Masa Depan Reaktor Nuklir, Ir Dwi Hary Soeryadi Luncurkan Buku Pro Kontra PLTN
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) 2014-2019, Ir. Dwi Hary Soeryadi, M.MT, meluncurkan buku berjudul Pro-Kontra PLTN. Buku tersebut menyajikan pengalamannya saat menjadi anggota DEN.

SURABAYA – Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) 2014-2019, Ir. Dwi Hary Soeryadi, M.MT, meluncurkan buku berjudul Pro-Kontra PLTN. Buku tersebut menyajikan pengalamannya saat menjadi anggota DEN.
Buku setebal 236 halaman tersebut, mengulas perspektif setiap kali wacana pembangunan PLTN masuk dalam ruang diskusi. Mulai optimisme kedigdayaan negara dengan energi nuklir hingga kritik pedas bayang-bayang ancaman bahaya teknologi tersebut.

Ir Dwi Hary secara gamblang menyajikan perdebatan tentang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Perdebatan itu terlihat semakin tajam dan menimbulkan pro kontra dalam masyarakat energi Indonesia saat ini.
"Bagi yang pro mengatakan Indonesia harus segera bangun PLTN. Sedangkan yang kontra mengatakan Indonesia tak perlu PLTN," kata Ir Dwi di Surabaya, Jumat (26/3/2021).
Lebih lanjut ia memaparkan, beberapa pihak kontra PLTN merasa kurang nyaman dengan istilah Energi Baru dan Terbarukan (EBT).
Meskipun dalam peraturan kebijakan energi di Indonesia sudah dibuat dan sudah sangat jelas yaitu di UU 30/2007 tentang Energi, PP79/2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), dan Perpres22/2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).
"Mereka lebih cocok bila menyebutkan dengan istilah Energi Terbarukan (ET) karena di dunia internasional-pun tidak ada istilah New and Renewable Energy, yang ada hanya istilah Renewable Energy," tambahnya menjelaskan isi buku yang dibuka (prolog) oleh Menteri ESDM 2016-2019 Ignasius Jonan.
Sedangkan bagi pihak pro PLTN, tidak suka jika disebut bahwa PLTN ditempatkan sebagai pilihan terakhir. Karena bagaimanapun PLTN adalah salah satu teknologi mutakhir yang harus dimanfaatkan.
"Akan tetapi, dengan histori adanya beberapa kecelakaan besar meledaknya reaktor PLTN di beberapa negara di dunia, menggugah kita semua untuk mawas diri dan berhati-hati didalam memanfaatkannya, karena Indonesia ada pada zona ring of fire," jelas pria kelahiran Bondowoso tersebut.
Di samping itu, imbuhnya, besarnya potensi sumber energi terbarukan Indonesia yang sangat berlimpah, mulai dari air, matahari, panas bumi, angin, bio, dan laut juga menjadi pertimbangan yang tidak boleh dikesampingkan.
Bahkan berdasarkan data di Direktorat jendral EBTKE Kementrian ESDM total mencapai 417,8 GW, dan baru termanfaatkan hanya 2,5 % -nya saja.
Begitu juga sebaliknya, dengan perkembangan teknologi nuklir yang semakin mutakhir. Telah hadir Nuklir FUSI yang tidak menghasilkan limbah radioaktif sehingga mengurangi risiko kecelakaan. Nuklir FUSI dinilai membawa teknologi yang sesuai dengan harapan semua masyarakat di seluruh dunia.
"Nuklir FUSI sangat berbeda karakter dengan Nuklir FISI yang saat ini dipakai oleh semua PLTN diseluruh dunia yang mempunyai risiko meledak atau bocor yang berdampak kecelakaan yang sangat fatal," jelasnya.
Itulah sekelumit isi dari buku Pro Kontra PLTN. Buku ini juga menjelaskan tentang istilah dan definisi mulai dari energi, energi terbarukan, energi fosil, dan seterusnya. Tentu saja buku ini mengakomodasi bagi pembaca yang baru mengenal istilah energi.
Di samping itu, disajikan juga data-data riil energi fosil nasional yang tersisa, dan data-data riil potensi energi terbarukan nasional yang ada, sesuai dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).
Serta seputar tentang PLTN, perkembangannya, manfaatnya bagi manusia, dan juga bahayanya.
"Hal itu semua, untuk memperluas wawasan pembaca maupun sebagai referensi para mahasiswa yang berminat ambil tema skripsinya di bidang ini," kata Ir Dwi.
Pada bab-bab akhir penulis juga menyajikan pengalaman nyatanya yang didapat di beberapa lokasi PLTN maupun energi lain di beberapa negara, serta diulas juga tentang kunjungannya ke semua reaktor nuklir yang dimiliki oleh Indonesia saat ini. Mulai dari reaktor yang ada di Bandung, Yogyakarta, maupun di Serpong untuk memberikan gambaran nyata bagi pembaca.
Menariknya, dalam buku tersebut penulis tidak bersikap pro maupun kontra, bahkan memberikan kebebasan kepada pembaca untuk memilih dan menentukan sikap. Yang tentunya hanya untuk kepentingan bangsa dan negara ini di masa sekarang maupun dimasa yang akan datang.
"Pro-kontra itu mencerdaskan, dan bukan zamannya lagi memaksakan kehendak. Terlebih diselesaikan dengan cara-cara yang tidak elegan, dengan cara lobi-lobi atau semacamnya. Akan fatal akibatnya. Untuk itu sudah saatnya pemerintah memberi ruang kepada mereka bertemu mencari solusi bersama yang terbaik untuk masa depan energi negeri ini," demikian ungkap Ir Dwi.
Ia menambahkan, buku ini diluncurkan bersamaan dengan acara Webinar yang berjudul “Renewable Energy: Indonesian Prospect and Alternatives Toward Clean Environment” di Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin, Universitas Airlangga Surabaya, Jumat (26/3/2021).
Ada tiga pembicara dalam webinar tersebut, yakni Daud Hadi Winarto (Business and Development Manager PT. WIKA), Lilik Jamilatul A, PhD (Dosen Teknik Elektro UNAIR), dan Ir. Dwi Hary Soeryadi, M.MT (anggota Dewan Energi Nasional 2014-2019).
Pada masa peluncuran buku ini, yaitu 26 Maret 2021 – 2 April 2021, diberlakukan diskon 20% untuk umum dan 50% untuk mahasiswa, dari harga normal Rp 85.000,- / eksemplar, dan bebas ongkir untuk wilayah Surabaya. Pemesanan buku Pro-Kontra PLTN karya Dwi Hary Soeryadi, bisa melalui Tokopedia (Hary’s book) atau WA langsung di nomor: 08172817999.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


