Advertisement
Pendidikan

Menengok Edukasi Kehidupan di Ponpes Alif Baa Banjarnegara

Pondok Pesantren atau Ponpes Alif Baa di Desa Mantrianom, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah berada di antara rumpun bambu yang lebat dikitari sungai deras.

TIMES Indonesia,
Menengok Edukasi Kehidupan di Ponpes Alif Baa Banjarnegara
Gus Hayat pengasuh Ponpes Alif Baa saat berbincang - bincang dengan TIMES Indonesia. (FOTO: Muchlas Hamidi/TIMES Indonesia)
A-AA+

BANJARNEGARA Pondok Pesantren atau Ponpes Alif Baa di Desa Mantrianom, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah berada di antara rumpun bambu yang lebat dikitari sungai deras.

Tampak beberapa bangunan klasik  terpencar di lahan yang luas.   Sebuah masjid klasik tampak kokoh berdiri dengan  dengan kaki-kaki pohon jati utuh. Di atas sana  tampak bangunan rumah Minangkabau dan rumah Papua berdiri.

Advertisement

Inilah sekilas potret Ponpes Alif Baa, saat TIMES Indonesia hendak berbincang-bincang dengan Gus Hayat, pengasuh Ponpes Alif Baa, Rabu (10/2/2021).

ponpes alif baa b

"Assalamualaikum Gus," sapa TIMES Indonesia mengawali perbincangan dengan Gus Hayat di sebuah tempat yang biasa untuk ngobrol santai dengan semua tamu atau santri yang datang.

Tidak jauh dari tempat duduk tampak tungku, api kayu bakar menyala. Rupanya sejumlah santri sedang memasak, sebagian lagi membuatkan kopi buat TIMES Indonesia.

Konsep Ponpes Alif Baa, sepertinya menyeramkan. Karena tempat ini dikenal sebagai tempat Kanalisasi, menampung anak punk dan lain lain. Gus Hayat dengan lugas menguraikan, bahwa disebut kanalisasi, karena disini menangani santri-santri yang memiliki masalah kehidupan.

Advertisement

"Jadi, kita tidak sekadar mengajar mengaji, tetapi lebih banyak merubah mindset pola hidup santri.  Sehingga pola.dasar kita, adalah memberikan pembelajaran tentang kehidupan," katanya.

Pada saat keadaan Indonesia seperti ini, pihaknya ingin ponpes Alif Baa menjadi sebuah lembaga pendidikan yang selain belajar tentang ilmu agama juga sebagai tempat edukasi sebuah kehidupan. Edukasi yang seperti apa?.

"Selain kita memiliki ilmu agama yang sumber jelas Al Qur'an dan Hadits, tentunya dalam kita berbangsa, khususnya di Indonesia tentu ada Pancasila sebagai pedoman kita dalam berbangsa dan bernegara," imbuhnya.

Pihaknya menyesuaikan pendidikan dengan norma-norma Pancasila sebagai ideologi Bangsa Indonesia. Maka dari itulah di Ponpes Alif Baa berdiri bermacam-macam bangunan dari Sabang-Merauke.

"Ada bangunan Papua yang tinggal ya santri dari Papua, ada rumah Minang yang tinggaal ya orang  Sumatera/Padang," kata Gus Hayat. Ia meyakini, jika dari Timur-Barat (Sabang-Merauke) bersatu, InsyaAllah akan tercipta kedamaian dan kemakmuran.

"Baldatun thayyibatun warrobbun ghafur, inilah letak keadilan dan kebahagiaan selagi kita bisa melaksanakan semua perintah Al Qur'an, hadis dan Pancasila. "Ini adalah tujuan Ponpes Alif Baa ke depan," papar Gus Hayat.

Walaupun baru berdiri 3 tahun, ia ingin serasa sudah 30 tahun. Artinya mereka akan bergerak cepat, tidak mengutamakan kuantitas santri, tapi kita lebih menitikberatkan kualitas santri. Syukur bisa kedua-duanya.

Gus Hayat, sebagai pengasuh pondok, tentu memilik kiat yang kuat untuk para santrinya. Menurutnya, santri Alif Baa akan dididik dengan 'santri persegi' bukan 'santri mligi'.

"Santri persegi,  adalah santri yang serba bisa, tidak hanya sekadar mengaji, tetapi menguasai ilmu ekonomi, perdagangan, pertanian, sosial dan budaya," jelasnya.

Di sini, para santri juga dilatih  berkebun,  menanam padi, kedelai, pisang, beternak, membuat demplot untuk percontohan dan eksperimen dan lain sebagainya. Santri selalu ikut dalam kegiatan sosial terutama dalam penanganan pandemi Covid-19.

Sedang santri 'Mligi' dapat diterjemahkan senagai santri yang hanya belajar ilmu agama, tetapi tidak dibekali ilmu sosial dan ekonomi.  Oleh karena itu, Gus Hayat berniat akan mendirikan SMK berbasis pesantren. Masa pendidikannya direncanakan selama 4 tahun. 

Tiga tahun mendalami prodi yang akan disiapkan dan setahun adalah pendidikan yang disesuaikan dengan tuntutan masa depan yang serba milenial. Sehingga setamat SMK, siswa atau santri sudah mapan karena memiliki kemampuan untuk hidup mandiri dan bermasyarakat.

Gus Hayat juga menjelaskan, bahwa Alif Baa juga satu atap dengan Ponpes Tanbihul Ghafilin yang sudah memiliki jenjang pendidikan dari TPQ hingga perguruan tinggi.

Sedang di Ponpes Alif Baa, sudah ada TPQ, majelis taklim, pengajian selapanan, pengajiaan bulanan dan pengajian janda-janda muda yang digelar setiap tanggal 12 jam 13.00 setiap bulan nasional. Pengajian ini untuk membekali para janda dengan ilmu agama dan konsepnya merupakan ajang konseling.

"Begitupun dengan istilah kanalisasi, kita menjadi ponpes yang dapat memberikan perubahan pada santri-santri yang 'ketergantungan' menjadi santri yang mandiri dan berguna bagi nusa bangsa dan agama," ujar Gus Hayat, pengasuh Ponpes Alif Baa di Kabupaten Banjarnegara. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Muchlas Hamidi
PenulisMuchlas HamidiBergabung dengan TIMES Indonesia sejah tahun 2020 Liputan : Sosial, Budaya, dan isu atau kejadian di daerah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia