Pendidikan

Mendongeng Tingkatkan Kecerdasan Sosial hingga Moral pada Anak

Minggu, 08 Oktober 2023 - 08:12 | 48.20k
Ilustrasi buku dongeng anak. (FOTO: Tangkapan Layar)
Ilustrasi buku dongeng anak. (FOTO: Tangkapan Layar)

TIMESINDONESIA, MALANG – Kebiasaan mendongeng kepada anak bisa meningkatkan kecerdasan sosial anak.

Hal ini disampaikan oleh Dina Nastiti, S.Psi., M.Psi. seorang penulis, pendongeng, dan psikolog pendidikan dalam webinar yang digelar Golden Kids, toko sekaligus penerbit buku khusus anak-anak.

Dalam webinar dengan tema "Meningkatkan Kecerdasan Sosial Anak melalui Dongeng" pada Sabtu (30/9/2023), Dina memaparkan berbagai kasus tentang masalah moral pada anak-anak, contohnya seperti perundungan dan kekerasan, padahal usia mereka masih sangat belia.

Menurutnya supaya anak-anak terhindar dari kasus kekerasan tersebut, baik sebagai pelaku maupun korban, dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kecerdasan sosial dan mematangkan perkembangan moral pada anak-anak. 

Namun dewasa ini, dalam menerapkan cara tersebut juga memiliki tantangan tersendiri. Hal ini dikarenakan perkembangan teknologi yang semakin canggih dan penyebaran informasi yang begitu cepat, menjadikan orang tua kewalahan dalam mendidik anak.

Terlebih lagi saat ini banyak orang tua yang memberikan gawai kepada anak sejak mereka masih balita. Hal itu bisa menyebabkan perkembangan sosial dan moral anak belum matang, hingga muncul kasus kekerasan di lingkungan anak-anak.

Dina mengutip pernyataan Daniel Goleman (2006) yang menyebutkan,  kecerdasan sosial adalah sebuah kemampuan untuk memahami dan berinteraksi sosial dengan orang lain. Kecerdasan sosial ini memiliki dua komponen besar, yaitu kesadaran sosial (social self awareness) dan kemampuan manajemen hubungan.

“Kesadaran sosial adalah kemampuan seseorang membangun empati dan mengembangkan kognisi sosial,” kata Dina.

Kognisi sosial adalah cara seseorang dalam menganalisis, mengingat, dan menggunakan informasi tentang peristiwa sosial yang disimpan dalam otak. Informasi tersebut nantinya digunakan kembali ketika ia menghadapi peristiwa sosial yang mirip dengan pengalaman sebelumnya. Sementara manajemen hubungan berkaitan dengan cara seseorang dalam mengatur emosi orang lain, mengelola kelompok dengan beragam karakter berbeda, serta menegosiasikan solusi. 

Menurut teori Lawrence Kohlberg, tahap perkembangan moral individu ada enam, yaitu sebagai berikut:

1. Punishment and obedience stage

Tahap ini terjadi saat usia balita hingga awal sekolah dasar. Pada tahap ini anak akan belajar mengenal hukuman dan kepatuhan. Jika anak patuh maka akan mendapat hadiah dari orang tua. Begitu juga sebaliknya, bila anak tidak patuh maka ia akan mendapat hukuman. 

2. Exchange stage (stage of ego)

Pada tahap ini anak akan belajar mengenai ego, bahwa tidak semua keinginannya bisa terpenuhi. Tahap ini biasanya dialami ketika anak memasuki usia Taman Kanak-Kanak (TK). 

3. Good boy or girl stage

Pada tahap ini anak mulai memahami yang mana anak baik dan tidak baik. Mereka juga mulai belajar bagaimana cara menjadi anak yang baik. Mereka mempelajari hal tersebut dari lingkungan tempat mereka tumbuh. Tahap ini terjadi pada anak ketika mereka duduk di bangku sekolah dasar.

4. Stage of law and order

“Memasuki usia remaja, anak belajar adanya hukum yang mengatur manusia,” kata psikolog tersebut. Hukum tidak hanya mengatur lingkungan sekitar tempat tinggal anak dan sekolah, tetapi juga lingkungan desa, kota, hingga negara. Pada tahap ini anak mulai paham bahwa jika melakukan tindakan yang melanggar hukum maka akan ditindak oleh polisi. Selain itu, anak juga mulai paham jika melakukan kejahatan, anak harus memikirkan dampak apa yang terjadi pada orang lain.

5. Stage of social contract

Tahap ini terjadi saat seseorang berada di masa remaja akhir. Pada tahap ini perbuatan moral individu didasarkan atas akal budi, bukan emosi.

6. Stage of universal principles

Tahap ini terjadi saat seseorang di usia dewasa. Pada tahap ini perilaku sosial seseorang didasarkan atas prinsip-prinsip moral pribadi yang sesuai dengan hukum universal.

“Mengajarkan nilai moral kepada anak tidak bisa hanya dengan mengerjakan latihan soal, les, atau pembelajaran sosial di kelas. Salah satu caranya adalah dengan mendongeng,” kata psikolog sekaligus pendongeng tersebut.

Menurutnya, dongeng adalah cara paling efektif dan mudah  untuk menanamkan nilai empati, kesetiakawanan, sopan santun, serta mengasah kecerdasan sosial dan moral pada anak. Dengan mendongeng nilai-nilai tersebut dapat tersampaikan kepada anak bahkan akan diingat oleh anak hingga ia dewasa. 

Tidak hanya itu, mendongeng juga memiliki manfaat lain bagi anak, diantaranya sebagai berikut:

  1. Mengembangkan daya imajinasi anak

  2. Membantu anak mengekspresikan diri dengan cara mengidentifikasi tokoh

  3. Mendidik anak tanpa menggurui

  4. Menstimulasi perkembangan bahasa dan menambah kosakata anak

  5. Mengembangkan kecerdasan sosial anak

Mengingat banyaknya manfaat mendongeng bagi anak, pada webinar kali ini Dina juga berbagi tips mendongeng supaya anak tertarik dan tidak mudah bosan. Berikut ini tips mendongeng dari narasumber:

  • Orang tua harus memahami isi cerita dan menemukan poin penting cerita sebelum menceritakannya kepada anak

  • Pendongeng atau orang tua harus menggunakan intonasi yang menarik supaya anak tidak bosan

  • Pilihlah buku yang sesuai dengan usia anak, misalnya untuk anak balita pilihlah buku cerita bergambar

  • Mengajak anak memilih buku cerita dan biarkan mereka memilih buku sesuai keinginan mereka

  • Fokuskan interaksi dengan anak bukan dengan buku

Begitu dahsyatnya manfaat mendongeng bagi kecerdasan sosial dan moral anak, seharusnya menjadi perhatian serius bagi orang tua. Perkembangan sosial dan moral harus berjalan beriringan supaya anak terhindar dari tindak kekerasan. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES