Advertisement
Pendidikan

Ilmu Komunikasi UMY Kampanyekan Literasi Digital

Banyaknya informasi hoaks di tengah pandemi Covid-19 yang berseliweran di media sosial atau medsos ternyata

TIMES Indonesia,
Ilmu Komunikasi UMY Kampanyekan Literasi Digital
Suasana talk show bertema "Digital Literacy for Quality of Life After Pandemic" yang diselenggarakan mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMY. (Foto: Hendro S.B/TIMES Indonesia)
A-AA+

YOGYAKARTA Banyaknya informasi hoaks di tengah pandemi Covid-19 yang berseliweran di media sosial atau medsos ternyata mendapat perhatian serius Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta atau UMY.

Sebagai bentuk keprihatinan atas fenomena tersebut, mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMY angkatan 2019 menggelar talk show bertema "Digital Literacy for Quality of Life After Pandemic". Acara tersebut sekaligus menjadi ajang kampanye pentingnya literasi digital dikalangan mahasiswa dan milenial.

Advertisement

Talk Show yang digelar di Ruang Amphitheater, Gedung KH Ibrahim UMY, Sabtu (16/7/2022) itu sekaligus implementasi dari Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Hadir sebagai keynote speak yaitu Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Kominfo DIY, Dr. Sayuri Egaravanda, S.Kom.M.Eng. Sedangkan pematerinya yaitu General Manager TIMES Indonesia Regional Yogyakarta, A Riyadi Amar dan Dewa Laksamana, mahasiswa Psikologi UGM yang juga sebagai Insan Berprestasi. Talk show yang berlangsung sekitar 1,5 jam ini dipandu oleh host yaitu Bhakti Gusti yang merupakan Social Media Specialist.

Sayuri menjelaskan Dinas Kominfo Pemda DIY terus mengikuti perkembangan teknologi yang ada ditengah masyarakat sebagai media komunikasi. Nah, literasi digital tentu tak lepas dari transformasi digital yang dicanangkan oleh pemerintah.

UMY-b.jpg

Sejak ada pandemi Covid-19, masyarakat dipaksa menggunakan atau memanfaatkan teknologi informasi. Maksudnya, yang sebelumnya tidak pernah menggunakan teknologi daring atau online dipaksa dapat memanfaatkan teknologi informasi untuk menjalankan pekerjaan dan proses belajar mengajar.

Advertisement

"Ini merupakan sebuah intervensi baru yang terjadi terhadap kita semua yaitu perubahan atau transformasi. Transformasi digital pun begitu karena melibatkan sebuah teknologi," papar Sayuri.

Sayuri berharap, para mahasiswa dan peserta talk show ini mampu berperan serta ikut andil meningkatkan literasi digital khususnya di Kota Yogyakarta.

"Kalangan milenial dan mahasiswa harus memiliki kontribusi ikut menyukseskan program pemerintah dengan cara menyebarkan informasi positif kepada masyarakat Indonesia," papar Sayuri.

Disisi lain, menanggapi maraknya informasi hoaks di jagat maya terutama media sosial, General Manager TIMES Indonesia Regional Yogyakarta, A Riyadi Amar meminta kepada para mahasiswa tidak mudah percaya begitu saja informasi yang muncul didinding media sosialnya. Termasuk informasi yang memiliki makna baik. Sebab, informasi baik belum tentu benar.

"Maksudnya, informasi baik belum tentu benar itu bisa jadi kontennya baik tapi berisi menyesatkan. Misal, ada konten video minuman tradisional A dapat mencegah atau menyembuhkan dari virus corona. Minuman tradisionalnya bagus dan baik tapi belum tentu benar dapat mencegah dan menyembuhkan dari virus corona. Sebab, informasi tersebut masih perlu diuji kebenarannya. Yang namanya obat dan jamu harus diuji secara ilmiah dan laboratorium," tandas Amar yang juga alumni Ilmu Komunikasi UMY ini.

Karena itu, untuk mencegah informasi hoaks agar tidak dominan di jagat maya terutama media sosial, Amar mengajak kalangan mahasiswa, milenial, dan masyarakat luas untuk meningkatkan literasi digital. Juga mengajak para mahasiswa dan milenial agar memproduksi konten positif dan benar untuk jejak rekam digital positif.

"Jika ada informasi bermakna negatif. Mohon jangan sekali-kali langsung percaya apalagi ikut share, menyebarluaskan. Jika informasi yang kita sebarkan itu ternyata hoaks, maka kita dapat dipidana. Sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE bahwa Setiap orang menyebarkan berita bohong atau hoaks yang termasuk dalam pasal 28 UU ITE ini akan dipidana dengan ancaman pidana paling lama enam tahun atau denda paling banyak sebesar satu miliar rupiah," tandas alumi Magister Psikologi Universitas Ahmad Dahlan ini.

Selain itu, mahasiswa komunikasi yang kelak berprofesi sebagai humas atau public relation. Maka, ia harus banyak membaca berbagai informasi di jaga maya. Baik itu berita dan informasi tentang hukum, ekonomi, politik, pemerintahan, sosial, pendidikan dan lain sebagainya.

"Seorang PR atau humas, literasinya digital harus kuat, luas. Jika seorang PR malas membaca, dapat dipastikan ia akan mengalami kesulitan saat berkomunikasi dengan mitra, relasi, dan pihak eksternal," tandas Founder Komunitas Psikologi Psycho Education Centre (PEC) ini.

Senada, mahasiswa Psikologi UGM yang juga sebagai Insan Berprestasi, Dewa Laksamana mengajak para mahasiwa banyak membaca berita informasi yang positif dan tidak mudah ikut menyebarluaskan informasi yang belum tentu benar. Sebagai generasi terdidik, seorang mahasiswa harus selektif dan kritis ketika membaca informasi yang ada du dunia digital.

"Teman-teman harus hati-hati. Kita tingkatkan literasi digital kita dengan banyak membaca informasi-informasi positif dan baik. Verifikasi berkali-kali sebelum kita menyebarkan informasi yang kita dapatkan dari media sosial," pinta Dewa dalam acara talk show bertema "Digital Literacy for Quality of Life After Pandemic" yang diselenggarakan mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMY. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

H
PenulisHendro Setyanto Baskoro Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia