Pendidikan

Goethe-Institut Luncurkan Platform Pembelajaran Digital Kinderuni di Indonesia

Selasa, 18 Oktober 2022 - 08:38 | 38.03k
Mahasiswa Kinderuni saat memperhatikan penjelasan materi (Foto: Goethe Institut)
Mahasiswa Kinderuni saat memperhatikan penjelasan materi (Foto: Goethe Institut)

TIMESINDONESIA, JAKARTAGoethe-Institut resmi meluncurkan platform pembelajaran digital Universitas Anak-Anak Digital Jerman atau Kinderuni di Indonesia untuk pelajar berusia 8- 12 tahun. Proyek pendidikan ini memungkinkan para “mahasiswa cilik” berkuliah mengeksplorasi ragam ilmu terkait lingkungan sekitar sambil diperkenalkan dengan kosakata dasar bahasa Jerman.

Proyek yang diinisiasi pada 2016 silam oleh Goethe-Institut Rusia ini terus berkembang dan telah tersedia dalam 31 bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Pada Kamis 13 Oktober 2022 lalu Goethe-Institut Jakarta meluncurkan Kinderuni di Indonesia yang dihadiri 120 siswa SD dari delapan sekolah, siswa-siswa SD ini memiliki kesempatan mengikuti kelas di Kinderuni dan berpartisipasi dalam beberapa eksperimen.

Advertisement

Terdapat tiga fakultas yang ada di Kinderuni, yakni humaniora, pengetahuan alam, serta teknik, dengan materi ajar yang diajarkan secara cuma-cuma. Peserta bisa belajar dari sketsa pembelajaran, skrip, lembar kerja dengan permainan hingga materi-materi eksperimen. Terdapat 30 video dan lebih dari 360 tugas interaktif pada laman Kinderuni yang dapat diakses oleh para mahasiswa cilik, baik di sekolah maupun di rumah. Para guru dan orangtua juga dapat mengakses Kinderuni untuk membantu melakukan berbagai aktivitas bersama siswa atau anak mereka.

Seluruh sesi perkuliahan dipandu karakter profesor Einstein, asistennya Sophie Schlau, serta robot drone bernama JOWO yang menjelaskan sejumlah fenomena ilmu pengetahuan alam dalam bentuk permainan yang mudah dipahami anak-anak. Video perkuliahan akan disampaikan dalam bahasa Indonesia dengan takarir bahasa Jerman. Topik yang dibahas dan diajarkan di Kinderuni merupakan topik yang linier dengan rasa ingin tahu anak-anak, misalnya, mengapa kunang-kunang bersinar dalam gelap atau bagaimana seorang tunanetra benar-benar dapat membaca dengan menggunakan tangan mereka.

Goethe-Institut-2.jpgMahasiswa Kinderuni sedang menyaksikan konten video pada Platform Kinderuni (Foto: Goethe-Institut)

Konsultan Ahli Bidang Pengajaran Bahasa Jerman Goethe-Institut Indonesien Antje Nehls mengatakan bahwa ilmu pengajaran modern telah membuktikan bahwa belajar bahasa akan lebih menarik dan mudah jika dipelajari dengan bantuan dari metode CLIL (Content and Language Integrated Learning). “Di Kinderuni, anak-anak tidak dituntut menghafal rumus-rumus rumit. Sebaliknya mereka dapat menjelajahi berbagai topik dan belajar menemukan jawaban sendiri sambil berkenalan dengan bahasa Jerman melalui cara menyenangkan. Semakin dini seseorang mulai belajar bahasa lain, akan semakin tinggi kemungkinannya untuk kemudian mampu mempelajari lebih banyak bahasa asing,” ujar Antje.

Dengan akses daring yang diusung Kinderuni, setiap anak yang berada di pelosok negeri sekalipun mendapat kesempatan untuk membangun ketertarikannya pada ilmu pengetahuan. Di negara Jerman universitas anak-anak sangat populer, hampir setiap perguruan tinggi Jerman terdapat satuan-satuan pengajaran yang dipimpin oleh profesor-profesor mahsyur untuk siswa berumur 8 hingga 12 tahun.

Kepala Sekolah SDIT Bait Adzkia Islamic School sekaligus guru bahasa Jerman Rr. Dyah Anggoro Ratri menuturkan, ia sudah lama ingin ada materi ajar bahasa Jerman dengan cara menyenangkan untuk anak-anak. “Saya langsung berpikir bahwa Kinderuni bisa diterapkan di kelas. Ada juga beberapa metode belajar baru untuk menghafal kosakata yang ditawarkan Kinderuni,” ucapnya. 

Sementara itu, Ratu Kalyca (12) dan Muhammad Mushaff (11), siswa kelas 6 di SD Islam Al Azhar 46 GDC  mengatakan bahwa konten video dan eksperimen yang ada pada platform Kinderuni baru, menyenangkan dan mudah untuk dimengeri untuk mereka yang baru belajar bahasa Jerman.

Wah sangat menarik jika anak berumur belia sudah dikenalkan dengan bahasa asing, seperti bahasa Jerman. Banyak skill yang bisa dilatih jika belajar bahasa asing sejak dini, tentunya ini merupakan langkah baik untuk dunia pendidikan Indonesia. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES