I Made Wartana Dikukuhkan Jadi Profesor ITN Malang, Ini Kisah Perjuangannya
I Made Wartana menjadi profesor yang ketujuh di Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Ia dikukuhkan pada Sabtu (20/3/2021) di Gedung Aula Kampus I ITN Malang.

MALANG – I Made Wartana menjadi profesor yang ketujuh di Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Ia dikukuhkan pada Sabtu (20/3/2021) di Gedung Aula Kampus I ITN Malang.
Guru Besar bidang Teknik Elektro itu dikukuhkan bersama Prof Dr Kustamar, MT sebagai Guru Besar bidang Teknik Sumber Daya Air. Prof Kustamar merupakan mantan Rektor ITN Malang yang beberapa waktu lalu wafat karena sakit.

Bertambahnya dua profesor ini mencatat, Kampus Biru ini telah memiliki delapan profesor. Ke depan, akan ditambah lagi kata rektornya.
Prof Dr Eng I Made Wartana MT selaku Guru Besar Bidang Teknik Elektro menyampaikan pidato ilmiahnya dalam judul Optimalisasi Penetrasi Pembangkitan Energi Baru Terbarukan ke Grid dengan Kendali FACTS Berbasis AI.
Dalam paparannya, Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai sumber pembangkit listrik. Penggunaan EBT ini disebut dapat meningkatkan ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi tak terbarukan.
"Saya harap kajian ilmiah saya bisa memberikan manfaat dan sumbangsih sebagai alternatif solusi mendorong bauran EBT sesuai target pemerintah," paparnya.
Kata dia, Surat Keputusan (SK) Profesor dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI sudah keluar pada bulan November 2019 yang lalu, namun baru diterima pada akhir Mei 2020.
“SK profesor baru 29 Mei (2020) kemarin saya terima, dan selama proses (pengajuan) tidak ada revisi. Untuk pengajuannya sudah sejak Juni 2018, kemudian bulan Agustus 2019 lolos, dan SK turun di bulan November 2019," jelasnya.

Pria yang lahir dari keluarga sederhana di Denpasar Bali itu awalnya tidak ada pikiran meriah gelar profesor. Sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara, Made hanya berkeinginan bisa lulus sekolah kemudian lekas mendapatkan pekerjaan untuk membantu orang tua menyekolahkan adik-adiknya.
Hanya modal semangat dan tekad, serta dukungan dari keluarganya (paman), ia memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Pamannya menilai bahwa Made orang pintar dan harus melanjutkan sekolah lagi.
"Akhirnya saya ikut paman ke Malang. Dengan percaya diri daftarlah di IKIP Malang, saat itu tahun 1981. Ternyata jurusan elektro tidak ada. Kemudian mencoba daftar ke Universitas Brawijaya (UB), namun tidak bisa lantaran saya lulusan STM," katanya.
Nasib mujur masih berpihak pada Made. Saat pulang mendaftar dari UB dengan berjalan kaki, Made melewati kampus Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, yang kala itu masih bernama Akademi Teknik Nasional (ATN). Perasaan optimis bisa kuliah langsung muncul pada diri Made.
“Ya, pas jalan kaki dari UB mau pulang ke Jalan Jombang, lewatlah saya di Jalan Bendungan Sutami. Di situ ada papan nama ATN dan ada Jurusan Teknik Elektro. Nah, dari situlah akhirnya saya daftar ke ITN Malang. Apalagi nama rektornya terkenal saat itu, Pak Abel Silalahi,” lanjutnya.
Dengan dibantu Sang Paman, akhirnya Made muda lulus dan melanjutkan kuliah di ITN Malang. Biaya daftarnya saat itu hanya Rp300 ribu.
Hingga lulus kuliah, Made kemudian diangkat menjadi asisten dan melamar dosen di Teknik Elektro. Sampai saat ini, sudah banyak jabatan yang diemban Prof Made salah satunya sebagai Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan.
Made meraih gelar S2-nya di ITB dan S3 di Asian Institute of Technology (AIT) Thailand. Karena kecerdasannya, ia mendapatkan beasiswa untuk sekolah S2-nya itu.
“Studi ke Thailand umur saya sudah 47 tahun. Saya menjadi salah satu dari 1000 orang yang lolos beasiswa di tahun 2008. Sebenarnya sudah out of date (kadaluarsa) untuk kuliah lagi. Namun, saya merasa memiliki tanggung jawab sebagai dosen. Long life education, tidak ada batas untuk belajar. Sampai matipun belajar belum akan tuntas. Kalau mampu kenapa tidak, selama itu ada peluang,” bebernya.
Sementara itu, Rektor ITN Malang, Prof Dr Eng Ir Abraham Lomi, MSEE menjelaskan bahwa Prof Made Wartana merupakan guru besar ketujuh. Dikukuhkannya Prof Made ini menjadi spirit baru untuk memberikan inspirasi dosen lainnya.
"Institusi pendidikan tidak bisa lepas dari pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Kami dorong yang lainnya segera menyusul," tegasnya.
Pihaknya telah membantu sejumlah dosen untuk tetap lanjut kuliah ke jenjang yang lebih tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri.
Menurut data, ada 30 persen dosen yang telah memiliki kualifikasi doktor. Jenjang doktoral ini lah yang terus didorong untuk menjadi guru besar sesuai kualifikasi bidang keilmuan masing-masing.
"Tahun ini kita harap ada beberapa kader kita yang bisa dikukuhkan. Dua orang sedang kita proses dan kita masih menunggu semoga segera mendapatkan pengangkatan gelar," tukasnya.
Terkait pengukuhan Prof I Made Wartana, Rektor ITN Malang berharap ini menjadi momentum kebangkitan kampus untuk memberikan spirit positif kepada civitas akademika seluruhnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

