Advertisement
Pendidikan

Profesor ITN Malang Sutanto Hidayat Ulas Formulasi Kebijakan Publik untuk Kemapanan Ekonomi

Sutanto Hidayat resmi menyandang gelar profesor di Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). ...

TIMES Indonesia,
Profesor ITN Malang Sutanto Hidayat Ulas Formulasi Kebijakan Publik untuk Kemapanan Ekonomi
Prof Dr Ir Sutanto Hidayat, MT merupakan profesor baru ITN Malang yang segera dikukuhkan. (FOTO: Dok. Sutanto for TIMES Indonesia)
A-AA+

MALANG Sutanto Hidayat resmi menyandang gelar profesor di Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Prof Dr Ir Sutanto Hidayat, MT akan dikukuhkan pada Kamis, 3 Februari 2022 mendatang.

Ia menjadi Guru Besar bidang Ilmu Manajemen di ITN Malang. Pria kelahiran Babat, 7 Januari 1956 ini mengulas terkait Manajemen Pembangunan Infrastruktur Sebagai Penguat Kebijakan Publik Menuju Peningkatan Ekonomi yang Mapan.

Advertisement
Ia membeberkan data soal kinerja pembangunan infrastruktur berdasarkan World Economic Forum Report 2018 bahwa kualitas infrastruktur Indonesia secara keseluruhan berada di peringkat ke-54 dari 160 negara yang diteliti.
 
Posisi itu tidak terlalu jauh di belakang dua negara tetangga, Malaysia dan Thailand, yang masing-masing berada di peringkat 40 dan 41.

Sutanto-Hidayat-2.jpg

Menurutnya, kendala kritis dalam pembangunan infrastruktur adalah lantaran rendahnya investasi publik, lemahnya kemitraan pemerintah dan swasta (KPS) dan minimnya investasi swasta, termasuk penanaman modal langsung oleh asing. 
 
Adapun faktor yang berdampak negatif pada pembangunan infrastruktur di Indonesia antara lain sulitnya pembebasan lahan, kapasitas SDM dan kelembagaan yang masih lemah, tata kelola pemerintah yang belum optimal, dan minimnya pembiayaan.
 
Prof Sutanto menganggap semakin perlunya sinergi pemerintah pusat dalam pembangunan infrastruktur di daerah. 
 
Sehingga, lanjutnya, di era otonomi daerah, daerah bisa semakin memiliki kapabilitas dan kemandirian dalam menelurkan kebijakan berbasis potensi daerah yang terbaik menurut daerahnya.
 
Demikian juga pemerintah pusat, dengan bersinergi dengan daerah, peluang-peluang pembangunan akan semakin banyak dan terbuka. 
 
Kedua, masih adanya keraguan dari pihak swasta untuk berpartisipasi dan berinvestasi dalam pembangunan bidang infrastruktur. 
 
"Ke depan pemerintah pusat dan daerah harus lebih bersinergi mengurangi keraguan pihak swasta untuk turut partisipasi dalam pembangunan infrastruktur," jelas guru besar berusia 66 tahun ini.

Semakin baik keadaan infrastruktur suatu daerah, semakin baik pula pengaruhnya terhadap keadaan ekonomi. Jika memiliki infrastruktur yang bagus, bisa dipastikan sebuah daerah memiliki keadaan ekonomi yang kuat.

"Ini mengingat gerak laju dan pertumbuhan ekonomi suatu negara tidak dapat dipisahkan dari ketersediaan infrastruktur seperti transportasi, telekomunikasi, sanitasi, dan energi," katanya.

Prof Sutanto juga menjelaskan terkait kebijakan publik sebagai formulasi dan implementasi. Ia mengambil pendapat Bintoro Cokroamidjojo yang mengikuti pemikiran Anderson dalam Islamy (2004), yang menyatakan bahwa pembentukan kebijaksanaan atau policy formulation sering juga disebut policy making meliputi banyak pengambilan keputusan.

"Jadi apabila pemilihan alternatif keputusan dilakukan secara terus menerus dan tidak pernah berhenti disebut perumusan," ucapnya.

Advertisement

ITN-Malang.jpg

Dengan demikian, tahapan formulasi ini merupakan tahapan yang penting untuk menentukan tahapan yang selanjutnya pada proses kebijakan publik.

Jika formulasi kebijakan ini tidak disusun secara baik terdapat kemungkinan pada proses implementasi juga akan tidak baik bahkan yang lebih ekstrim hasil formulasi tidak dapat diimplementasikan.

Pada tahap perumusan kebijakan setidaknya terdapat empat macam kegiatan yang harus dilalui antara lain problem indentification, agenda setting, policy problem formulation, dan policy design.

Implementasi kebijakan, lanjutnya, tidak akan selalu berhasil. Ada beberapa penghambat keberhasilan implementasi kebijakan. Menurut Hogwood dan Gunn (1998) dalam Wahab (2005) membagi pengertian kegagalan kebijakan dalam dua kategori, yaitu non implementation (tidak terimplementasikan) dan unsuccessful implementation (implementasi yang tidak berhasil).

Dalam penelitian itu, Prof Sutanto juga menggarisbawahi peran penting human capital dan social capital dalam pembangunan. Keduanya merupakan dua aspek penting dan mendasar  yang harus dimiliki oleh sebuah negara untuk bisa maju.

Setidaknya ada sejumlah pilar modalitas nasional yang dimiliki Indonesia yaitu kekayaan alam, modal sosial (social capital) dan berkembangnya tatanan demokrasi negara.

Pada konteks negara, perbedaan akses modal ekonomi dan budaya antardaerah secara tidak langsung juga telah membangun sekat perbedaan daerah kaya dan daerah miskin sehingga menyebabkan ketimpangan akses pembangunan masyarakat yang memiliki modal sosial tinggi cenderung bekerja secara gotong royong, merasa aman untuk berpendapat dan mampu mengatasi perbedaan.

Sebaliknya, pada masyarakat yang memiliki modal sosial rendah akan tampak adanya kecurigaan satu sama lain, munculnya disparitas antar kelompok, tidak adanya kepastian hukum dan keteraturan
sosial.

"Maka tidak salah, bila human capital adalah kunci utama menuju terciptanya social capital," kata Prof Sutanto Hidayat, profesor baru yang dimiliki ITN Malang. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia