Pendidikan

Dinkes dan Dispendik, Bersinergi Cegah Tren Self-Harm Remaja di Kabupaten Lumajang

Jumat, 17 November 2023 - 17:51 | 49.32k
Ratusan siswa dihadirkan dalam upaya pencegahan kurang gizi dan self-harm di Taman KWT (Kawasan Wonorejo Terpadu). (FOTO: Efendi for TIMES Indonesia)
Ratusan siswa dihadirkan dalam upaya pencegahan kurang gizi dan self-harm di Taman KWT (Kawasan Wonorejo Terpadu). (FOTO: Efendi for TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, LUMAJANG – Dalam menghadapi tren self-harm yang semakin meningkat di kalangan remaja, Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang bergandengan tangan melakukan upaya pencegahan yang lebih efektif. Acara tersebut digelar di Taman KWT (Kawasan Wonorejo Terpadu), Jumat (17/11/2023). 

Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2017, angka self-harm pada usia 13-17 tahun mencapai 20,21%. Kolaborasi ini diharapkan dapat mengurangi angka tersebut di wilayah Kabupaten Lumajang.

Kepala Dinas Kesehatan, dr. Rosidah, mengungkapkan jika remaja perempuan di Indonesia mendominasi kasus self-harm, mencapai 93% dari total kasus.

Literasi pendidikan kesehatan di sekolah menjadi kunci utama dalam menghindari masalah kesehatan yang berpotensi merugikan.

"Tantangan yang dihadapi remaja sangat beragam, mulai dari permasalahan gizi hingga masalah mental seperti self-harm," ujar Rosidah, Jumat (17/11/2023).

Dalam rangka pencegahan, Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang menginisiasi gerakan 'Serentak Aksi Bergizi' yang diharapkan dapat merambah setiap lembaga pendidikan.

Dewi Asmawati, Bagian Klinis Psikologi RS dr. Haryoto Lumajang, menegaskan pentingnya mengidentifikasi penyebab self-harm dan menindaklanjuti sesuai kebutuhan.

Meskipun data kasus self-harm mulai dari SD hingga SMA masih sulit diakses, rumah sakit tersebut telah menangani beberapa kasus remaja.

"Data pastinya saya tidak bisa mengeluarkan, setau saya memang ada beberapa anak-anak usia sekolah SMP dan SMA yang sudah melakukan self-harm," ujar Dewi.

Dalam konteks pencegahan, peran keluarga dianggap kunci. Ia menyarankan agar keluarga peka terhadap perubahan sikap dan perilaku anak-anak, serta melakukan pendekatan komunikasi ketika ada perubahan mencurigakan.

"Jika tidak perubahan, ada upaya cepat melakukan konsultasi psikologi," tambahnya.

Harapannya, kolaborasi antara instansi terkait dan peran aktif keluarga dapat menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental remaja di Kabupaten Lumajang. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Muhammad Iqbal
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES