-anak sering tidak mengikuti materi yang disampaikan gurunya," kata Pipit. 

Terkadang, lanjutnya, orang tua juga menyepelekan dan menunda tugas yang seharusnya dikerjakan anak-anak. 

"Padahal nilai mengerjakannya tergantung jam berapa anak didik kita mengirim jawabannya. Kalau mengirimkan jawabannya lebih awal pastilah dapat nilai bagus. Kalau terlambat ya dapatnya nilai pas-pasan," ujarnya. 

Tak hanya itu saja. Proses pembelajaran daring ini juga membuat guru-guru stres karena banyak sekali laporan yang harus dikerjakan dan langsung dikirimkan ke Dinas Pendidikan secepatnya. 

"Jadi tidak ada guru yang santai-santai karena WFH atau WFO. Justru pusing karena laporannya semuanya online," jelasnya lagi. 

Tetap semangat Bu Guru Pipit dan seluruh guru di Tanah Air. Jasa-jasamu akan selalu menjadi pelita dalam kegelapan. Selamat Hari Guru Nasional(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Lely Yuana
PenulisLely YuanaPernah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (AWS). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 8 September 2017. Meliput berbagai topik, termasuk politik, birokrasi, hukum, gaya hidup, seni dan budaya, serta isu sosial.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia