Pendidikan

Dulu Imagenya Negatif, Kini Siswa SMPN 3 Kota Probolinggo Jadi Penghafal Alquran

Selasa, 30 Agustus 2022 - 19:24 | 43.46k
Siswa-siswi SMPN 3 Kota Probolinggo diwisuda sebagai penghafal juz 30 Alquran. (FOTO: SMPN 3 Kota Probolinggo for TIMES Indonesia)
Siswa-siswi SMPN 3 Kota Probolinggo diwisuda sebagai penghafal juz 30 Alquran. (FOTO: SMPN 3 Kota Probolinggo for TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGOSMPN 3 Kota Probolinggo, Jatim, dahulu dikenal sebagai sekolah dengan image negatif. Mulai dari kenakalan siswanya yang membawa pil koplo, mabuk-mabukan, hingga kenakalan remaja lainnya. Tapi kini, sekolah tersebut sukses mewisuda siswa-siswi penghafal Alquran.

Minggu (28/08/2022) malam, SMPN 3 Kota Probolinggo mewisuda 31 siswa-siswinya di Kota Malang. Mereka diwisuda bersama pelajar yang berasal dari daerah lain se-Jawa Timur, karena telah menghafal Alquran juz 30.
 
Murid yang diwisuda di Masjid Al-Hikmah Universitas Negeri Malang tersebut, paling banyak kelas 8. Namun ada beberapa yang kelas 7 dan 9. Yang mewisuda mereka adalah Rumah Tahfidz Center Daarul Qur’an Surabaya, melalui Program Pembibitan Penghafal Alquran (PPPA).

Advertisement

Saat dikonfirmasi di sekolahnya, Selasa (30/08/2022), Kepala SMPN 3, Sumantri membenarkan bahwa ada siswa-siswinya yang telah diwisuda sebagai penghafal juz 30.

SMPN-3-Kota-Probolinggo-b.jpgTiga dari 31 siswa-siswi SMPN 3 Kota Probolinggo yang jadi penghafal juz 30 Alquran. (FOTO: Agus Purwoko/TIMES Indonesia)

Ia menyatakan wisuda yang berlangsung di Kota Malang tersebut, merupakan wisuda pertama kali. Setelah 2 tahun bekerjasama dengan Daarul Qur’an dalam bidang hafalan Alqur’an. Dan, satu-satunya SMP negeri di Jawa Timur yang ikut program PPPA. 

Sebagian besar pesertanya merupakan pondok pesantren dan madrasah negeri-swasta, bahkan ada yang perorangan tanpa melibatkan sebuah lembaga. 

“Ya, sekolah kami satu-satunya yang ikut, yang SMP Negeri. Tidak hanya se Kota Probolinggo, tetapi se-Jawa Timur,” katanya.

Ia menjelaskan belajar membaca dan menghafal Alquran tidak termasuk pelajaran ekstra kurikuler, tetapi pelajaran tambahan yang tidak dipungut biaya sepeserpun alias gratis. Siswa-siswi pun tidak diwajibkan ikut. 

Pihak sekolah menyerahkan sepenuhnya ke siswa yang bersangkutan dan orang tua atau wali murid. “Awalnya banyak orang tua yang tidak mau. Dikira baca Quran yang gimana, gitu,” cerita Sumantri.

Meski begitu, program sekolah tetap jalan walaupun yang ikut hanya sebagian muridnya. Namun, berjalannya waktu, jumlah siswa yang ikut kian bertambah dan kini seluruh siswa ikut program tersebut, kecuali siswa yang non-muslim atau tidak beragama Islam.

Belum diketahui pasti penyebab adanya perubahan sikap wali murid. Namun Sumantri yakin, orang tua mengikutkan anak-anaknya di kelas penghafal Alquran karena ada perubahan perilaku atau tingkah laku. 

Dimungkinkan, orang tua yang anaknya ikut program hafalan Alquran bercerita soal perubahan perilaku anaknya ke wali murid yang lain. “Mungkin dari cerita tersebut, orang tua sadar dan menyuruh anaknya ikut kelas ini,” ujarnya.

Sumantri menyebut, tujuan utama sekolahnya ikut program penghafal Alquran tidak untuk ikut lomba atau bekal kesombongan. Tetapi lebih pada perubahan perilaku yang Islami. Mengingat, SMPN yang dipimpinnya saat ini dikenal tempat belajar anak-anak nakal. Suka minum dan mabuk-mabukan, dan sekolah pinggiran.

 “Ya, memang sekolah kami dikenal seperti itu. Itu dulu, sekarang berubah 180 derajat,” terangnya.
 
Saat dirinya ditunjuk memimpin SMP yang berlokasi di Jalan Hayam Wuruk, Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, itu Sumantri bersama pengajar yang lain berkeinginan menghapus image tersebut. Pihaknya kemudian bekerjasama dengan Rumah Tanfidz Center Daarul Qur’an, Surabaya, 2 tahun yang lalu hingga sekarang. 

Saat ditanya, apakah murid yang diwisuda menghafal Alquran 30 juz. Sumantri menjawab, bukan 30 Juz, tetapi menghafal Juz 30. Karena itu, mereka yang sudah diwisuda diharapkan untuk terus ikut program tersebut, meski sudah tamat atau keluar dari SMPN 3. 

Jika di sekolah barunya nanti tidak ada program seperti itu, mereka tetap bisa mengikuti program tersebut. Tempatnya, bisa dimana saja, bahkan SMPN 3 bersedia ditempati. 

Saat disinggung, apakah ada sekolah lain yang mengikuti jejak SMPN 3 Kota Probolinggo untuk mengubah perilaku muridnya, Sumantri secara diplomasi menjawab. “Itu kan kewenangan sekolah masing-masing. Kami hanya kepingin anak-anak sekarang berperilaku Islami. Bapak wali kota mendukung program kami,” katanya.(*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Irfan Anshori
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES