Harus Ada Komitmen Bersama Tanamkan Toleransi di Sekolah
Kekerasan pada anak terus terjadi dan semakin mengkhawatirkan. Pasalnya, kini bullying mulai marak di lingkungan sekolah. ...

BONDOWOSO – Kekerasan pada anak terus terjadi dan semakin mengkhawatirkan. Pasalnya, kini bullying mulai marak di lingkungan sekolah.
Kurangnya pemahaman toleransi antar sesama dapat menjadi penyebab. Maka tidak heran sering terjadi bullying, kekerasan antar pelajar hingga perlakuan tidak adil.
Hal itu diungkapkan oleh guru di Bondowoso, Sudaryono, dalam Diklat Wawasan Kebhinekaan Global (WKG) diselenggarakan oleh LPTK Universitas Negeri Malang, Prodi Pemasaran pada Pendidikan Profesi Guru.
Pria kelahiran 1976 ini mengungkapkan, harus ada komitmen mengajarkan nilai toleransi antar sesama di lingkungan sekolah.
Wawasan Kebhinekaan Global titik tekannya adalah penerimaan dan menghargai keanekaragaman budaya, agama, bahasa, dan nilai-nilai yang ada di seluruh dunia.
Menurutnya, hal itu harus dibarengi dengan kesadaran kemajemukan masyarakat, serta menghargai perbedaan sebagai sumber kekayaan dan kekuatan.
"Kebhinekaan global juga melibatkan kemampuan untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan bekerja sama dengan orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda," jelas dia.
Menurutnya, terdapat lima poin penting dalam Wawasan. Yakni dunia yang Berwarna, Negeri penuh Harmoni, Damai Dimulai dari Diri, Sekolahku yang Bhineka dan Sekolahku yang Damai.
Dia berharap dengan adanya wawasan ini, warga sekolah memiliki kemampuan berinteraksi dan bekerja sama dengan individu dari berbagai latar belakang budaya.
"Tentu ini juga untuk mendorong kesadaran akan pentingnya toleransi dan penerimaan terhadap perbedaan sebagai fondasi penting dalam membangun perdamaian dan stabilitas global," jelas dia.
Dia juga memaparkan, Indonesia merupakan salah satu bukti nyata dari negara yang memancarkan harmoni dalam kebhinekaan global.
Sebab Indonesia lanjut dia, dikenal dengan banyak agama, budaya, etnis dan bahasa yang beragam.
Di tengah keragaman ini, bisa ditemukan suasana toleran dan kesatuan yang saling mensupport. Bahkan Indonesia menjadi teladan dari harmoni dalam kebhinekaan global.
"Masyarakat yang berbeda-beda suku dan budaya dapat hidup bersama dengan damai, saling menghormati, dan bekerja sama untuk membangun masa depan yang lebih baik," jelas dia.
Menurutnya, semangat inilah yang harus terus ditanamkan di sekolah dan di lingkungan keluarga.
"Ini juga yang sedang kami gelorakan di tempat saya mengajar," jelas dia saat dikonfirmasi, Senin (30/10/2023).
Salah satu yang menjadi titik tekan di sekolah adalah agar tidak terjadi diskriminasi terhadap siswi. Baik kekerasan fisik dan mental. Termasuk juga bullying.
"Sebab sekolah adalah miniatur kehidupan sosial yang lebih luas. Jika di sekolah sudah punya jiwa toleransi maka di masyarakat juga akan memiliki jiwa sama," jelas dia. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


