Pendidikan

Dokter Moh Saleh, dan Jejak Hari Kebangkitan Nasional di Probolinggo

Kamis, 20 Mei 2021 - 20:50 | 106.56k
Dua pelajar menyimak biografi dr. Moh Saleh di Museum dr. Moh Saleh, Kota Probolinggo (FOTO: Dok. TIMES Indonesia)
Dua pelajar menyimak biografi dr. Moh Saleh di Museum dr. Moh Saleh, Kota Probolinggo (FOTO: Dok. TIMES Indonesia)
Kecil Besar

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Peringatan Hari Kebangkitan Nasional setiap 20 Mei, didasarkan pada pendirian organisasi Boedi Oetomo 1908 silam. Salah satu pendiri organisasi yang menjadi tonggak perjuangan kemerdekaan itu, adalah Dr. Moh Saleh.

Di Probolinggo, nama dr. Moh Saleh diabadikan menjadi nama RSUD milik Pemkot Probolinggo: RSUD dr. Moh Saleh. Atas jasa dan perjuangannya, namanya juga diabadikan menjadi nama ruas jalan: Jl. Dr. Moh Saleh.

Advertisement

Kemudian sejak Maret 2013, rumah dokter pribumi pertama di Probolinggo ini dijadikan museum. Yaitu Museum dr. Moh Saleh, yang terletak di Jl. Dr. Moh Saleh, Kota Probolinggo.

Dua-pelajar-menyimak-biografi-2.jpg

Museum dr. Moh Saleh menyimpan koleksi berbagai peralatan medis yang sering digunakan pada masa penjajahan Belanda. Seperti peralatan bedah, peralatan pelayanan kesehatan, meja otopsi dan lain sebagainya.

Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam Buku Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia; Dari Budi Utomo sampai dengan Pengakuan Kedaulatan, menyebutkan, dr. Moh Saleh menjadi salah satu dari sembilan pendiri Boedi Oetomo.

Semuanya merupakan pelajar STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) atau sekolah kedokteran Jawa.

Dalam buku cetakan kedua (1997) itu disebutkan, Moh. Saleh menjabat sebagai salah satu komisaris dalam struktur Boedi Oetomo bersama M. Soeradji, Soewarno II (M. Soewarno), dan RM Goembrek.

Boedi Oetomo diketuai R. Soetomo. Wakil Ketuanya, M. Soelaiman. Sekretaris I, Soewarno I (Gondo Soewarno). Sekretaris II, M. Goenawan. Dan Bendahara, R. Angka.

Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Buku Sejarah Nasional Indonesia terbitan Balai Pustaka (1984) mencatat, hingga menjelang kongres pertama, Boedi Oetomo memiliki delapan cabang.

Meliputi Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta I, Yogyakarta II, Magelang, Surabaya dan Probolinggo. Kongres pertama digelar di Yogyakarta, 3-5 Oktober 1908.

Dr. Moh Saleh menghabiskan waktunya sebagai dokter di Probolinggo. Salah satu pendiri Boedi Oetomo itu, memiliki 11 anak. Salah satunya, Abdulrachman Saleh yang diabadikan sebagai nama bandara di Malang. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES