Advertisement
Pendidikan

Mahasiswa Ubhara Kembangkan Biobriket dari Bonggol Jagung

Umumnya briket terbuat dari batu bata, dan arang kayu. Nmun di tangan Mahasiswa Universitas Bhayangkara (Ubhara) Surabaya briket bisa dibuat dengan bahan utama bonggol ja ...

TIMES Indonesia,
Mahasiswa Ubhara Kembangkan Biobriket dari Bonggol Jagung
Mahasiswa Ubhara saat membuat biobriket dari bonggol jagung. (Foto: dok. Ubhara untuk TIMES Indonesia).
A-AA+

SURABAYA Umumnya briket terbuat dari batu bata, dan arang kayu. Nmun di tangan Mahasiswa Universitas Bhayangkara (Ubhara) Surabaya briket bisa dibuat dengan bahan utama bonggol jagung.

Inovasi pembuatan biobriket dari bonggol jagung ini dilakukan oleh 12 orang mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) Ubhara yang diketuai oleh Muhammad Khoirul Anam dan dosen pembimbing lapangan Dra Endang Siswati, MM,DBA.Tak sendiri, mereka juga menggandeng  Karang Taruna desa Kuripansari, Kecamatan Pacet, Jawa Timur.

Advertisement

Anggota Kelompok KKN, Intan Permata Sari mengatakan dengan inovasi biobriket dari bonggol jagung tersebut ia ingin membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Alasannya menggunakan bonggol jagung, karena di desa tersebut banyak terdapat ladang jagung, sementara limbah jagung tidak dimanfaatkan dengan baik.

"Kebetukan ide kami adalah membuat biobriket jadi kenapa gak limbahnya kita manfaatkan dengan baik," ujar Intan saat ditemui di Kampus Ubhara, Kamis (16/12/2021).

Namuna kata Intan, ia tak murni menggunakan bahan dasar bonggol jagung. Ia masih perlu bahan pemberat agar ketika briket sudah jadi, briket bonggol jagung tidak terlalu ringan.

biobriket dari bonggol jagung

"Karena kan bonggol jagung itu kalau sudah jadi briket ringan, nah untuk untuk pemberat kita ada campuran serbuk kayu, daun-daun kering ini juga mempertahankan daya bakar," ungkapnya.

Advertisement

Ia menjelaskan bahwa alat yang mereka gunakan untuk pembuatan briket jagung pun adalah alat-alat sederhana yang mereka rangkai sendiri. Pihaknya hanya menggunakan drum dan pencetak.

"Untuk drum dan pencetak kita modif, tidak pure drum besi gitu, jadi ada pembakaran lewat dalam, yang atas tertutup tapi kita dapat pembakaran dari dalam, supaya arangnya sempurna," jelas Intan.

Karena semua alat tersebut dirangkai sendiri, biaya pembuatannya dapat diminimalisir. Pihaknya hanya menghabiskan Rp 1 juta rupiah untuk pembuatan alat.

Kata Intan, waktu pembuatan biobriket iji memakan waktu selama 10 hari. Mulai dari proses pengeringan, pembakaran, pencetakan hingga pengemasan.

"Pengeringan karena kita pakai matahari itu selama 5 hari. Terus pembakaran sekitar 5 jam, jadi total semuanya 10 hari," jelasnya

Selain proses pembuatan, bersama teman-temannya, ia juga mengajarkan Karang Taruna untuk memasarkan biobriket. Sistem pemasaran pun dilakukan dengan dua cara, yakni online dan offline.

"Kalau online kita lewat sosial media, kalau offline kita tawarkan di sekitar pacet, kebetulan banyak yang beli," kata mahasiswa Ubhara ini. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

K
PenulisKhusnul Hasana (MG-242) Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia