Advertisement
Pendidikan

Pakar Pendidikan: Pancasila Masih Bersifat Umum dan Teoritis

Pakar Pendidikan dari Universitas Paramadina, Totok Amin Soefijanto menuturkan bahwa, Pancasila merupakan bagian penting dari kehidupan dalam berbangsa dan bernegara bagi bangsa Indonesia. Sayangnya Pancasila, masih bersifat umum dan teoriti

TIMES Indonesia,
Pakar Pendidikan: Pancasila Masih Bersifat Umum dan Teoritis
Pakar Pendidikan dari Universitas Paramadina, Totok Amin Soefijanto (Foto: policy.paramadina.ac.id)
A-AA+

JAKARTA Pakar Pendidikan dari Universitas Paramadina, Totok Amin Soefijanto menuturkan bahwa, Pancasila merupakan bagian penting dari kehidupan dalam berbangsa dan bernegara bagi bangsa Indonesia. Sayangnya Pancasila, masih bersifat umum dan teoritis.

Menurut Totok, Pancasila yang belum masuk ranah praktis ini menjadi pekerjaan rumah bersama untuk menjadikan praktik keseharian dalam wujud nyata, termasuk perundangan dan peraturan.

Advertisement

“Pancasila selalu hadir, terasa atau tidak. Dari Sabang sampai Merauke, masyarakat kita menjalani kehidupan dengan napas Pancasila itu. Nah, persoalan Pancasila yang hadir tersebut masih bersifat umum dan teoritis, belum ke ranah praktis,” kata Totok di Jakarta Selasa (1/6/2021).

Dia kemudian mencontohkan Jerman merupakan negara yang menerapkan social market economy yang mirip Pancasila. Kata dia, Jerman bisa ditiru bagaimana konsistensi mereka memahami apa yang dimaksud Pancasila.

“Negara Eropa ini kuat karena menjalankan konsep ekonomi pasar yang berkeadilan sosial. Kita kurang tekun menerjemahkan konsep Pancasila secara praktis keseharian,” imbuhnya.

Sementara itu, terkait dengan masalah sosial politik kebangsaan seperti fenomena radikalisme atau terorisme, korupsi, kemiskinan, pemerataan pendidikan dan pembangunan juga dialami oleh negara lain.

Ia menjelaskan  bahwa Indonesia yang memiliki Pancasila sejatinya mengasumsikan warga negara yang baik, taat hukum, tidak korupsi, beradab, toleran, dan berkepedulian sosial.

Advertisement

“Itulah sifat para pendiri bangsa ini yang mencetuskan ideologi bangsa. Mereka memiliki prasangka baik bahwa anak cucu penerus bangsa ini akan seperti mereka. Sangat disayangkan, generasi penerusnya ternyata tidak seperti itu,” jelasnya.

Oleh karena itu, Totok menilai, Pancasila sebaiknya ditanamkan ke anak didik dan masyarakat secara alamiah, bukan forum formal penataran. “Ideologi ini dihidupkan dalam keseharian dan dalam konteks masyarakatnya,” ucapnya.

Ia kemudian menyarankan langkah strategis yang harus segera dijalankan di antaranya, negara harus memastikan adanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Ini mudah dikatakan, tapi sulit praktiknya. Persoalan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi, red) dan penanganan pandemi menjadi showcase rasa keadilan masyarakat," paparnya.  

"Secara umum, Pancasila adalah ideologi yang dinamis dan hidup dalam nadi setiap warga negara. Sila ke-5 menjadi napas praktis dengan sila ke-1 sebagai landasan negara yang menempatkan Tuhan bagian penting kehidupan masyarakat,” ucap pakar pendidikan ini. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

E
PenulisEdy Junaedi Ds Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia