Unik, Ponpes Nurul Hidayah Sediakan Kolam Renang untuk Para Santriwatinya
Pondok pesantren (ponpes) merupakan salah satu lembaga pendidikan berbasis agama Islam. Pada umumnya, di dalamnya terdapat berbagai fasilitas seperti kelas untuk belajar mengajar, masjid atau musala, dan kamar-kamar untuk santri yang menginap. Namun, ada

JEMBER – Pondok pesantren (ponpes) merupakan salah satu lembaga pendidikan berbasis agama Islam. Pada umumnya, di dalamnya terdapat berbagai fasilitas seperti kelas untuk belajar mengajar, masjid atau musala, dan kamar-kamar untuk santri yang menginap. Namun, ada fasilitas yang unik di Ponpes Nurul Hidayah, Jember, Jawa Timur.
Ponpes khusus putri yang beralamat di Jalan HM Yasin, Kecamatan Kaliwates, Jember tersebut memiliki fasilitas yang tidak biasa untuk santriwatinya. Yakni kolam renang.
Pendiri sekaligus pengasuh Ponpes Nurul Hidayah Kiai Abdul Hamid Pujiono menerangkan bahwa kolam renang yang tersedia di dalam ponpes cukup lebar. Yakni berukuran 4 meter x 8 meter dengan kedalaman sekitar 1,5 meter.

Kolam tersebut berada di ruang terbuka. Tidak jauh dari gerbang masuk menuju pondok. Tapi jangan dibayangkan orang lain dapat mengintip ke arah kolam sesuka hati. Sebab, kolam renang itu dikelilingi oleh dinding seng serta bangunan pondok. Cukup aman bagi santriwati yang ingin berbasah-basahan di sana.
Kiai Abdul Hamid menceritakan bahwa pada awal pembuatannya, kolam tersebut tidak dimaksudkan sebagai kolam renang.
Tapi sebagai kolam penampung air yang berlebih dari sumur bor ketika tidak digunakan.
“Iya untuk kolam renang itu. Tapi sebenarnya kami hanya memanfaatkan lahan yang tersedia saja. Sebagian dari air yang kami miliki sudah disalurkan pada masyarakat supaya berguna untuk mereka. Tetapi masih ada banyak air yang keluar dari sumur bor. Jika tidak digunakan maka akan mengalir begitu saja. Kebetulan ada ide, ya sebenarnya kolam mandi, tetapi karena lahan yang lumayan, dan air yang berkecukupan maka kami buat kolam renang saja,” terang kiai yang juga seorang dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember tersebut saat ditemui TIMES Indonesia di Ponpes Nurul Hidayah, Kamis (3/12/2020).
Kiai Abdul Hamid menuturkan bahwa keberadaan kolam renang ekslusif tersebut membuat para santriwati betah berlama-lama di dalam pondok.
Para santriwati juga ikut menjaga kebersihan kolam renang dengan memberlakukan jadwal piket.
“Mereka akhirnya membagi sendiri tugas, kan ada pengurus juga. Jadi mereka akhirnya menata jadwal kapan dibersihkan, kapan di isi airnya, kapan digunakan. Iya intinya saya menganggap mereka sudah seperti keluarga, maka yang dilakukan ya merawat secara bersama,” tuturnya.
Terkait dengan ponpes tersebut, Kiai Abdul Hamid menceritakan bahwa Ponpes Nurul Hidayah yang mulai dibuka pada 2016 silam ini memiliki luas lahan sekitar 4.500 meter.

Jumlah santriwatinya sebanyak 75 orang yang berasal dari berbagai daerah di Jawa maupun luar Jawa. Kebanyakan mereka adalah mahasiswa dan pekerja.
Ponpes tersebut memiliki 9 pengajar aktif, serta 4 kelas ngaji dan 12 kamar yang terbagi dalam Blok A yang berisi 8 orang dan Blok B yang berisi 12 orang..
“Berdirinya ponpes ini saat saya menjadi Direktur Ma’had IAIN Jember cukup lama. Akhirnya ingin membuka pondok pesantren sendiri,” terangnya.
Dia menerangkan bahwa dalam memfasilitasi para santriwatinya pihaknya menyediakan berbagai sarana yang bermanfaat. Tidak hanya kolam renang, namun juga ada kolam ikan hingga tempat untuk bercocok tanam.
Hal ini dilakukan untuk menunjang kenyamanan para santri dalam melakukan tugas kampus, supaya mereka tidak terlalu kesusahan dalam mengerjakan tugas.
“Sebenarnya fasilitas di pondok ini masih sangat sederhana. Saya menyediakan fasilitas-fasilitas tersebut guna mendukung mahasiswi. Tanaman misalnya, di situ kami sediakan lahan bagi teman-teman mahasiswi yang Prodi Biologi salah satunya. Itu beberapa kali mereka mengadakan penelitian tentang tanaman, bunga, dan lain-lainnya,” jelas Kiai.
Kegiatan di dalam Pondok Pesantren Nurul Hidayah cukup padat. Mulainya kegiatan ditandai dengan Salat Subuh hingga pukul 06.00 WIB. Selanjutnya kegiatan dilakukan kembali setelah Ashar pukul 16.30 WIB hingga Salat Magrib. Seluruh kegiatan baru usai pada pukul 21.00 WIB.
“Sesudah Salat Subuh kegiatan Ponpes Nurul Hidayah berupa mengaji kitab kuning secara rutin, kalau yang sore itu kami baca bersama wirid rotibul haddad. Baru setelah magrib ada bermacam kegiatan yang dilakukan sesuai dengan jadwal harian. Untuk kegiatan diniyahnya dilakukan setelah Salat Isya,” paparnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

