Pendidikan

Unisma Beri Gelar Profesor Kehormatan Kepada Ali Masykur Musa

Sabtu, 18 November 2023 - 18:12 | 43.48k
Acara pengukuhan guru besar kehormatan Unisma pada Sabtu (18/11/2023). (Foto: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)
Acara pengukuhan guru besar kehormatan Unisma pada Sabtu (18/11/2023). (Foto: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Universitas Islam Malang (Unisma) secara resmi memberikan gelar Profesor Kehormatan (HC) Unisma di bidang Politik Pendidikan Islam kepada Dr. H. Ali Maskur, SH., M.Si., M.Hum pada Sabtu (18/11/2023).

Acara pengukuhan berlangsung di Gedung Pascasarjana lantai 7 Unisma, dan dihadiri beberapa pejabat penting.  Seperti Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto, GubernurJawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dan beberapa pejabat lainya.

Rektor Unisma,  Prof. Dr. H. Maskuri MSi mengatakan, Unisma memberikan gelar profesor kehormatan kepada Ali Masykur Musa karena dia dianggap punya kiprah yang luas di dunia pendidikan dan juga karir.

"Kiprah dan karir yang dijalani beliau sangat kompleks, mulai sebagai pendidik, intelektual muslim, organisatoris di PMII dan NU, politikus, negarawan atau teknokrat, kiprah di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), komisaris BUMN hingga menjadi Kiai, yang berimplikasi pada tata kehidupan manusia dalam beragama, berbangsa dan bernegara," ucapnya.

Ali Masykur Musa juga disebut mempunyai segudang karya dalam berbagai bentuk. Mulai dari buku, artikel pada jurnal, opini yang berkaitan dengan konstitusi, demokrasi, politik, kebijakan anggaran, nasionalisme, keislaman, pendidikan Islam, masalah etika dan keorganisasian telah banyak dihasilkan.

"Kegiatan beliau dalam seminar, simposium, workshop, diklat, FGD dan menjadi narasumber di berbagai even nasional dan internasional menjadikan beliau pantas menerima anugerah Guru Besar Kehormatan di Universitas Islam Malang," terang Rektor.

Prof Maskuri menambah, Prof. Ali Maskur ditetapkan sebagai guru besar politik pendidikan Islam. Hal ini menjadi penting, karena kehadiran agama diletakkan dalam beberapa esensi kehidupan. Pertama, salah satu esensinya  untuk menjaga martabat manusia sebagai makhluk mulia, karena setiap agama membawa misi perdamaian. Kedua, manusia lahir bersuku-suku, berbangsa-bangsa, dengan latar belakang etnis, suku, budaya, bahasa,  dan agama yang berbeda-beda. Dan ketiga, mendudukkan Islam rahmatan lil’alamien diperlukan sebagai strategi kebudayaan dalam merawat  kebhinekaan.

Dia menerangkan, di era Revolusi Industri 4.0 saat ini yang dicirikan dengan cyber physical system, internet of thing (IoT) dan smart technology, berimplikasi terjadinya transformasi di berbagai sektor membawa implikasi adanya disrupsi. Tergantikannya manusia oleh automasi dan digitalisasi, dengan berkurangnya interaksi sosial dan kepedulian, kecenderungan individualis, hedonis, budaya kekerasan, hilangnya empati dan akulturasi budaya yang tidak sesuai dengan norma serta nilai luhur bangsa.

"Maka, kehadliran nilai-nilai agama dan kemanusiaan yang telah terumuskan dalam Pancasila menjadi sangat dibutuhkan di tengah masyarakat plural dan multikultural dengan kompleksitasnya," terangnya.

Rektor Unisma memaparkan data dari Varkey Foundation, Global Citizen, yang menunjukkan bahwa 93 persen generasi Z (usia 18-22 tahun) di Indonesia menganggap bahwa agama menjadi salah satu faktor penting kebahagiaan, disusul oleh negara Nigeria, Turki, Afrika Selatan, Brazil dan Tiongkok masing-masing 86%, 71% dan 70%.

"Dalam konteks beragama, Islam memiliki pemeluk terbesar di Indonesia sehingga disebut sebagai mayoritas, sedangkan non muslim terdiri dari Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu dan aliran Kepercayaan memiliki penganut yang lebih kecil sehingga sebagai agama minoritas," tuturnya.

Dia melanjutkan, Istilah mayoritas-minoritas adalah kenyataan sosiologis, bukan yuridis. Secara yuridis, tidak ada dikotomi antara mayoritas-minoritas, sebab Indonesia didirikan untuk semua agama (warga negara), bukan untuk melindungi minoritas atau memenangkan mayoritas.

"Islam secara tegas memerintahkan umatnya untuk berbuat kebaikan kepada seluruh makhluk Allah. Islam mengajarkan untuk berbuat adil, toleran, moderat, mengasihi dan menyayangi seluruh makhluk," kata dia.

Sementara itu hasil survei Alvara Research Center dan Mata Air Foundation menunjukkan bahwa 23,4% responden mahasiswa dan 23,3% pelajar siswa SMA setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam atau khilafah. Sisi lain yang tidak setuju dengan ideologi pancasila, pegawai swasta terdapat 18,1%, PNS 19,4%, dan pegawai BUMN terdapat 9,1%.

"Bila dilihat dari data hasil survei ini, negara kita perlu waspada dan sangat membahayakan dalam konteks berbangsa dan bernegara di Indonesia, karena perilaku kekerasaan yang mengatasnamakan agama atau khilafah diawali dari cara berfikir tentang konsep bernegara yang menginginkan negara berdasarkan syaria’t Islam," ujar Prof Maskuri.

"Negara Indonesia tidak berasaskan syariat Islam akan tetapi berasaskan pancasila, tertanam secara mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia," pungkas Rektor Unisma. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES