Pendidikan

Madrasah di Era Digital: Transformasi Menuju Pendidikan Holistik dan Adaptif

Jumat, 27 Oktober 2023 - 06:49 | 79.12k
Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas dalam acara Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) di Rembang, Jawa Tengah, Kamis (26/10/2023). (Foto: Kemenag for TIMES Indonesia).
Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas dalam acara Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) di Rembang, Jawa Tengah, Kamis (26/10/2023). (Foto: Kemenag for TIMES Indonesia).

TIMESINDONESIA, REMBANG – Dalam lautan perubahan yang dipicu laju pesat teknologi digital, madrasah ditantang untuk melakukan transformasi. Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, menyuarakan hal ini dengan penuh semangat dan visi jelas dalam acara Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) di Rembang, Jawa Tengah, Kamis (26/10/2023).

Dalam diskusi yang hangat dan penuh insight itu, Menag Gus Yaqut mengungkapkan bahwa madrasah harus bergerak dinamis, mengimbangi perkembangan zaman dengan adaptasi teknologi digital dalam kurikulum dan metode pengajarannya.

"Madrasah sebagai lembaga pendidikan berbasis agama harus memiliki visi yang luas, tidak hanya terfokus pada pengajaran keilmuan agama, tetapi juga memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan kognitif, spiritual, estetika, dan fisik," ucap Menag.

Konsep ini diperkenalkan sebagai empat dimensi madrasah yang harus dikembangkan untuk mencetak generasi muda yang tangguh, cerdas, dan berakhlak mulia.

Apa saja empat domensi itu? Ketum PP GP Ansor ini mengatakan, keempat dimensi itu adalah dimensi kognitif, spiritual, seketika, dan fisik.

"Dimensi koginitif mencakup penerapan metode pengajaran yang inovatif dan efektif," jelas Menag.

Ia lantas memberikan contoh metode ‘Gasing’ dalam pengajaran Matematika, yang menekankan pada pemahaman konsep dan logika daripada menghafal rumus.

"Ini merupakan salah satu bentuk adaptasi madrasah terhadap kebutuhan siswa di era modern, dengan memanfaatkan teknologi digital untuk membuat proses belajar mengajar menjadi lebih menarik dan efektif," jelasnya.

Lalu, dimensi spiritual dan estetika mencerminkan pembinaan karakter dan nilai-nilai keagamaan yang tetap kokoh, serta apresiasi terhadap seni dan keindahan.

"Madrasah harus menjadi tempat di mana siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan kecerdasan emosional dan spiritual. Keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai spiritual dianggap sebagai kunci untuk membentuk individu yang utuh dan berkontribusi positif terhadap masyarakat," paparnya.

Dimensi keempat, yakni dimensi fisik, menekankan pada pentingnya kesejahteraan dan kebugaran fisik siswa. "Madrasah harus kuat dan sehat, mampu menjaga keseimbangan antara kegiatan akademik dan fisik, agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal," jelasnya.

Dalam acara tersebut, Menag Yaqut juga menyampaikan apresiasi dan penghargaan terhadap madrasah-madrasah yang telah menunjukkan prestasi dan kualitas yang membanggakan. Madrasah tidak lagi dipandang sebelah mata, tetapi telah menjadi institusi pendidikan yang mampu bersaing dengan sekolah-sekolah lainnya, bahkan mencapai ranking teratas sebagai lembaga pendidikan terbaik di Indonesia.

Menag mengajak semua pihak, khususnya guru dan kepala madrasah, untuk terus berinovasi dan berkomitmen dalam menyajikan pendidikan yang berkualitas, relevan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman, serta mampu menjawab tantangan masa depan.

Harapannya, madrasah dapat terus tumbuh dan berkembang menjadi lembaga pendidikan yang unggul, adaptif, dan berkontribusi aktif dalam pembentukan karakter generasi muda Indonesia yang cerdas dan berakhlak mulia. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Imam Kusnin Ahmad
Publisher : Rifky Rezfany

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES